Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Chantika Noverina

Ketika Anak Terluka, Dampak Psikologis dari Perselingkuhan dan Percerain Orang Tua

Parenting | 2025-12-25 14:35:50
https://unsplash.com/id/foto/pasangan-memutuskan-hubungan-RETAABry0Dk
https://unsplash.com/id/foto/pasangan-memutuskan-hubungan-RETAABry0Dk

Media sosial Indonesia setahun ke belakang ini seringkali dihebohkan dengan berita perselingkuhan dan perceraian. Mulai dari kalangan artis dan selebriti sampai kalangan masyarakat biasa. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, yaitu perselingkuhan yang dilakukan seorang istri sekaligus ibu Bernama Julia Prastini dari suaminya Na Daehoon dengan seorang laki-laki Bernama Safrie Ramadhan. Diketahui pernikahan Julia dan Daehoon sudah memasuki usia 4 tahun dan telah dikaruniai 3 orang anak, hingga pada akhirnya kedua pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk bercerai.


Pengadilan Agama Jakarta Barat menyatakan bahwa perselingkuhan menjadi salah satu penyebab utama dalam banyaknya kasus perceraian rumah tangga. Pengadilan Agama Jakarta Barat sendiri mengungkapkan, bahwa sudah menangani sebanyak 900 kasus perceraian mulai pada bulan Januari - Maret 2025.


Pada dasarnya perselingkuhan dan perceraian yang dilakukan oleh orang tua akan memberikan dampak psikologis pada anak, baik peristiwa tersebut diketahui anak secara langsung ataupun tidak. Berikut dampak psikologis yang akan dialami oleh anak akibat terjadinya perselingkuhan dan perceraian orang tua menurut penelitian yang dilakukan oleh Rifka Ilma Prasidarini dan Muhammad Arifin dalam jurnal yang berjudul “Dampak Perselingkuhan Orang Tua Terhadap Perilaku Sosial Anak (Studi Kasus Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali)”.


1. Munculnya Gangguan Emosi

Perselingkuhan dan perceraian orang tua dapat mengganggu kestabilan emosi anak. Anak menjadi kesulitan mengendalikan perasaannya, sehingga sering kali mengekspresikan kemarahan secara tidak terkendali atau justru memendam emosi dalam diam tanpa alasan yang jelas. Seperti anak yang sering menyaksikan pertengkaran orang tuanya pun cenderung melampiaskan emosi tersebut kepada orang-orang di sekitarnya, seperti teman dekat atau saudara kandung.


2. Melakukan Hal-Hal Negatif

Anak yang menjadi korban perselingkuhan dan perceraian orang tua seringkali merasa tidak nyaman berada di rumah karena suasana rumah yang dirasakan sudah tidak lagi hangat seperti sebelumnya. Kondisi ini mendorong anak untuk lebih banyak mencari pelarian di luar rumah, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, atau memicu konflik dengan lingkungan sekitar. Perilaku tersebut umumnya muncul sebagai bentuk pelampiasan emosi sekaligus upaya mencari perhatian dari orang tua maupun orang-orang terdekat.


3. Timbul Trauma Mendalam

Trauma mendalam yang dialami oleh anak dari korban perselingkuhan dan perceraian orang tuanya dapat berupa hilangnya kepercayaan dalam menjalin sebuah hubungan, bahkan banyak dari mereka yang berpikir dan mengambil keputusan untuk tidak menikah. Selain itu, banyak juga yang mengalami kehilangan kepercayaan dan rasa tertarik dengan lawan jenis.


Perselingkuhan dan perceraian yang terjadi dalam rumah tangga memberikan pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak. Gangguan emosional, kecenderungan melakukan perilaku negatif, serta trauma mendalam menjadi risiko yang dapat menghambat perkembangan mental, sosial, dan emosional anak dalam jangka waktu panjang. Anak yang tumbuh dalam situasi konflik orang tua rentan merasa kehilangan rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan, yang kemudian memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri maupun hubungan di masa depan. Karena itu, dukungan dari orang tua, pendampingan psikologis, serta peran lingkungan sekitar sangat diperlukan agar anak tetap dapat tumbuh sehat secara mental dan membangun masa depan yang lebih baik.


Daftar Pustaka:

Prasidarini, R. I., & Arifin, M. (2024). Dampak perselingkuhan orang tua terhadap perilaku sosial anak (Studi kasus Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali). Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 18(2). [https://doi.org/10.56997/almabsut.v18i2.1463]


Antara. (2025, April 11). Pengadilan Agama Jakbar: Perselingkuhan jadi penyebab utama perceraian. ANTARA News

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image