Menata Ulang Niat: Refleksi Tahun Baru Penghafal Al-Qur'an
Agama | 2025-12-31 17:48:47Di luar sana, mungkin orang-orang sedang ramai bakar-bakaran, sibuk merayakan langit yang penuh kembang api. Suaranya sesekali menembus tembok pesantren, membawa kabar tentang dunia yang sedang berganti angka. Namun di sini, di aula dan serambi masjid yang lantainya dingin, suasana justru hangat oleh sahut-menyahut lantunan hafalan.
Tahun baru di pondok bukan soal pesta, melainkan soal transisi antara suara bel bangun subuh yang satu ke bel subuh berikutnya. Di tengah riuh rendah suara kawan-kawan yang sedang nderes, ada perasaan tenang dan sendu yang tersimpan, namun terselip sebuah kegelisahan yang patut direnungkan bersama: Sejauh mana proses ini benar-benar memberikan pertumbuhan jiwa, ataukah kita hanya terjebak dalam putaran rutinitas.
Hafalan yang Tidak Boleh Membeku
Menjadi santri hari ini adalah tentang berdiri di ambang dua dunia yang saling tarik-menarik. Kita dituntut menjaga tradisi ulama salaf yang sakral—sebuah peradaban berbasis teks dan sanad—sementara dari celah jendela asrama, kita melihat dunia luar berlari secepat kilat dengan segala teknologi dan trennya. Hasilnya muncul risiko yang tak disadari, terkadang rutinitas pondok yang serba teratur pelan-pelan membuat kita terjebak dalam rutinitas teknis. Seolah-olah menjadi penghafal sampai melekat di luar kepala adalah tentang memenuhi target angka, tapi sering kali kita lupa bertanya: Bagaimana ayat-ayat ini bisa mengubah cara kita memandang manusia?
Menata ulang niat di tahun yang baru bukanlah ambisi yang muluk. Hanya sekelumit kegelisahan yang membuat saya tersentak; hafalan yang sudah susah payah memperoleh ini sebenarnya mau dijadikan apa? Apakah sekedar hiasan di belakang nama?Istiqamah muraja'ah untuk menjaga kalam Allah itu wajib, akan tetapi menghidupkan nalar di balik hafalan itu adalah jihad intelektual yang jauh lebih mendasar. Kita tidak boleh membiarkan kesucian ayat-ayat ini membeku menjadi sekedar mekanisme hafalan, melainkan harus memastikan bahwa cara berpikir kita benar-benar sejalan dengan ajaran Al-Qur'an.
Muraja'ah: Merawat Kesetiaan dan Amanah
Teringat sebuah pesan Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang sangat masyhur:
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصُّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
“Jagalah Al-Qur'an (dengan terus membacanya). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur'an itu lebih cepat lepasnya daripada lepas dari ikatannya.” (HR. Bukhari no. 5033 dan Muslim no. 791).
Muraja'ah tidak boleh lagi dikerdilkan maknanya sebatas mengulangi membaca demi kelancaran presentasi di hadapan kiai. Lebih dari itu, ia adalah sebuah manifestasi kesetiaan—upaya sadar untuk terus 'mengikat' titipan Tuhan di tengah derasnya arus gangguan zaman. Jika kita tidak mampu menjaga apa yang sudah kita miliki di dalam dada, bagaimana kita bisa memikul tanggung jawab yang lebih besar di masyarakat nanti?
Tadabbur: Menghidupkan Ayat dengan pemahaman
Muncullah sebuah kegelisahan kolektif, jangan-jangan ayat-ayat suci ini hanya mampir di tenggorokan, tanpa pernah benar-benar meresap dan melunakkan hati. Ada ketakutan ketika lisan begitu fasih melafalkan kalam-Nya, namun perilaku masih jauh dari pancaran kesucian ayat tersebut. Hal ini seakan menjadi pengingat yang tajam melalui teguran halus namun mendalam, dalam Al-Qur'an bagi siapa saja yang membaca tanpa sempat menghayati maknanya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad : 24).
Ayat ini adalah hasil bagi kita sebagai santri. Hafalan tanpa tadabbur (perenungan) berisiko membuat hati kita terkunci dalam keangkuhan intelektual. Inilah titik tolak untuk menghidupkan kembali nalar di balik setiap ayat. Gagasan ini menemukan sandaran yang kokoh dalam lembar-lembar kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, beliau memberikan sebuah timbangan yang sangat dalam bagi kita semua:
تلاوة الْآيَةِ بِتَدَبُّرٍ وَتَفَهُّمٍ خَيْرٌ مِنْ خَتْمَةٍ بِغَيْرِ فَهْمٍ وَتَدَبُّرٍ
“Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman, jauh lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur'an tanpa pemahaman dan perenungan.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 1).
Dawuh beliau seakan-akan membisikkan bahwa kualitas kehadiran hati jauh lebih berharga daripada kuantitas lembaran yang terbaca. Sebab, tradisi ulama kita tidak pernah memisahkan antara teks dan konteks, antara hafalan lisan dan pemahaman hati. Karena pemahaman makna merupakan instrumen untuk memastikan bahwa Al-Qur'an benar-benar menjadi kompas yang hidup, bukan sekadar simpanan dalam memori.
Menuju Kesadaran Baru
Tahun baru seharusnya menjadi momentum bagi setiap santri untuk beralih menjadi pribadi yang lebih 'sadar'. Bukan lagi taat hanya karena takut memerintah pesantren, tapi taat karena paham makna di balik ketaatan tersebut. Segala keletihan fisik mulai dari antrean panjang yang menguji kesabaran, hingga kantuk yang menyerang di setoran hafalan pagi, tidak boleh menguap sia-sia; semuanya harus menjadi energi yang bermakna.
Besok pagi, bel subuh akan kembali berbunyi. Kehidupan pesantren akan berjalan seperti biasa, seolah-olah tanggal di kalender tidak pernah berganti. Namun, langkah yang diambil mulai esok harus dilandasi niat yang lebih matang. Sudah saatnya berhenti terjebak pada angka-angka hafalan, dan mulai fokus pada kualitas hubungan spiritual dengan Sang Pemilik Kalam.
Pada akhirnya, di balik tembok pondok ini, kita sedang menyiapkan diri bukan hanya untuk menjadi tokoh yang hebat di atas panggung, tapi untuk menjadi manusia yang bermanfaat di akar rumput. Menutup tahun ini, saya memilih untuk menutup mushaf sejenak, mengambil napas panjang di bawah langit pesantren yang tenang, dan berbisik pada diri sendiri
“Selamat berjuang kembali, di jalan sunyi yang penuh arti. Karena menjaga hafalan adalah menjaga amanah, dan menghidupkan nalar adalah menjaga martabat kemanusiaan.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
