Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fadiah Najlakayla

Saat Halaman Buku Novel Menjadi Jeda di Tengah Tumpukan Tugas

Gaya Hidup | 2025-12-17 20:13:43

Jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sering membuat mahasiswa mencari cara untuk meredakan stres yang sesuai dengan diri mereka masing-masing. Ada yang memilih nongkrong di kafe bersama teman, menghabiskan waktu dengan menonton drama, mencari ketenangan lewat healing ke alam. Di antara beragam pelarian itu, membaca buku juga kerap menjadi pilihan yang sederhana. Tanpa perlu pergi jauh, mahasiswa cukup membuka halaman demi halaman cerita untuk sejenak menjauh dari tekanan akademik.

Nadia salah satunya, mahasiswi semester lima yang menjadikan membaca buku sebagai pelarian di tengah padatnya tugas kuliah. Ketertarikannya pada dunia baca tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. “Kalau mulai suka baca buku tuh pas kelas 5 apa 6 SD gitu, yang bener-bener kenal sama novel, ada namanya PACI Penulis Anak Cerdas Indonesia.” ujarnya.

Kebiasaan membaca yang telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar itu berlanjut hingga sekarang, terus ia bawa hingga menjadi seorang mahasiswa. Di tengah kesibukan kuliah dan tumpukan tugas yang seringkali datang bersamaan, membaca novel menjadi cara Nadia mencuri waktu untuk beristirahat sejenak. Aktivitas membaca ini ia manfaatkan sebagai jeda singkat untuk menenangkan pikiran dan membangun mood sebelum kembali fokus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

“Biasanya weekend ya tapi kadang-kadang weekday juga, kalau misalkan nyari mood buat nugas biasanya suka baca buku novel dulu kayak 30 menit,” katanya.

Meski kerap dilakukan di sela-sela kesibukan, kebiasaan membaca tidak selalu menuntut waktu yang panjang. Bagi mahasiswa, beberapa halaman yang dibaca di tengah jadwal padat sudah cukup memberi jeda mental. Aktivitas ini menjadi alternatif pelarian yang lebih tenang dibanding hiruk-pikuk aktivitas lain, sekaligus membantu menjaga emosi agar tidak larut dalam tekanan tugas yang terus berdatangan.

Kebiasaan membaca tersebut ternyata juga memberi pengaruh pada keseharian Nadia. Cerita-cerita dalam novel memberinya sudut pandang baru, menumbuhkan empati, juga sekaligus menjadi penyemang kecil yang membuatnya lebih siap kembali menghadapi tugas-tugas dan deadline yang menanti.

Di lingkungan kampus, kebiasaan membaca juga biasa dipengaruhi oleh ketersediaan waktu dan suasana. Perpustakaan, ruang baca dan sudut-sudut sepi di kamar tidur menjadi tempat-tempat yang dipilih mahasiswa untuk menyelami bacaan mereka. Meskipun dilakukan dalam waktu singkat, aktivitas membaca ini tetap memberi dampak yang terasa

Melalui cerita dan karakter yang ia temui dalam novel, Nadia belajar memahami berbagai sisi kehidupan dan perasaan manusia. Kebiasaan ini membuatnya lebih peka dan tidak mudah menilai orang dari permukaan, sekaligus membantu menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan perkuliahan.

Di tengah budaya yang serba cepat dan kebiasaan multitasking yang lekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa, membaca buku kerap dianggap sebagai aktivitas yang memakan waktu. Padahal bagi sebagian orang, membaca justru menjadi cara untuk kembali terhubung dengan diri sendiri. Tanpa distraksi notifikasi media sosial dan tuntutan untuk terus produktif, membaca menjadi ruang hening yang jarang ditemui dalam keseharian mahasiswa.

Di tengah dinamika perkuliahan yang semakin cepat dan tugas yang terus bertambah, mahasiswa dituntut untuk pandai mengenali kebutuhan diri sendiri. Jeda-jeda kecil yang sering dianggap sepele justru memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan fokus dalam belajar. Membaca buku, bisa menjadi salah satu cara untuk memperlambat langkah sejenak serta membantu kembali menghadapi tugas dan tanggung jawab dengan pikiran yang lebih jernih.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image