Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image syifa zahra salsabila

Dandangan, Ruang Jeda Warga Kudus Menjelang Ramadan

Culture | 2026-01-05 10:21:43

Dandangan akan kembali digelar di kawasan pusat Kota Kudus menjelang bulan Ramadan. Tradisi tahunan ini dipadati warga sejak sore hingga malam hari, baik untuk menikmati kuliner, berjalan-jalan, maupun sekadar merasakan suasana khas yang menjadi penanda datangnya bulan puasa.

Tidak semua orang datang ke Dandangan untuk berbelanja atau mencoba wahana permainan. Sebagian hanya ingin berjalan pelan di tengah keramaian, mengamati lapak yang menyala, mencium aroma jajanan, dan merasakan suasana yang hanya muncul setahun sekali. Suasana yang diam-diam memberi tanda: Ramadan sudah dekat.

Dokumentasi Pribadi (Syifa Zahra Salsabila)

Menjelang malam, kawasan pusat Kota Kudus mulai dipenuhi orang. Lampu-lampu pedagang menyala satu per satu, suara langkah kaki bercampur dengan obrolan ringan para pengunjung. Dandangan kembali hadir, tanpa perlu pengumuman resmi. Warga sudah hafal waktunya.

Dandangan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kudus. Ia bukan sekadar pasar malam, melainkan ruang singgah menjelang bulan suci. Di sini, orang datang bersama keluarga, teman, atau bahkan sendirian sekadar menikmati waktu sebelum ritme hidup berubah saat Ramadan tiba.

Bagi sebagian orang, Dandangan menyimpan kenangan. Syafira Aini (26) mengaku sudah mengenal tradisi ini sejak kecil. Ia terbiasa datang bersama orang tuanya setiap menjelang puasa. “Kalau tidak ada Dandangan, rasanya seperti ada yang kurang,” ujarnya pelan. Bukan karena harus membeli sesuatu, tetapi karena kebiasaan itu sendiri telah menjadi bagian dari menyambut Ramadan.

Setiap tahun, pengalaman di Dandangan terasa berbeda. Lapak makanan terus berganti, jajanan baru bermunculan, dan pengunjung datang dengan cerita masing-masing. Bagi Syafira, kuliner menjadi daya tarik utama. “Setiap tahun selalu ada makanan baru. Jadi meskipun acaranya sama, rasanya tetap ada yang ditunggu,” katanya.

Dokumentasi Pribadi (Syifa Zahra Salsabila)

Deretan pedagang makanan, mainan, dan pernak-pernik memenuhi sepanjang area. Pengunjung berjalan berdesakan, namun tak terburu-buru. Ada yang berhenti untuk membeli jajanan, ada pula yang hanya berjalan sambil berbincang. Di tengah keramaian itu, suasana justru terasa hangat.

Bagi warga Kudus, Dandangan menjadi semacam jeda. Ruang untuk berkumpul, berbagi tawa, dan menghabiskan waktu bersama sebelum memasuki bulan yang lebih tenang dan khusyuk. Tidak ada keharusan untuk membeli atau mengikuti apa pun. Hadir saja sudah cukup.

Ketika malam semakin larut dan lapak-lapak mulai bersiap tutup, Dandangan perlahan mereda. Namun maknanya tetap tinggal. Ia menjadi pengingat tahunan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang menyiapkan diri, pelan-pelan, bersama-sama.

Syifa Zahra Salsabila, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image