Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image riria ansyah

Di Balik Estetika: Suara, Luka, dan Cerita dalam Satra

Sastra | 2025-12-29 21:20:45

Sastra adalah suatu karya dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Sastra dapat diwujudkan dari lisan dan melahirkan sebuah sastra lisan tetapi

dapat pula berbentuk sebuah tulisan dan menghadirkan sebuah sastra tulisan. Sebuah karya sastra yang berupa lisan sering kita temui dalam macam bentuk, entah itu sebuah puisi,

dialog, ataupun lagu yang sering didengar oleh generasi muda sekarang. Semua bentuk karya sastra lisan bisa dikatakan sebagai hasil karya sastra tulisan yang disuarakan.

Sastra itu tidak akan pernah punah, karena sastra adalah suatu bentuk indentitas, sebuah ekspresi dan penghayatan yang digambarkan oleh setiap yang merasakannya. Sastra bukan hanya sekedar kata baku yang tersirat maknanya sehingga terlihat puitis. Sastra bisa didapatkan dari setiap ekspresi yang menggambarkannya, entah itu hanya khayalan atau memang emosial sesungguhnya.

Untuk generasi sekarang fomo dengan kata “teman kopi” yang dapat digambarkan seperti seseorang yang sedang ditemani oleh suara ketikan keybord dan secangkir kopi untuk membantunya menggambarkan penguaraannya. Kata – kata seperti itu bisa dikatakan sebagai kalimat puitis yang sering sekali digunakan oleh generasi sekarang untuk mengungkapkan

perasaan. Bukan karena kestestikaannya, tetapi sang pencipta ingin penggambarannya bisa dirasakan oleh siapa pun itu.

Sastra termasuk karya seni yang paling indah dan paling mudah untuk kita rasakan, karenanya setiap kita berekspresi dengan kata maka itu dapat dikatakan sebuah sastra. Sastra

sebuah salah satu bentuk seni yang bisa kita nikmati dengan mudah. Layaknya hal kecil sperti lagu yang biasa kita dengar untuk menemani sepi hari, atau sebuah drama yang dijadikan

sebagai pilihan untuk berbagai ekspresi dengan orang lain.

Untuk saat ini, sastra dapat membuat kita setertarik itu, memberikan kesan yang sangat mengagumkan, kita bisa mengekspresikan apapun itu menjadi sebuah sastra, tetapi

untuk mengeksprisakan bagaimana indahnya sastra, itu tidak hanya bisa digambarkan dengan kata – kata. Luka seseorang ketika memulai untuk mengapresikan sesuta adalah sebuah

ketakutan ketika orang lain tidak bisa menerima ekspresinya.

Sebuah ketakutan adalah musuh terberat seseorang untuk mengekspresikan seuatu. Takut atas dirinya sendiri, takut atas perhatian seseorang, takut ekspresinya terlalu berlebih, takut orang tidak bisa memahainya, takut semua tidak ada yang benar. Namun, itu bukan hal yang perlu diperhatikan. Tidak akan pernah ada kesalahan selagi kamu menggamarkan suatu sastra. Suatu kesalahan besar yang sering terjadi adalah ketika kamu berbohong dengan apa yang kamu ekspresikan.

Cukup banyak hal yang bisa kita ceritakan tentang sastra. Tentang bagaimana ia bisa terlihat sangat indah, bagaimana ia bisa dirasakan seolah ada, bagaimana ia sangat bermakna dibalik kata – kata yang rangkaiannya tidak beraturan. Bukan tentang hal fomo sastra bisa

dikenali, tetapi sastra memang semenarik itu sehingga seseorang akan melakukan apapun untuk mengetahui apa arti sastra sesungguhnya.

Dari banyaknya hasil karya sastra yang ada, mengapa ada seseorang yang tidak bisa menikmatinya? Bukan karena sastra jelek, tetapi setiap manusia memiliki ekspresinya yang berbeda setiap saat. Tetapi mengapa banyak karya sastrta yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh setiap orang? Karena sang pencipta mengekspresikannya dengan khayalan yang terikat, dengan memeberikan semua emosianalnya kepada karya tanpa ada keraguan tanpa ada celah bohong sekalipun maka sang penikmat mendapati ekspresi yang diberikan oleh pengarang.

Dari banyaknya pengambaran tentang sastra, ternyata dibalik keestetikaaan sastra

banyak sekali cerita, suara, luka, emosianal, keindahan, kenikmatan, pencapaian dan kata – kata yang memiliki makna kagum untuk sebuah sastra. Ekspresikan apa yang kau khayalkan dan yang kau ingin gambarkan secara tulus, maka hasil karya tersebut dapat dinikmati

seindah maknanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image