Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lestari Hasyanti

Ketimpangan Sosial di Balik Kisah Cinta Zainuddin dan Hayati

Sastra | 2025-12-26 14:00:08


Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013) yang diadaptasi dari novel karya Buya Hamka tidak hanya dipahami sebagai kisah cinta yang berakhir pilu. Lebih dari itu, film ini menghadirkan gambaran sosial masyarakat Indonesia pada masa kolonial yang sarat dengan persoalan adat, stratifikasi sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari hubungan Zainuddin dan Hayati, penonton diajak untuk melihat bagaimana sesorang kerap terjebak dalam konflik batin akibat aturan sosial yang kaku dan tidak berpihak pada perasaan.

Tokoh Zainuddin digambarkan sebagai pribadi yng berpendidikan, berakhlak baik, serta memiliki ketulusan cinta. Namun, latar belakang keluarga dan status sosialnya justru menjadi penghalang utama dalam kehidupannya. Melalui tokoh ini, film Tengelamnya Kapal Van Der Whick secara tidak langsung mengkritik sistem adat yang lebih mengutamakan garis keturunan dibandingkan kualitas moral dan kemanusiaan seseorang. Cinta Zainuddin dan Hayati menjadi sebuh representasi perlawanan terhadap norma sosial yang membatasi kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidup, khususnya dalam urusan pernikahan.

Secara visual, film ini menampilkan sinematografi yang indah dan kuat, sehingga mampu menghidupkan suasana sejarah sekaligus memperdalam emosi penonton. Meski demikian, kekuatan visual tersebut tidak mengaburkan pesan utama film. Tragedi yang dialami para tokoh justru menegaskan bahwa penderitaan mereka bukan semata-mata akibat takdir, melainkan hasil dari keputusan sosial yang timpang dan tidak adil. Tenggelamnya kapal Van der Wijck dapat dimaknai sebagai simbol runtuhnya harapan, cinta, dan nilai kemanusiaan akibat kekakuan adat.

Hingga saat ini, film ini masih relevan karena masyarakat modern pun masih sering menilai seseorang berdasarkan status sosial, ekonomi, dan latar belakang keluarga. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck mengingatkan bahwa adat seharusnya berfungsi sebagai pedoman yang memanusiakan manusia, bukan sebagai belenggu yang meniadakan keadilan dan perasaan. Film ini berhasil menyampaikan kritik sosial secara halus namun mendalam, sekaligus mengajak penonton merefleksikan makna cinta, martabat, dan kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image