Fear of Missing Out (FOMO): Kenapa Kita Takut Ketinggalan?
Gaya Hidup | 2025-12-24 14:14:50
Di era media sosial, hampir semua momen terasa bisa dibagikan dan dilihat oleh siapa saja. Tanpa disadari, hal ini memicu Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, pencapaian, atau keseruan orang lain. Fenomena ini cukup umum dialami banyak orang, terutama ketika melihat unggahan tentang prestasi, pertemanan, atau gaya hidup di
Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, FOMO berkaitan dengan kebutuhan akan penerimaan sosial dan rasa ingin diakui. Otak kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain, meski yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan terbaik dari hidup seseorang. Akibatnya, muncul perasaan tidak cukup baik, cemas, hingga tekanan untuk selalu ikut tren atau aktif
Jika dibiarkan, FOMO dapat berdampak pada kesehatan mental seperti stres, sulit fokus, dan kelelahan emosional. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari batasan diri, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta lebih fokus pada kebutuhan dan tujuan pribadi. Dengan memahami FOMO, kita bisa belajar menikmati proses tanpa terus merasa tertinggal.
Penutup
Pada akhirnya, FOMO adalah perasaan yang wajar di tengah derasnya arus informasi dan media sosial. Namun, dengan kesadaran dan pengelolaan diri yang baik, perasaan ini dapat dikendalikan. Kita perlu belajar menghargai proses hidup masing-masing tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain. Dengan mengenali dan memahami perasaan ini, kita dapat belajar mengelola kecemasan serta berhenti membandingkan hidupnya dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial.
Belajar untuk menikmati proses, menghargai pencapaian kecil, dan memberi jeda dari media sosial adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan. Dengan begitu, kita tidak hanya terhindar dari tekanan FOMO, tetapi juga bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bermakna.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
