Tren Mini Drama Cina: Antara Realitas Hidup dengan Validasi Status Sosial
Gaya Hidup | 2025-12-29 10:48:26
Retizen.
Pernahkah Anda melihat sekilas atau bahkan membeli fitur premium untuk menonton mini drama cina? Jika iya, berarti selamat, Anda terhipnotis dengannya.
Saat ini "mini drama cina" atau "micro drama cina" tengah booming di media sosial. Kita lebih sering menontonnya melalui iklan di Instagram, TikTok, atau bahkan cuplikan di Facebook. Sekilas ini masih dimaklumi karena mirip trennya dengan tontonan film, sinema elektronik, atau konten-konten FYP yang setiap hari kita scroll itu. Menariknya, kini hadir tontonan yang secara durasi dan kualitas tayang lebih pendek tetapi popularitasnya melampaui sebuah film yang berdurasi 1-2 jam. Ini menjadi sebuah tren baru yang disukai oleh semua kelompok usia dan gender.
Saya ingat salah satu drama cina yang pertama kali ditonton. Intinya drama tersebut menceritakan tentang seorang pengusaha naga tetapi pura-pura menjadi pemuda yang baru saja ditikung oleh kekasih. Lalu ada pula drama yang menceritakan tentang perjuangan seorang adik perempuan yang disisihkan keluarga karena datangnya saudara tiri di tengah-tengah mereka. Setelah itu ada pula drama yang menceritakan perjuangan seorang dayang yang merebut keadilan dari ratu istana. Kemudian ada pula drama yang menceritakan seorang mantan pebalap yang sempat diremehkan oleh tim pebalap nasional tetapi mempunyai skill tingkat dewa. Lalu ada pula drama yang menceritakan tentang seorang gadis remaja yang ternyata reinkarnasi tokoh terkemuka di masa lalu. Masih banyak drama cina yang menarik untuk ditonton.
Bila dicermati dari sisi sinematografi, produksi mini drama cina sebetulnya bisa dikatakan "kejar tayang". Artinya pihak produser harus berlomba-lomba memproduksi mini drama sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Pemilihan skrip, pemeran, artistik, sampai editing pun tidak seprofesional produksi film layar lebar. Kualitasnya pun tidak berbeda dengan konten 720p atau 480p. Meski demikian, mini drama ini tetap diproses seefisien mungkin hingga tayang di sejumlah platform, tidak sedikit yang menayangkan dengan fitur gratis untuk 1-10 episode tetapi selanjutnya berbayar.
Bila dicermati dari sisi konten, skrip kasar mini drama ini bisa dikatakan cukup template. Misalkan, bila temanya tentang tokoh utama yang underdog atau "dikira cupu ternyata suhu", maka skripnya berawal dari polemik internal tokoh utama yang diremehkan oleh banyak orang, tetapi ia berusaha untuk mengungkap jati dirinya. Misalkan lagi, bila temanya tentang romansa kekaisaran, maka skripnya tentang kaisar yang pura-pura menjadi rakyat biasa untuk menyaksikan penderitaan rakyatnya. Misalkan lagi, bila temanya tentang bucin atau romansa remaja, maka skripnya tentang dilema seseorang yang tidak rela berpisah dengan kekasihnya tetapi setelah itu ia menjadi orang sukses atau justru lebih menderita. Misalkan lagi, bila temanya tentang reinkarnasi tokoh penting, maka skrip awalnya tentang kesalahan yang diperbuat tokoh utama tetapi karena ada kebaikannya atau dendam yang tak usai maka ia dihidupkan lagi dengan dimensi hidup yang berbeda. Skrip-skrip seperti ini walaupun template tetapi alurnya sengaja diperumit yang jawabannya baru diungkap di akhir cerita.
Walaupun tetap bermain secara kapitalis dalam pangsa global, mini drama cina tetap mengangkat nilai-nilai filosofis masyarakat Tiongkok. Banyak mini drama yang memperlihatkan karakter tokoh yang gigih meski diterpa berbagai cobaan, lalu juga menampilkan budaya Tiongkok dan rekayasa sejarahnya, lalu juga mendramatisasi emosi penonton dari berbagai usia. Semua proses syuting sampai penayangan tentunya tetap dikontrol oleh otoritas setempat. Bahkan bisa jadi otoritas tersebut tetap selektif memilih konten yang cocok ditonton oleh warganya, sisanya diekspor ke negara dengan peluang yang lebih besar, termasuk Indonesia.
Adanya tren mini drama seharusnya bisa diadaptasi secara positif bagi pecinta sinema di Indonesia. Meski saat ini sinetron di televisi ataupun film lebih banyak peminatnya, tidak ada salahnya bila penggiat sinema lokal memproduksi film pendek yang menceritakan realitas hidup dan budaya orang Indonesia menjadi tayangan tidak hanya sekali tonton tetapi relevan dengan kehidupan sehari-hari dan tentu saja disukai oleh masyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
