Cut Off: Tren Sesaat atau Bentuk Healing Modern?
Gaya Hidup | 2026-02-28 13:21:00
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah cut off relationship semakin sering muncul di media sosial. Banyak orang secara terbuka membicarakan keputusan akan pentingnya memutus hubungan baik dengan pasangan, teman, kolega, bahkan keluarga demi menjaga kesehatan mental. Kalimat seperti “I choose myself” atau “protecting my peace” kerap menjadi slogan yang terdengar akrab di berbagai platform digital. Namun menjadi pertanyaan bagi kita kemudian apakah fenomena ini benar-benar merupakan sebuah proses penyembuhan emosional, atau sekadar tren yang dibentuk oleh budaya media sosial?
Media sosial telah mengubah cara manusia dalam memahami sebuah hubungan. Dahulu, mempertahankan relasi dianggap sebagai sebuah tanda kedewasaan dan kesabaran. Namun kini, meninggalkan sebuah hubungan yang dianggap “toxic” sering kali dipandang sebagai bentuk keberanian yang keren. Informasi psikologi populer yang kerap mudah diakses dewasa ini membuat banyak orang menjadi lebih sadar akan sebuah batasan diri (personal boundaries). Kesadaran inilah yang kemudian membawa dampak positif bagi setiap individu dimana individu mulai memahami bahwa tidak semua hubungan harus dan layak untuk dipertahankan jika kehadirannya justru merusak diri dan kesejahteraan mental. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh seorang psikolog klinis, Nedra Glover Tawwab yang mengatakan, “Boundaries are the distance at which I can love you and me simultaneously” yang artinya menjaga jarak kadang diperlukan agar seseorang tetap bisa mencintai orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri utamanya dalam hubungan yang penuh manipulasi atau tekanan emosional dimana keputusan menjauh bisa menjadi langkah penyelamatan diri.
Namun ibarat pedang bermata dua, di sisi lain, penyederhanaan konsep psikologi di media sosial seringkali membuat sebuah keputusan kompleks menjadi terlihat mudah seperti halnya dalam pengambilan keputusan dalam sebuah hubungan dimana jika sebuah hubungan mulai dirasakan tidak nyaman, maka tinggalkan saja. Di sinilah kemudian perdebatan muncul.
Sebagian orang melihat fenomena cut off relationship hadir sebagai sebuah efek budaya instan. Di dalam logikanya sebuah hubungan dinilai dengan cepat, jika terjadi konflik maka dianggap dan bermakna sebagai sebuah tanda ketidakcocokan, sehingga jarak emosional selalu menjadi solusi utama. Akibatnya, kemampuan menghadapi konflik akan berisiko menurun padahal nyatanya tidak semua hubungan sulit selalu bermakna dan bersifat toxic. Beberapa hubungan mungkin hanya membutuhkan sebuah komunikasi, kompromi, dan kedewasaan emosional. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh seorang psikolog sosial, Esther Perel yang mengingatkan bahwa hubungan modern sering menghadapi tantangan karena ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kenyamanan emosional dan konflik adalah bagian alami dari relasi manusia, bukan selalu tanda bahwa hubungan harus diakhiri. Sehingga jika cut off dilakukan tanpa refleksi mendalam, keputusan tersebut bisa menjadi bentuk avoidance (menghindar) semata, bukan penyembuhan. Risikonya sebuah relasi menjadi mudah tergantikan, toleransi terhadap perbedaan menurun, dan kesepian akan meningkat meskipun memiliki koneksi sosial yang banyak.
Bertolak belakang dengan pandangan ini, di sisi lainnya banyak individu menggunakan cut off sebagai langkah penyelamatan diri terutama dari hubungan yang tidak sehat seperti relasi yang penuh manipulasi, kekerasan emosional, atau pola berulang yang merusak karena dinilai dapat menghambat pertumbuhan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, menjaga jarak bukanlah tindakan egois, melainkan digunakan sebagai sebuah bentuk perlindungan diri. Bagi sebagian orang, cut off terkadang tidak hanya hadir sebagai sebuah akhir hubungan semata, namun sebagai proses awal menyembuhkan dan merekonstruksi diri.
Lebih lanjut, lantas bagaimana kah seharusnya kita bertindak dan memaknai fenomena cut off? Cut off menjadi sehat dan tepat yakni ketika dilakukan setelah adanya sebuah refleksi mendalam, komunikasi yang sudah diupayakan, dan batasan diri yang terus dilanggar. Keputusan dalam hal ini diambil untuk pertumbuhan, bukan pelarian. Sebaliknya, cut off menjadi problematis jika hal ini dilakukan saat emosi sedang memuncak, digunakan untuk menghindari tanggung jawab, atau ketika dipengaruhi oleh validasi media sosial semata.
Tren cut off hubungan menunjukkan perubahan besar dalam cara generasi modern memaknai relasi dan kesehatan mental. Kita hidup di era yang lebih sadar akan kesehatan mental dalam diri, tetapi juga lebih rentan terhadap keputusan cepat. Mungkin yang perlu kita pelajari bukan hanya kapan harus melepaskan hubungan, tetapi juga kapan harus memperbaikinya. Karena pada akhirnya, healing bukan tentang menjauh dari semua orang yang melukai kita, melainkan memahami diri cukup dalam untuk mengetahui siapa yang layak dipertahankan dan siapa yang perlu dilepaskan. Pada akhirnya proses healing tidak selalu berarti pergi, dan bertahan tidak selalu berarti kuat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
