K-pop sebagai Self-healing Mengurai Perasaan dengan Harmoni Musik Korea
Eduaksi | 2025-12-25 14:29:28
Pernahkah kamu merasakan kesulitan mengendalikan emosi? Atau sedang stress berat akibat tekanan hidup? Sebagai generasi muda atau yang sering disebut Gen z, kita pasti sering dianggap sebagai generasi lemah, manja, mengingingkan segala hal secara instan, memiliki jiwa yang rapuh. Nyatanya, di balik semua ucapan itu, ada beban tak terlihat yang harus dipikul dan kesehatan mental yang harus dikorbankan. Karena hal ini, terkadang gen z mengalami disregulasi emosi dan gangguan kesehatan mental.
Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Attia dkk (2020), WHO (World Health Organization) berpendapat bahwa kesehatan mental adalah kondisi yang memungkinkan seseorang berkembang dengan baik. Baik secara fisik, intelektual, dan emosional (Mei et al., 2025). Meskipun menghadapi segala cobaan, Gen Z masih peduli terhadap kesehatan mental. Untuk tetap menjaga kesehatan mentalnya, Gen Z terutama para K-popper, biasanya melakukan self-healing. Salah satu media untuk proses self-healing adalah dengan mendengarkan musik K-pop.
Mengenal Musik K-pop
K-pop adalah singkatan dari Korean Pop, yaitu genre musik popular asal korea selatan yang mencakup berbagai genre musik modern, seperti pop, hip-hop, R&B, EDM, hingga rock (dikutip dari ruang guru). Menurut Effendy et al (2024) Fenomena Korean Wave atau K-Pop lekat dengan remaja, khususnya di Indonesia. Berdasarkan data Chartmetric, pada tahun 2024 Indonesia merupakan konsumen musik K-pop terbesar di dunia dengan pangsa pasar mencapai 18,47%. Amerika Serikat menyusul di peringkat kedua (10,24%), dan Filipina masuk dalam tiga besar (8,95%) (dikutip oleh website Goodstats).
Hal ini dikarenakan K-pop memiliki elemen visual yang menarik, musik yang catchy, dan fandom yang solid. Musik K-pop bukan hanya sebatas musik biasa bagi para penggemar, melainkan juga sebagai “teman pelarian”. Musik dapat dikategorikan sebagai bentuk komunikasi karena di dalamnya terdapat pesan mengenai perasaan serta situasi yang secara tidak langsung dapat diungkapkan. Melalui fenomena ini, lirik lagu menjadi dasar bagi penulis untuk menyampaikan pesan yang dikemas berdasarkan konsep tertentu sebagai refleksi realitas kehidupan masyarakat (Raodah & Trianita Lestari, 2024).
Pelarian dan Self-healing
Gen Z sering dikatakan memiliki jiwa yang rapuh karena tumbuh di zaman yang lebih stabil daripada generasi tua. Hal ini sering dikaitkan dengan istilah Strawberry Generation (2008), di mana generasi muda lahir di masa perekonomian stabil dan tidak mengalami situasi perang, sehingga secara ekonomi mereka relatif sejahtera dan memperoleh banyak kemudahan (Effendy et al., 2024).
Namun, kata “rapuh” tersebut juga menggambarkan kerentanan Gen Z terhadap disregulasi emosi yang disebabkan oleh tekanan hidup, seperti pekerjaan, tugas, dan tuntutan untuk selalu menjadi sempurna. Karena tekanan itulah, Gen Z mulai mencari pelarian melalui alternatif lain, yaitu mendengarkan musik K-pop. Ritme dan lirik lagu K-pop membuat pendengar merasa dipahami dan tidak sendirian. Narasi dari penulis lagu menjadi penenang dikala pikiran terasa ramai, sementara suara penyanyi idola yang indah seolah-olah memberikan kekuatan.
Hal inilah yang menjadikan musik K-pop sebagai sarana self-healing yang ampuh bagi para penggemar Gen Z untuk bangkit dari kondisi jiwa yang rapuh. Musik dapat berfungsi sebagai media dalam proses penyembuhan diri atas luka batin (Raodah & Trianita Lestari.,2024). Meskipun demikian, musik K-pop hanya berfungsi sebagai alat bantu dan bukan pengganti terapi profesional atau tenaga medis untuk kondisi yang serius.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
