Hambatan Psikologis Mahasiswa dalam Mengemukakan Pendapat di Ruang Kelas
Pendidikan | 2026-01-05 11:10:39Ruang kelas perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang bebas untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan paradoks. Banyak mahasiswa yang memahami materi, memiliki pendapat, bahkan mampu menjawab pertanyaan, tetapi memilih diam ketika kesempatan berbicara diberikan. Keheningan ini kerap disalahartikan sebagai kurangnya kemampuan akademik, padahal dalam banyak kasus, diam tersebut bersumber dari hambatan psikologis yang tidak terlihat.
Fenomena mahasiswa pasif di kelas bukan persoalan baru, tetapi semakin terasa dalam dinamika pendidikan tinggi saat ini. Tekanan untuk tampil “benar”, budaya kompetisi akademik, serta lingkungan belajar yang kurang aman secara emosional membuat ruang kelas berubah menjadi arena penilaian sosial. Mahasiswa tidak hanya berpikir tentang isi pendapatnya, tetapi juga tentang bagaimana dirinya akan dinilai oleh dosen dan teman-temannya. Dalam situasi seperti ini, diam sering kali dipilih sebagai bentuk perlindungan diri.
Salah satu hambatan utama adalah kecemasan sosial. Bagi sebagian mahasiswa, berbicara di depan kelas bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan situasi yang memicu ketegangan emosional. Jantung berdebar, pikiran kosong, dan rasa takut menjadi pusat perhatian muncul bahkan sebelum tangan terangkat. Kecemasan ini membuat mahasiswa merasa bahwa berbicara di kelas adalah risiko besar yang sebaiknya dihindari, meskipun sebenarnya mereka memiliki gagasan yang relevan.
Ketakutan akan penilaian negatif juga menjadi faktor yang kuat. Mahasiswa sering kali membayangkan kemungkinan terburuk: pendapat dianggap salah, ditertawakan, atau dipatahkan secara terbuka. Pengalaman kecil seperti komentar dosen yang terdengar meremehkan atau respons teman yang tidak menyenangkan dapat meninggalkan jejak psikologis yang panjang. Sejak saat itu, mahasiswa belajar bahwa berbicara berarti membuka diri terhadap penilaian, dan diam terasa jauh lebih aman.
Selain itu, kepercayaan diri akademik yang rendah turut memperparah keadaan. Mahasiswa yang pernah gagal, merasa tertinggal, atau sering dibandingkan dengan mahasiswa lain cenderung meragukan kemampuannya sendiri. Mereka merasa pendapatnya tidak sepenting atau tidak sepintar orang lain. Keraguan ini membuat mahasiswa terus-menerus menunda untuk berbicara, menunggu “saat yang tepat” yang pada akhirnya tidak pernah datang.
Budaya juga memainkan peran yang tidak kecil. Dalam banyak konteks pendidikan, mahasiswa dibesarkan dengan nilai bahwa dosen adalah figur otoritas yang tidak perlu dipertanyakan. Berbeda pendapat sering kali disamakan dengan sikap tidak sopan. Nilai-nilai ini membentuk pola pikir bahwa diam adalah pilihan yang aman dan terhormat. Akibatnya, diskusi kelas kehilangan esensinya sebagai ruang pertukaran gagasan yang setara.
Lingkungan kelas dan gaya mengajar dosen menjadi faktor penentu apakah hambatan psikologis ini semakin menguat atau justru berkurang. Kelas yang kaku, penuh kritik, dan minim apresiasi akan memperbesar rasa takut mahasiswa. Sebaliknya, dosen yang membuka ruang dialog, menghargai proses berpikir, dan menegaskan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar mampu menciptakan rasa aman psikologis. Dalam suasana seperti ini, mahasiswa lebih berani mencoba, meskipun pendapatnya belum sempurna.
Dampak dari ketidakberanian mengemukakan pendapat tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa yang terbiasa diam akan kesulitan menyampaikan ide di dunia kerja, ragu berpendapat dalam rapat, dan enggan mengambil peran kepemimpinan. Padahal, kemampuan menyampaikan gagasan merupakan keterampilan penting dalam kehidupan profesional dan sosial. Ketika kampus gagal melatih keberanian ini, maka yang lahir bukan hanya lulusan yang pasif, tetapi juga generasi yang kehilangan suara.
Oleh karena itu, hambatan psikologis mahasiswa dalam mengemukakan pendapat perlu dipandang sebagai masalah sistemik, bukan semata kelemahan individu. Upaya mengatasinya tidak cukup dengan menyuruh mahasiswa “lebih percaya diri”, tetapi perlu perubahan cara pandang dalam proses pembelajaran. Ruang kelas harus menjadi tempat yang aman secara emosional, tempat mahasiswa merasa didengar, bukan dihakimi.Pada akhirnya, keberanian mahasiswa untuk berbicara bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi tentang rasa aman, penghargaan, dan kepercayaan diri yang dibangun bersama. Jika kampus ingin melahirkan generasi yang kritis dan berdaya, maka ruang kelas harus menjadi ruang yang memberi keberanian untuk bersuara, bukan ruang yang membuat mahasiswa memilih diam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
