Relasi Cair ala Generasi Z
Lainnnya | 2025-12-17 00:30:14
Belakangan ini, linimasa TikTok dipenuhi cerita tentang hubungan tanpa status (HTS) dan pacaran beda agama. Dari video curhat, story time, hingga potongan momen romantis, dua pola relasi ini tampak semakin dinormalisasi bahkan dirayakan terutama oleh Generasi Z. Di tengah komentar warganet, muncul narasi yang berulang yaitu tentang HTS dianggap lebih sederhana dan tidak ribet, sementara pasangan beda agama justru dipersepsikan lebih dewasa, toleran, dan bahkan green flag.
Fenomena ini menandai perubahan penting dalam cara generasi muda memaknai relasi intim. Hubungan romantik tidak lagi selalu dipahami sebagai ikatan formal dengan label “pacaran”, melainkan sebagai ruang negosiasi yang fleksibel. HTS, misalnya, menawarkan kedekatan emosional tanpa beban status. Dalam relasi ini, individu merasa tidak terikat oleh tuntutan sosial seperti kewajiban publikasi hubungan, ekspektasi kesetiaan formal, atau arah relasi menuju pernikahan.
Bagi banyak anak muda, HTS hadir sebagai respons atas kekecewaan terhadap relasi konvensional. Narasi tentang perselingkuhan, hubungan toxic, dan drama pacaran kerap menjadi alasan untuk menghindari status. Dengan tidak memberi label, relasi dianggap lebih aman secara emosional. Jika sewaktu-waktu berakhir, rasa kehilangan dianggap lebih mudah dikelola karena sejak awal “tidak ada janji”.
Namun, relasi tanpa status bukan berarti tanpa risiko. Justru karena tidak ada kejelasan, HTS sering menyimpan ambiguitas. Siapa berhak cemburu? Sejauh mana komitmen berlaku? Ketika ekspektasi tidak dibicarakan secara terbuka, relasi yang dimaksudkan agar tidak ribet justru berpotensi menyisakan luka yang tak kalah rumit.
Di sisi lain, pacaran beda agama juga semakin terlihat sebagai praktik relasi yang sah secara sosial, meskipun secara struktural masih menyimpan banyak tantangan. Di TikTok, pasangan beda agama kerap digambarkan saling menghormati, komunikatif, dan tidak posesif. Menariknya, sebagian warganet justru menilai pasangan laki-laki beda agama sebagai green flag karena dianggap lebih pengertian dibanding pasangan seagama.
Narasi ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas. Kesamaan keyakinan tidak lagi dianggap sebagai fondasi utama relasi. Sebaliknya, kualitas afektif seperti empati, rasa aman, dan komunikasi menjadi lebih penting. Dalam relasi beda agama, perbedaan sejak awal memaksa pasangan untuk berdialog dan bernegosiasi, sesuatu yang justru dipersepsikan sebagai tanda kedewasaan emosional.
Dari perspektif sosiologis, fenomena HTS dan pacaran beda agama dapat dibaca sebagai bagian dari proses individualisasi relasi. Relasi intim tidak lagi sepenuhnya diatur oleh norma agama, keluarga, atau institusi sosial, melainkan oleh kesepakatan personal. Cinta menjadi proyek reflektif yang terus dinegosiasikan, bukan sekadar mengikuti skrip sosial yang diwariskan.
Media sosial mempercepat proses ini. TikTok, dengan algoritmanya, mengangkat pengalaman personal menjadi wacana kolektif. Cerita yang dulu bersifat privat kini membentuk standar baru tentang relasi “ideal”. Dalam ruang ini, validasi publik berperan besar dalam menormalisasi pilihan relasi yang sebelumnya dianggap menyimpang.
Meski demikian, romantisasi relasi cair juga perlu dibaca secara kritis. Baik HTS maupun pacaran beda agama kerap ditampilkan secara manis, tanpa menyinggung tantangan jangka panjang. HTS bisa melanggengkan ketimpangan emosional, sementara relasi beda agama tetap berhadapan dengan tekanan keluarga, aturan hukum, dan persoalan keberlanjutan relasi di masa depan.
Namun, pilihan Generasi Z untuk menjalani relasi-relasi ini tidak bisa semata-mata dibaca sebagai penolakan terhadap nilai lama. Ia justru mencerminkan upaya mencari bentuk relasi yang dirasa lebih manusiawi, aman, dan sesuai dengan realitas hidup yang serba tidak pasti. Di tengah ketidakstabilan ekonomi, sosial, dan emosional, fleksibilitas menjadi nilai yang penting.
Pada akhirnya, maraknya HTS dan pacaran beda agama menunjukkan bahwa relasi hari ini semakin cair. Tantangan utamanya bukan terletak pada bentuk relasi itu sendiri, melainkan pada bagaimana relasi dijalani. Tanpa komunikasi yang jujur dan kesadaran emosional, kebebasan justru dapat berubah menjadi sumber ketidakadilan baru.
Relasi boleh berubah bentuk. Namun, tanggung jawab, empati, dan kesetaraan seharusnya tetap menjadi fondasi apa pun statusnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
