Indonesia Darurat Membaca: Indonesia Menuju Kehancuran
Pendidikan dan Literasi | 2025-12-05 08:02:42UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda tentang World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Sedangkat survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat.
Fakta di atas bukanlah suatu hal yang sepele, melainkan sangat berdampak bagi perkembangan negara, karena literasi adalah suatu hal mendasar yang harusnya dimiliki atau dilakukan oleh manusia.
Pada dasarnya literasi adalah kemampuan membaca, menulis, berbicara, mengolah dan menggunakan informasi secara efektif, sehingga kita dapat memecahkan suatu masalah, berpikir kritis dan bijaksana dalam memutuskan segala sesuatu.
Seringkali juga saya temukan di banyak lingkungan anak muda yang menormalisasi malas membaca atau mengolah informasi, sehingga informasi yang didapatkan menjadi salah tafsir. Hal ini tentu menjadi ancaman besar bagi perkembangan negara, karena untuk hal-hal sepele saja, bisa terjadi salah paham, apalagi untuk hal-hal besar lainnya yang menanti negeri ini.
Sebagai penerus bangsa, kita bisa meningkatkan minat literasi dengan membaca hal-hal ringan seperti novel, komik, pantun, atau puisi. Di era digital ini, kita sudah terlalu melekat dengan teknologi, terkadang kita juga perlu melepas kebiasaan tersebut dengan membaca buku untuk sekedar menghibur diri. Ada banyak hal juga yang bisa kita dapatkan di dalam buku.
Menurut saya, membaca novel sama saja seperti kita memiliki kehidupan lain dari sudut pandang yang berbeda. Banyak hal-hal baru juga yang saya dapatkan, yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui, dan bukan hanya membaca saja, kita juga bisa menulis jurnal, novel, pantun, atau puisi untuk mencurahkan segala yang ada di benak kita.
Di era teknologi ini, sudah banyak platform menulis yang memudahkan kamu untuk menulis. Untuk saat ini, menulis hal-hal yang relate akan lebih banyak menarik perhatian anak-anak muda, karena merasa ada ketertarikan batin, karena telah mewakili perasaan atau keadannya.
Ketika minat baca sudah mulai tumbuh, maka dengan alami kamu akan mulai tertarik dengan buku-buku pengetahuan lainnya (non-fiksi). Diharapkan hal-hal kecil di atas dapat meningkatkan minat literasi anak-anak bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
