Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Afafiyah Hidayani

Bahasa, Gender dan Bias yang Tak Terlihat dalam Percakapan Digital

Sastra | 2025-12-25 00:10:46
Sumber: Republika.co.id

Bahasa sering kali dipahami sebatas alat untuk menyampaikan informasi. Pesan tersampaikan, diterima, lalu percakapan dianggap selesai. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, terutama dalam percakapan di ruang digital seperti grup WhatsApp, kolom komentar media sosial, atau forum dare, bahasa ternyata menyimpan makna yang lebih kompleks. Cara seseorang berbicara, merespons, hingga memilih kata dan emotikon tidak pernah benar-benar netral. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sosial, identitas, serta hubungan kekuasaan, termasuk yang berkaitan dengan gender.


Dalam percakapan sehari-hari, perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan sering kali terlihat. Percakapan yang didominasi laki-laki cenderung singkat, langsung pada pokok permasalahan, dan ekspresi emosi yang minimal. Sementara itu, percakapan yang banyak melibatkan perempuan biasanya lebih panjang, ekspresif, dan disertai respons yang menunjukkan empati, seperti penggunaan emotikon atau ungkapan perhatian. Perbedaan ini sering dianggap sebagai hal yang wajar dan jarang dipersoalkan.


Masalah mulai muncul ketika salah satu gaya bahasa dianggap lebih baik atau lebih pantas dibandingkan yang lain. Bahasa yang lugas dan singkat sering dinilai rasional, tegas, dan profesional. Sebaliknya, bahasa yang diungkapkan justru sering dicap berlebihan atau terlalu emosional. Dalam konteks tertentu, terutama di ruang publik atau akademik, perempuan bahkan sering dituntut untuk menyesuaikan cara berbahasanya agar dianggap serius dan kompeten.


Padahal, setiap gaya bahasa memiliki fungsi sosialnya masing-masing. Bahasa yang efisien memang membantu menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi bahasa yang hangat dan ekspresif berperan penting dalam menjaga hubungan sosial. Oleh karena itu, membahas hubungan antara bahasa dan gender bukan untuk memperbesar perbedaan, melainkan untuk menyadarkan bahwa tidak ada satu gaya bahasa yang lebih unggul. Dengan kesadaran ini, komunikasi yang diharapkan di ruang digital dapat berlangsung secara lebih adil dan saling menghargai.

Penulis:

Lestari Hasyanti & Siti Afafiyah Hidayani

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image