Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indah Wafiyatuzzahro

Memanfaatkan Metode Kisah Qurani dan Terapi Naratif dalam Konseling di Pesantren

Agama | 2025-12-22 23:38:38

Bimbingan konseling di pesantren merupakan peran penting dalam membentuk kepribadian santri. Bimbingan konseling sendiri dapat membantu mendidik aspek psikologis dan emosional santri, jadi santri mendapatkan pendidikan tidak hanya akademik dan ibadah saja. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai agama sangan dekat nilai budayanya yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu metode konseling yang dapat digunakan di pesantren bisa lebih mudah diterima mengenai kisah-kisah nabawiyah yang ada dalam Al-Qur’an.

Bimbingan konseling dipesantren lebih efektif jika menggabungkan antara kisah-kisah dalam Al-Qur’an dengan pendekatan terapi naratif.terapi naratif adalah pendekatan psikologis menekankan bahwa identitas dan maslah kehidupan seseorang itu dibuat berdasarkan pengalaman hidupnya. Terapi naratif dalam konseling membantu santri melihat masalah bukan sebagai identitas diri, tetapi sebagai pengalaman yang bisa dikelola dan diubah maknanya. Mengaitkan terapi naratif dan kisah Qur’ani, santri diajak untuk menulis ulang kisah hidupnya berdasarkan nilai-nilai keimanan. Pendekatan ini terkesan lebih dekat, lebih menekankan hati santri dan tidak menghakimi. Terapi naratif juga melihat bahwa masalah yang dihadapi seseorang seperti cemas, rendah diri, dan konflik bukanlah bagian tetap dalam dirinya, masalah-masalah tersebut hanyalah cerita yang mendominasi sebuah kehidupan, dengan terapi naratif konselor dapat membantu santri untuk menulis ulang cerita dalam hidupnya, Sehingga santri dapat berpikir bahwa dirinya sebagai pahlawan bukan sebagai korban.

Menurut pemikiran Kh. Hasyim Asy’ari pendidikan di pesatren tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk akhlaq dan jiwa kuat para santri, pendapat ini juga sejalan dengan penggunaan kisa-kisah dalam Al-Qur’an dan terapi naratif dalam konseling, karena keduanya sama-sama bisa membimbing santri untuk mengenal diri sendiri, memperbaiki sikap, dan menumbuhkan harapan dalam menghadapi masalah. Al-Quran dipenuhi dengan kisah-kisah pahlawan spiritual yang baik dan hebat untuk dijadikan contoh, seperti Nabi Yusuf yang menghadapi penghianatan dan godaan, Nabi Ayyub yang diuji dengan penyakit, Nabi Musa yang berjuang melawan ketakutannya, semua kisah-kisah ini berkaitan dengan kesabaran, keteguhan iman, kemampuan bangkit dari cobaan hidup. Di sinilah Al-Qur’an menjadi alat yang sangat powerfull bagi kehidupan santri karena sebagai sumber utama narasi dalam kehidupan. Kisah ini bukan hanya sekadar dongeng belaka tapi contoh nyata tentang bagaimana seseorang bisa bertahan, berubah, dan menang dengan pertolongan Allah. Sedangkan Al-Qur’an sendiri bukanlah kitab hukum semata melainkan lautan kisah (Ahsanul Qishah).

Metode kisah Qur’ani dalam konseling berarti menggunakan kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran sebagai bahan refleksi dan inspirasi konseling. Mengintregasikan kisah Qur’ani dengan terapi naratif menjadi strategi yang kuat karena keduanya saling melengkapi. Kisah qurani menawarkan kisah spiritual dan moral yang kuat ,sedangkan terapi naratif menyediakan kerangka psikologis untk mengolah pengalaman individu menjadi cerita bermakna. Pendekatan konseling ini memiliki kelebihan yang besar di pesantren, penggabungan kisah Qur’ani dengan terapi naratif membuat santri merasa lebih mudah dipahami dan dimengerti karena menggunakan sumber yang mereka percayai yakni Al-Qur’an, meneguhkan keimanan para santri karena cara ini menghormati kearifan agama tanpa terkesan menggurui, begitupun santri tidak akan merasa dihakimi, melainkan didampingi untuk menemukan kekuatannya sendiri melalui keteladanan yang ada dalam Al-Qur’an.

Dalam konseling dengan memadukan kisah Qur’ani dengan terapi naratif, guru BK dapat memandu santri dengan tiga langkah sederhana:

1. Mengenali cerita masalah.

Dalam hal ini santri di beri kesempatan untuk menyebut sebagai siapakah dia dalam masalahnya (si penakut atau si pendiam).

2. Mencari cerita alternatif di Al-Qur’an

Dalam hal ini badan menentukan kira-kira nabi atau tokoh siapakah yang pernah merasakan hal serupa dengan permasalahan yang dialami santri

3. Menulis ulang cerita sendiri

Di sini badan BK membimbing dengan memberi pemikiran yang lebih positif dan relefan sesuai kehidupan para santri seperti contoh kalau Nabi Musa bisa berbicara dengan fir’aun meski awalnya takut, langkah kecil apakah yang bisa di ambil untuk melawan si penakut itu?

Dengan demikian, metode kisah Qu’ani dan terapi naratif merupakan penggabungan langkah-langkah yang kontekstual. Ruang konseling menjadi rumah bagi para santri untuk meneladani kisah-kisah terbaik dan menuliskannya dengan lebih percaya diri dan penuh makna. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat mental santri tapi juga menanamkan nilai spiritual yang mendalam. Dengan begitu, konseling menjadi sarana pembinaan yang utuh dan seimbang antara akal, hati dan iman.

Nama : Indah Wafiyatuzzahro’

Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Kh. Mukhtar Syafa’at.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image