Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kaisarrio Rizky Pradana

Tangsel Darurat Sampah: Ketika Kota Modern Terancam Limbah dan Penyakit

Tangsel | 2025-12-19 01:26:24

Tangerang Selatan (Tangsel) tengah menghadapi krisis yang tak bisa lagi ditutup-tutupi.

Di balik deretan perumahan modern dan pusat bisnis yang terus tumbuh, tumpukan sampah justru menjadi wajah kota lain ini. Dari Ciputat, Pamulang, hingga Serpong, bau menyengat dan limbah berserakan kini menjadi pemandangan yang kian familiar bagi warga.

Tumpukan sampah di kawasan perkotaan, mencerminkan krisis pengelolaan limbah yang mengancam kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan warga di kota perkotaan seperti Tangerang Selatan. Sumber: Pixabay

Masalah ini bukan lagi soal kebersihan semata. Ketika menumpuk sampah berhari-hari di pinggir jalan dan saluran air, Tangsel berada dalam kondisi darurat lingkungan sekaligus darurat kesehatan.

Produksi Sampah Tinggi, Pengelolaan Tertinggal

Dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa, Tangsel menghasilkan sekitar 800–1.000 ton sampah per hari. Volume ini berasal dari rumah tangga, pasar tradisional, hingga aktivitas komersial yang berkembang pesat. Sayangnya, sistem pengelolaan belum mampu menyeimbangkan laju produksi limbah tersebut.

Ketergantungan pada TPA Bantar Gebang di Bekasi menjadi titik lemah utama. Ketika kapasitas TPA menipis atau distribusi tersendat, sampah di Tangsel pun menumpuk. Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa sekitar 60 persen sampah belum terkelola secara optimal, sementara tingkat daur ulang masih berkisar 10–15 persen—angka yang tergolong rendah untuk kota perkotaan.

Seorang warga Pamulang mengungkapkan bahwa sampah di lingkungannya sering menumpuk hingga tiga hari, terutama saat hujan. “Kalau sudah hujan, baunya makin menyengat. Kami khawatir, tapi juga bingung harus mengadu ke siapa,” ujarnya.

Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Lingkungan

Pemupukan sampah menciptakan rantai masalah baru. Limbah menjadi tempat berkembang biaknya lalat, tikus, dan bakteri yang memicu penyakit seperti diare, demam berdarah, hingga leptospirosis. Praktik pembakaran sampah liar yang masih terjadi di sejumlah titik juga mengoptimalkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Dampak lingkungan tidak kalah. Sungai Cisadane dan Ciliwung mencemari limbah plastik dan rumah tangga, memperparah banjir serta merusak ekosistem udara. Jika dibiarkan, kualitas air bersih dan ketahanan lingkungan Tangsel akan terus menurun.

Secara ekonomi, warga menanggung biaya kesehatan lebih tinggi dan kehilangan produktivitas. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan, menghadapi risiko penyakit jangka panjang akibat lingkungan yang tidak sehat.

Belajar dari Kota Lain

Kondisi Tangsel berbanding terbalik dengan beberapa kota lain di Indonesia. Surabaya, misalnya, berhasil menekan volume sampah melalui optimalisasi bank sampah, pengolahan berbasis komunitas, dan edukasi berkelanjutan. Artinya, persoalan sampah bukan semata-mata keterbatasan teknologi, melainkan persoalan komitmen dan konsistensi kebijakan.

Upaya Ada, Tapi Belum Cukup

Pemerintah Kota Tangsel telah menjalankan berbagai program, mulai dari bank sampah di lebih dari 100 titik, kampanye “Tangsel Bersih”, hingga kerja sama dengan sektor swasta dalam pengolahan limbah berbasis teknologi. Wacana pembangunan fasilitas pengolahan sampah baru juga terus dibahas.

Namun, tanpa pengawasan ketat, kemampuan finansial, dan partisipasi aktif warga, semua upaya ini berisiko menjadi sekadar administratif program tanpa dampak nyata.

Saatnya Bertindak Bersama

Krisis sampah Tangsel adalah tanggung jawab kolektif. Warga perlu memulai langkah paling dasar: memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, dan mendukung program daur ulang. Pemerintah harus mempercepat investasi infrastruktur, memperkuat regulasi, dan memastikan kebijakan berjalan konsisten di lapangan.

Jika masalah ini terus dibiarkan, Tangsel bukan hanya kehilangan citra sebagai kota modern dan layak huni, tetapi juga membahayakan kesehatan generasi mendatang. Sampah yang diabaikan hari ini adalah krisis yang akan kita warisi di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image