Mereka Bisa Berusaha Memahami Kita, Tapi Kapan Kita Belajar Memahami Mereka?
Edukasi | 2025-12-18 22:53:13Di era digital seperti sekarang, akses informasi tentang penyandang disabilitas semakin terbuka. Media sosial, konten video pendek, hingga berbagai kanal edukatif memudahkan masyarakat memahami kebutuhan dan cara berkomunikasi dengan teman-teman disabilitas. Gadget bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi ruang edukasi yang memperkenalkan kita pada keberagaman termasuk bahasa isyarat.
Namun, keterbukaan informasi ini tidak otomatis membuat masyarakat non-disabilitas benar-benar mampu berkomunikasi dengan penyandang tunarungu. Banyak orang non-disabilitas melihat konten bahasa isyarat di media sosial, tetapi tetap belum memahami SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) maupun BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) secara menyeluruh. Padahal, kemampuan ini penting untuk menciptakan ruang sosial yang inklusif dan mengurangi hambatan komunikasi.
Sebelum Era Digital: Komunikasi yang Serba Terbatas
Jika menengok ke belakang, sebelum teknologi berkembang pesat, penyandang tunarungu sepenuhnya mengandalkan komunikasi manual. Akses belajar bahasa isyarat sangat terbatas dan hanya tersedia di komunitas tertentu. Tanpa gadget, komunikasi berlangsung lebih sulit, dan hanya orang tertentu yang paham bahasa mereka.
Ketika media sosial mulai berkembang, banyak penyandang disabilitas membagikan konten edukasi bahasa isyarat. Ini bukan sekadar tren, ini adalah bentuk ajakan agar masyarakat non-disabilitas lebih mengenal bahasa mereka.
Mereka ingin komunikasi berjalan dua arah, tidak hanya mereka yang menyesuaikan diri. Tetapi, konten bahasa isyarat di media sosial tidak selalu akurat. Ada variasi gerakan, perbedaan standar, dan tidak semua mengikuti SIBI atau BISINDO. Karena itu, belajar dari sumber resmi tetap sangat penting.
Akses Belajar yang Belum Merata
Salah satu kendala terbesar adalah akses yang belum merata. Banyak kelas bahasa isyarat yang berbayar, belum luas tersedia di sekolah, dan belum menjadi perhatian utama kampus-kampus di Indonesia. Generasi muda sebenarnya memiliki minat, tetapi sering terhalang biaya atau tidak tahu harus belajar ke mana.
Beberapa kampus sudah bergerak, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Nasional Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (UNAIR) yang memiliki unit layanan disabilitas. Namun, tidak semua kampus memiliki fasilitas serupa.
Mengapa Generasi Muda Perlu Mempelajarinya?
Belajar bahasa isyarat bukan hanya soal kemampuan berbicara dengan tangan. Ini adalah bentuk empati, kepedulian, dan penghargaan terhadap keberagaman cara berkomunikasi.
Dengan memahami bahasa isyarat, generasi muda dapat:
1. mengurangi hambatan komunikasi,
2. menciptakan lingkungan yang lebih ramah disabilitas,
3. memastikan tidak ada yang tertinggal dalam percakapan,
4. mendukung terciptanya masyarakat yang inklusif.
Gadget memang mempermudah proses belajar, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar meniru gerakan lewat layar, melainkan membangun komunikasi yang setara dalam kehidupan nyata. Di sinilah pentingnya literasi bahasa isyarat yang lebih terarah dan dapat diakses oleh siapa pun.
Kesimpulan
Pemanfaatan teknologi digital telah membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal bahasa isyarat. Namun, pemahaman yang benar tetap memerlukan pembelajaran yang terstruktur dan bersumber dari pihak yang kredibel. Ketimpangan akses serta minimnya fasilitas pendidikan membuat kemampuan berkomunikasi dengan penyandang tunarungu belum merata di berbagai daerah.
Karena itu, peningkatan literasi bahasa isyarat perlu menjadi perhatian bersama. Pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas memiliki peran strategis dalam menyediakan program pembelajaran yang inklusif, mudah dijangkau, dan terstandar. Dengan upaya tersebut, hambatan komunikasi dapat diminimalkan sehingga penyandang tunarungu dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial.
Mewujudkan komunikasi yang inklusif bukan hanya bentuk empati, tetapi juga langkah nyata untuk memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang setara dalam berinteraksi sehari-hari.
Daftar Pustaka
World Health Organization. (2023). Deafness and hearing loss.
Murni, R. K., & Padlurrahman. (2023). Peran Vital Bahasa Isyarat Indonesia dalam Membangun Komunikasi dan Integrasi Sosial Anak Tuli. Jurnal KIBASP.
Wulandari, A. E., et al. (2024). Pendidikan Inklusif pada Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia: Tinjauan Literatur Analisis Bibliometrik. Action Research Journal Indonesia (ARJI).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
