Pesantren, Alumni, dan Masa Depan Umat: Menjadi Jembatan Nilai di Tengah Arus Zaman
Khazanah | 2026-01-16 10:19:51Oleh: Muliadi Saleh , Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah ingatan panjang umat—ruang tempat nilai-nilai ditanamkan, diuji, lalu diantarkan ke dunia melalui langkah para alumninya. Dari pesantren lahir manusia-manusia yang tidak hanya menguasai teks keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ketangguhan moral. Sejarah Indonesia mencatat, pesantren turut membentuk karakter bangsa: dari perjuangan kemerdekaan hingga penguatan etika kehidupan berbangsa.
Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan tuntutan profesionalisme, peran pesantren dan alumninya menghadapi ujian baru. Zaman bergerak cepat, sementara nilai menuntut keteguhan. Tantangannya bukan semata bagaimana menjadi modern, tetapi bagaimana tetap bermakna. Di sinilah alumni pesantren memikul peran strategis: menjadi jembatan antara tradisi keislaman yang kokoh dan tantangan zaman yang terus berubah.
Berbagai studi pendidikan Islam menunjukkan bahwa pesantren yang bertahan adalah pesantren yang mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan identitas. Integrasi kitab klasik dengan literasi digital, penguatan akhlak dengan keterampilan abad ke-21, serta pemanfaatan teknologi secara etis adalah bentuk adaptasi sadar, bukan kompromi nilai. Prinsip lama pesantren—al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah—menjadi fondasi transformasi tersebut.
Al-Qur’an mengingatkan, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar” (QS. Ali ‘Imran: 104). Ayat ini sejalan dengan misi alumni pesantren: tidak sekadar menyampaikan nilai, tetapi menjadi teladan dalam menghidupkannya di berbagai ranah—pendidikan, ekonomi, politik, sains, dan budaya. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa pencarian ilmu adalah perjalanan seumur hidup, isyarat bahwa membaca zaman adalah bagian dari tanggung jawab keilmuan.
Para sufi memberi kedalaman makna. Jalaluddin Rumi berkata, “Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, maka aku mengubah diriku.” Pesan ini relevan bagi alumni pesantren: perubahan sosial bermula dari keteguhan akhlak dan kejernihan niat. Menjadi modern tanpa kehilangan adab adalah laku spiritual sekaligus sosial.
Fakta kontemporer memberi harapan. Banyak alumni pesantren tampil sebagai akademisi, profesional, pengusaha, dan pemimpin komunitas yang memadukan ilmu, etika, dan keberpihakan pada kemanusiaan. Mereka membuktikan bahwa pesantren bukan sisa masa lalu, melainkan sumber energi masa depan.
Menjadi jembatan memang bukan tugas ringan. Ia menuntut keseimbangan—antara idealisme dan realitas, antara nilai dan strategi. Namun justru di situlah kemuliaannya. Ketika alumni pesantren mampu berdiri tegak di tengah arus zaman tanpa kehilangan arah nilai, di situlah pesantren menemukan makna sejatinya: mencetak insan berilmu, berakhlak, dan relevan bagi masa depan umat dan bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
