Jangan Biarkan Korupsi Menjadi Budaya yang Dimaklumi
Politik | 2025-12-17 21:13:21Redaksi Retizan yang saya hormati,
Belakangan ini, layar televisi dan lini masa media sosial kita terus disuguhi oleh rentetan berita penangkapan pejabat publik yang terjerat kasus korupsi. Ironisnya, berita yang seharusnya menjadi aib besar ini seolah telah bertransformasi menjadi rutinitas harian yang tidak lagi mengejutkan publik. ita berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan ketika korupsi mulai dipandang sebagai "hal yang lumrah" atau risiko pekerjaan bagi pemegang jabatan. Fenomena ini merusak fondasi bangsa, karena uang rakyat yang seharusnya untuk pembangunan justru mengalir ke kantong pribadi.
Setiap rupiah yang dikorupsi memiliki dampak domino yang nyata; mulai dari rusaknya fasilitas umum, rendahnya kualitas pendidikan, hingga tersendatnya layanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Sangat menyakitkan melihat para pelaku korupsi masih bisa tersenyum lebar dan melambaikan tangan di depan kamera seolah tanpa beban, sementara jutaan rakyat harus berjuang mati-matian hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok akibat anggaran yang bocor.
ukuman yang tidak setimpal ini menjadi penyebab utama. Pelaku korupsi jarang sampai kehilangan harta kekayaan hasil korupsi secara total, apalagi hukuman mati untuk kasus fantastis. Selama penjara hanya dianggap sebagai "tempat istirahat sejenak" tanpa adanya upaya pemiskinan yang nyata, para calon koruptor di luar sana tidak akan pernah merasa gentar untuk melakukan hal yang sama. Kita butuh ketegasan hukum yang mampu membuat pelaku kehilangan segala aset hasil kejahatannya.
Sudah saatnya sistem hukum kita menerapkan hukuman yang benar-benar memberikan efek jera, termasuk percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset. Koruptor harus dimiskinkan dan dicabut hak politiknya secara permanen agar mereka tidak memiliki celah untuk kembali berkuasa. Hukum jangan hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Jika seorang pencuri kecil demi kebutuhan perut dihukum berat, maka para koruptor yang merampok hak hidup jutaan orang seharusnya menerima hukuman yang berkali-kali lipat lebih berat, tanpa kompromi dan tanpa remisi yang tidak masuk akal.
Melalui surat ini, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lelah menyuarakan sanksi sosial bagi para koruptor dan terus menagih janji ketegasan dari aparat penegak hukum. Kita tidak boleh membiarkan korupsi menjadi budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang. Indonesia yang bersih dan bermartabat hanya bisa terwujud jika kita berani menolak segala bentuk kompromi terhadap korupsi. Mari kita kawal setiap kebijakan dan tindak tegas setiap penyimpangan, karena diam saat melihat korupsi adalah bentuk persetujuan terhadap kehancuran negeri ini.
Hormat saya,
Acep Lesmana
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
