Pendidikan di Tengah Budaya Serba Instan
Eduaksi | 2025-12-22 00:47:28
Pendidikan hari ini bergerak semakin cepat, tetapi tidak selalu semakin dalam. Teknologi menghadirkan kemudahan luar biasa dalam mengakses ilmu pengetahuan. Informasi tersedia dalam hitungan detik, materi pelajaran dapat diringkas dalam satu layar, dan jawaban atas berbagai soal bisa ditemukan dengan mudah. Namun, di balik kemajuan tersebut, tumbuh budaya belajar yang serba instan—cepat, praktis, tetapi kerap mengabaikan proses.
Gejala ini terlihat jelas di sekolah maupun kampus. Buku bacaan yang menuntut ketekunan semakin jarang disentuh, digantikan oleh ringkasan singkat atau video berdurasi pendek. Diskusi akademik sering berhenti di permukaan karena jawaban dianggap cukup ketika ditemukan secara cepat. Belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami dan mengolah gagasan, melainkan sekadar cara memenuhi tuntutan akademik.
Budaya instan dalam pendidikan sejatinya tidak hanya dipicu oleh teknologi, tetapi juga oleh perubahan orientasi. Sekolah dan kampus semakin sibuk mengejar efisiensi, target kelulusan, dan capaian angka. Nilai, indeks prestasi, serta sertifikat menjadi ukuran utama keberhasilan, sementara proses berpikir kritis dan kedalaman pemahaman sering kali terpinggirkan. Pendidikan pun berisiko kehilangan maknanya sebagai proses pembentukan manusia, bukan sekadar penghasil output akademik.
Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tentu memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Ia membuka akses referensi luas dan membantu memahami materi yang kompleks. Persoalan muncul ketika teknologi diperlakukan sebagai jalan pintas, bukan alat bantu. Tugas diselesaikan tanpa refleksi, tulisan disusun tanpa pemahaman, dan proses belajar berlangsung tanpa pergulatan intelektual yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, kecepatan justru mengorbankan kedalaman.
Padahal, hakikat pendidikan terletak pada proses yang tidak selalu cepat. Ilmu pengetahuan lahir dari kesabaran berpikir, dari kebiasaan membaca dengan saksama, menulis dengan kesadaran, serta berdiskusi dengan keterbukaan. Proses ini membutuhkan waktu dan ketekunan. Ketika semua dipercepat, pendidikan hanya menghasilkan pengetahuan dangkal yang rapuh dan mudah dilupakan.
Di tengah situasi ini, peran pendidik menjadi sangat penting. Guru dan dosen bukan sekadar penyampai materi, melainkan penjaga arah pendidikan. Mereka dituntut untuk tidak larut dalam arus instan, tetapi menghadirkan ruang belajar yang mendorong peserta didik berpikir, bertanya, dan berproses. Tantangan dalam belajar bukanlah hambatan, melainkan bagian dari pembentukan nalar dan karakter.
Peserta didik pun perlu merefleksikan kembali tujuan belajar. Pendidikan bukan semata jalan untuk meraih gelar atau pekerjaan, tetapi proses membangun cara berpikir dan sikap hidup. Ketika proses diabaikan, ilmu kehilangan nilai etikanya. Pengetahuan yang tidak disertai kedalaman nalar berpotensi melahirkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi rapuh dalam menghadapi persoalan nyata.
Dalam tradisi pendidikan Islam, dikenal prinsip adab sebelum ilmu. Nilai ini relevan untuk menjawab tantangan pendidikan di era serba instan. Adab mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap proses belajar. Tanpa adab, ilmu mudah dipahami secara dangkal dan kehilangan arah moralnya. Sekolah dan kampus yang hanya mengejar capaian akademik, tetapi mengabaikan pembentukan karakter, sejatinya sedang menanam persoalan jangka panjang.
Era serba instan memang tidak dapat dihindari, tetapi bukan berarti harus diterima tanpa kritik. Teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Sekolah dan kampus harus kembali menegaskan bahwa belajar adalah proses, bukan sekadar hasil. Pendidikan yang bermakna bukan yang paling cepat menghasilkan, melainkan yang mampu menumbuhkan nalar, adab, dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan hari ini bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan kedalaman. Sekolah dan kampus harus tetap menjadi ruang yang mengajarkan bahwa ilmu tidak lahir dari ketergesaan, tetapi dari proses panjang yang membentuk manusia berpikir dan berkarakter.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
