Ketika Orang Terdekat Menjadi Sasaran Amarah Bawah Sadar
Lain-Lain | 2025-12-25 09:22:38
Marah merupakan emosi yang dimiliki oleh setiap orang. Seringkali kita menyembunyikan emosi tersebut untuk membuat citra diri kita tetap dipandang baik oleh orang lain. Namun amarah yang terpendam justru malah membuat kita meluapkannya kepada orang yang salah.
Contohnya ketika kita kesal dengan teman di kelas, kita malah marah kepada adik atau keluarga di rumah. Hal tersebut terjadi karena kita merasa tidak enak dengan teman atau mungkin lebih menghindari konfik agar hubungan kita dengan teman tidak rusak.
Konsep Displacement dalam Mekanisme Pertahanan Diri
Dalam psikoanalisis, displacement merupakan mekanisme pertahanan diri berupa pengalihan yang dimana ketika emosi yang seharusnya diarahkan kepada objek yang dianggap berbahaya atau tidak aman dialihkan kepada objek yang lebih aman.
Freud (1915) menjelaskan bahwa dorongan emosional bahwa dorongan emosional tidak pernah benar-benar hilang. Ketika tidak dapat diekspresikan secara langsung, dorongan tersebut dialihkan ke objek lain yang lebih aman karena objek dari dorongan itu sendiri bersifat sangat fleksibel.
Kita meluapkan kemarahan yang terpendam kepada orang terdekat seperti pasangan, orang tua, atau anggota keluarga karena kita merasa aman untuk mengekspresikan emosi yang ada tanpa harus merasa tertekan. Hubungan yang sangat dekat membuat kita merasa nyaman dan dianggap tidak akan memberikan konsekuensi yang serius.
Mengapa Orang Terdekat Lebih Sering Menjadi Sasaran Marah?
Dalam kerangka psikoanalisis, hubungan dekat sering mengaktifkan konflik emosional masa lalu, termasuk pengalaman masa kanak-kanak. Orang terdekat dapat secara tidak sadar berfungsi sebagai objek pengganti (object substitution) dari figur signifikan sebelumnya (orang tua, pengasuh).
Akibatnya, luka emosional lama yang belum terselesaikan bisa muncul kembali, terutama dalam hubungan dengan orang-orang terdekat. Rasa marah yang muncul sering kali bukan hanya karena masalah yang sedang terjadi, melainkan dipicu oleh konflik emosional yang sudah lama tersimpan. Hubungan yang dekat kemudian menjadi tempat paling mudah bagi seseorang untuk meluapkan emosi yang selama ini ditekan, karena di situ ia merasa lebih aman untuk menunjukkan perasaannya.
Dengan demikian, memahami kemarahan dalam hubungan dekat memerlukan penelusuran terhadap dinamika bawah sadar individu, bukan hanya interaksi yang tampak di permukaan saja.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
