Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alya Nursyabani

Ketika TBC Menular tetapi Pengobatan Ditolak: Sebuah Dilema Kesehatan Publik

Hospitality | 2025-12-28 06:39:42
Pinterest: Mycrobacterium Tuberculosis Testing, Feeding Trends

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit ini menular melalui udara, dan menyerang siapa saja tanpa memandang usia juga latar belakang sosial. Penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Ironisnya, di tengah ketersediaan pengobatan yang relatif mudah diakses dan gratis, tetapi masih banyak pasien yang menolak atau tidak ingin melakukan pengobatan yang intensif. Dan di sinilah dilema muncul: bagaimana menyikapi penolakan untuk pengobatan penyakit yang sudah sangat jelas berdampak untuk keselamatan orang banyak?


Apa Itu TBC?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. TBC merupakan penyakit menular yang sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh yang lain, seperti otak, tulang, ginjal, dan kelenjar getah bening. Penyebaran bakteri TBC dari penderita penyakit TBC ke orang lain adalah melalui udara, ketika penderita TBC batuk, bersin, bernyanyi atau berbicara. Dan orang yang berada di sekitarnya berisiko terinfeksi bakteri TBC.


Banyaknya Kasus TBC di Indonesia

Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kedua sebagai negara yang memiliki kasus TBC tertinggi di dunia. Diperkirakan sekitar 1.090.000 kasus TBC dan 125.000 kematian per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa TBC bukan hanya persoalan individu, melainkan masalah kesehatan publik yang serius dan mendesak. Namun, tingginya jumlah kasus tidak selalu diiringi dengan keberhasilan deteksi dan pengobatan yang optimal. Dan per 27 September 2025 ini, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menemukan kasus TBC ini sebanyak 600.698 orang atau 55 persen kasus tuberkulosis (TBC) dari target deteksi sebesar 1.090.000 pada 2025, padahal seharusnya 70 persen kasus ditemukan pada September (Yumna, 2025). Kesenjangan ini mengindikasikan adanya masalah struktural yang tidak bisa diabaikan, termasuk penolakan pengobatan dan putusnya pengobatan di tengah jalan.


Siapa yang Terdampak dari Situasi Ini?

Selama ini, penolakan pengobatan kerap dipahami sebagai bentuk ketidakpatuhan pasien. Penolakan pengobatan TBC ini tidak hanya berdampak pada pasien itu sendiri, tetapi akan berdampak juga pada keluarga, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas. Ketika satu orang penderita memilih untuk tidak berobat, maka risiko penularan akan meningkat dan berpotensi melahirkan kasus baru, termasuk TB Resisten Obat (TB RO), yang lebih sulit ditangani. Dengan demikian, persoalan ini tidak dapat dipahami sebagai urusan individu semata, melainkan menyangkut kepentingan kolektif. Negara, masyarakat, dan sistem kesehatan memiliki kepentingan bersama untuk memastikan pengendalian penyakit TBC ini berjalan dengan efektif.

Penting untuk Dibicarakan

Saat ini, ketika TBC masih termasuk penyakit menular utama dan target untuk mengeliminasi belum sepenuhnya tercapai, penolakan pengobatan penyakit TBC ini menjadi isu yang semakin mendesak. Setiap pengobatan yang terhenti di tengah jalan bukan hanya kegagalan medis, tetapi juga ancaman bagi upaya pengendalian penyakit secara nasional.

Mengapa Menolak Pengobatan?

Namun, memahami mengapa pasien menolak pengobatan membutuhkan sudut pandang yang lebih empatik. Stigma sosial masih menjadi faktor utama. TBC kerap melekat pada citranya yang negatif seperti kemiskinan, lingkungan tidak sehat, atau aib keluarga. Banyak pasien takut kehilangan pekerjaan, dijauhi lingkungan sosial, atau diperlakukan berbeda ketika status kesehatannya diketahui. Dalam situasi seperti ini, menolak berobat sering kali dipandang sebagai cara melindungi diri dari tekanan sosial yang tidak kalah berat dibanding penyakit itu sendiri. Selain itu, beban pengobatan juga menjadi pertimbangan yang serius. Pengobatan TBC membutuhkan waktu panjang dengan disiplin tinggi, yang disertai efek samping obat yang mungkin dapat menguras fisik dan mental. Tidak semua pasien memiliki dukungan psikologis dan sosial yang memadai untuk menjalani proses tersebut. Faktor ekonomi pun dapat menjadi hambatan dan risiko kehilangan penghasilan harian menjadi hambatan nyata, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.

Cara Menyikapinya

Pendekatan yang hanya menekankan pada kedisiplinan pasien terbukti tidak cukup. Penanganan TBC memerlukan cara pandang yang lebih manusiawi dan empatik. Edukasi publik harus dibangun tanpa stigma, dengan bahasa yang menghargai pasien. Pendampingan berbasis komunitas, keterlibatan keluarga, serta peran aktif tenaga kesehatan sebagai mitra pasien perlu diperkuat. Negara pun dituntut menghadirkan kebijakan yang mampu menyeimbangkan hak individu dengan keselamatan publik tanpa bersifat yang memaksa.

Pada akhirnya, penolakan pengobatan TBC adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar dalam sistem kesehatan dan kehidupan sosial kita. Pasien yang menolak berobat bukanlah pihak yang layak disalahkan, melainkan penanda bahwa masih ada jarak antara kebijakan, layanan kesehatan, dan realitas hidup masyarakat. Menyikapi dilema ini dengan empati dan tanggung jawab bersama adalah langkah penting, bukan hanya untuk memutus rantai penularan TBC, tetapi juga untuk menjaga nilai kemanusiaan dalam upaya kesehatan publik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image