Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Aqil Rabbani

Menjadi Penjaga Nalar: Peran Mahasiswa di Tengah Rimba Informasi Digital

Culture | 2025-12-31 01:34:48

Dulu, tantangan terbesar seorang mahasiswa dalam mencari pengetahuan adalah keterbatasan akses. Kita harus mengantre di perpustakaan, memfotokopi tumpukan diktat, atau menunggu jurnal fisik tiba dari luar negeri. Hari ini, kondisinya berbalik 180 derajat. Tantangan utama mahasiswa masa kini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kelimpahan informasi yang menyesatkan. Kita tidak lagi berada di gurun pasir yang kering, melainkan di tengah samudera data yang bergejolak, di mana batasan antara kebenaran ilmiah yang teruji dan propaganda algoritma yang dipersonalisasi menjadi semakin kabur dan sulit dikenali.

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Charlotte May)

Di era digital ini, mahasiswa memikul peran yang jauh lebih berat daripada sekadar menjadi konsumen konten pasif. Mereka adalah garda depan intelektual yang seharusnya menjadi "penyaring" (filter) bagi masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki waktu atau perangkat analisis kritis untuk memilah fakta. Namun, realitasnya tidak selalu ideal. Sering kali, mahasiswa sendiri terjebak dalam ruang gema (echo chamber) digital. Di sini, algoritma media sosial bekerja secara presisi menggunakan data perilaku kita untuk hanya menyuguhkan informasi yang memperkuat bias pribadi, ketakutan, dan prasangka kita sebelumnya. Dampaknya fatal: nalar kritis yang seharusnya menjadi ciri khas kaum intelektual perlahan mati, digantikan oleh konformitas digital yang semu di mana kebenaran dianggap sebagai apa pun yang paling sering muncul di beranda kita.

Melampaui Klik dan Bagikan: Tantangan Kedewasaan Kognitif

Mahasiswa hari ini sering dijuluki sebagai digital natives, namun kecakapan mengoperasikan gawai canggih tidak serta-merta berarti memiliki literasi informasi yang mumpuni. Ada jurang yang lebar antara kemahiran teknis seperti mengedit video atau menavigasi aplikasi dengan kematangan kognitif untuk membedah argumen. Peran krusial mahasiswa saat ini adalah mempraktikkan "skeptisisme yang sehat" di setiap langkah aktivitas digital mereka. Sebelum menekan tombol share pada sebuah isu yang sedang viral atau memicu emosi, seorang mahasiswa dituntut untuk melakukan verifikasi silang, melacak sumber orisinal, dan mempertanyakan motif ekonomi atau politik di balik penyebaran informasi tersebut. Persoalannya, arus informasi bergerak lebih cepat daripada proses sinapsis berpikir manusia yang membutuhkan refleksi. Budaya "kecepatan di atas ketepatan" telah merusak standar intelektual kita. Godaan untuk menjadi yang pertama memberikan komentar, mendapatkan afirmasi berupa likes, atau membagikan berita bombastis sering kali mengalahkan kebutuhan esensial untuk memeriksa validitas sumber. Budaya instan ini menciptakan risiko besar bagi integritas intelektual individu. Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai studi perilaku informasi, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi agen penyebar misinformasi yang memperkeruh suasana publik. "Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, melainkan tentang kesadaran kritis dalam mengevaluasi otoritas, kredibilitas, dan objektivitas sebuah informasi di tengah kekacauan disorder informasi yang sengaja diciptakan," (Pratama & Sholikhah, 2023).

Mahasiswa sebagai "Penerjemah" Kebenaran dan Benteng Etika AI

Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi oleh hoaks, disinformasi, dan narasi kebencian yang terorganisir, mahasiswa harus mengambil peran sebagai mediator atau penerjemah informasi yang objektif. Mahasiswa memiliki privilese luar biasa berupa akses ke sumber daya akademik yang kredibel seperti jurnal internasional berbayar, laboratorium penelitian, dan forum diskusi dengan para pakar lintas disiplin. Ini adalah kemewahan akses yang tidak dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang berada di garis bawah literasi. Oleh karena itu, mahasiswa seharusnya mampu mengunyah data-data rumit, membedah statistik yang sering kali menyesatkan, atau menjelaskan kebijakan publik yang membingungkan ke dalam bahasa yang sederhana, akurat, dan menenangkan bagi masyarakat awam.

Namun, tantangan baru yang jauh lebih kompleks muncul dengan kehadiran fajar Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Penggunaan alat seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude memberikan kemudahan luar biasa dalam menyusun draf tulisan, merangkum materi kuliah, atau mencari referensi cepat. Namun, kemudahan ini adalah ujian integritas yang nyata. Mahasiswa tidak boleh membiarkan nalar, intuisi, dan orisinalitas berpikir mereka "disubkontrakkan" sepenuhnya kepada mesin. Penggunaan AI tanpa verifikasi manusia yang ketat sering kali menghasilkan "halusinasi informasi" pernyataan yang terlihat sangat ilmiah dan meyakinkan namun sebenarnya kosong, salah, atau bias. Peran mahasiswa adalah menguasai teknologi ini sebagai alat bantu (tools) untuk memperluas cakrawala, bukan menjadi operator pasif yang sekadar melakukan copy-paste tanpa proses pemaknaan dan internalisasi ilmu.

Implikasi Terhadap Demokrasi dan Gerakan Intelektual Publik

Jika mahasiswa sebagai kelompok terdidik gagal menyikapi arus informasi digital ini dengan bijak, dampaknya akan meluas dan merusak tatanan sosial secara permanen. Kita akan melihat degradasi kualitas diskusi publik di mana argumen rasional selalu kalah oleh suara yang paling keras atau narasi yang paling viral meskipun salah. Demokrasi akan melemah karena opini publik tidak lagi dibangun di atas pondasi fakta, melainkan di atas pasir hisap kebohongan yang diamplifikasi oleh pasukan bot dan manipulasi algoritma.

Keberadaan mahasiswa di media sosial seharusnya menjadi oase di tengah gurun hoaks. Mereka bisa memulai gerakan "Literasi dari Bawah", seperti membuat konten edukatif singkat yang meluruskan misinformasi atau sekadar menjadi suara yang tenang dan berwibawa dalam perdebatan digital yang memanas. Tanggung jawab ini bukan hanya tentang menjaga nama baik almamater, tetapi tentang menjaga kesehatan nalar publik Indonesia di masa depan.Menjadi mahasiswa di era digital berarti belajar untuk tetap tenang dan berkepala dingin di tengah kegaduhan dunia maya yang tak berkesudahan. Ini adalah tentang kemampuan untuk berhenti sejenak, menarik napas, berpikir mendalam, dan memverifikasi secara ketat sebelum memberikan reaksi atau penilaian. Di tangan mahasiswalah, rimba digital ini bisa dijinakkan dan diubah dari tempat yang penuh racun serta kebencian menjadi ladang pengetahuan yang subur dan mencerahkan bagi kemajuan bangsa. Tanpa penjaga nalar yang tangguh, kita hanya akan menjadi sekumpulan orang yang berpengetahuan luas namun kehilangan kebijaksanaa.

Dalam konteks ini, mahasiswa harus menjadi contoh nyata dalam etika digital yang berintegritas. Ini berarti menjunjung tinggi hak cipta, menghindari plagiarisme digital yang semakin terselubung, dan memiliki keberanian moral untuk melawan budaya pembatalan (cancel culture) yang sering kali mengabaikan asas praduga tak bersalah. Mahasiswa harus menjadi suara moderat yang mempromosikan dialog berbasis data, bukan emosi yang meledak-ledak.



Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image