Radiologi di Balik Layar: Peran Penting Mammografi dalam Deteksi Kanker Payudara
Teknologi | 2025-12-03 15:22:38Ketika berbicara tentang dunia medis, pikiran kita sering langsung teringat pada dokter dan perawat. Namun ada satu bidang yang bekerja “di balik layar” tapi memegang peran penting dalam menentukan arah diagnosis, yaitu radiologi. Melalui berbagai teknologi pencitraan, radiologi membantu tenaga kesehatan melihat bagian tubuh yang tidak bisa teramati secara langsung. Mulai dari tulang yang retak, organ yang bermasalah, hingga benjolan kecil.
Radiologi dan Ragam Teknologi di Dalamnya
Jika masuk ke ruang radiologi, kita akan menemukan beragam alat dengan fungsi berbeda-beda. Beberapa yang paling sering digunakan antara lain
- X-ray (Rontgen) untuk memeriksa tulang dan area dada.
- CT Scan untuk melihat irisan tubuh secara detail.
- USG sebagai pencitraan tanpa radiasi, umum digunakan pada kehamilan dan organ lunak.
- MRI yang mengandalkan magnet untuk menampilkan jaringan lunak.
- Fluoroskopi untuk melihat pergerakan organ secara real-time.
- Panorama untuk memetakan struktur gigi dan rahang bawah.
- Dan tentu saja, Mammografi, alat khusus yang memeriksa jaringan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah.
Di balik fungsi semua alat tersebut, ada satu profesi yang jarang terlihat namun memiliki tanggung jawab besar: radiografer.
Radiografer adalah tenaga kesehatan yang menjalankan seluruh alat pencitraan. Mereka memastikan gambar yang dihasilkan cukup jelas untuk dibaca dokter, sekaligus menjaga agar pasien tetap aman, terutama dalam hal paparan radiasi.
Prinsip keselamatan radiasi seperti ALARA (As Low As Reasonably Achievable) menjadi pegangan utama. Artinya, radiasi yang diberikan serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas gambar. Dalam pemeriksaan mammografi, peran radiografer semakin penting karena diperlukan ketelitian, teknik khusus, serta kemampuan memberikan rasa nyaman kepada pasien.
Menurut Abu-Helalah dkk. (2025) , skrining mammografi secara konsisten berhubungan dengan penurunan mortalitas kanker payudara karena teknik pencitraannya memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mammografi merupakan metode yang sangat efektif untuk mendeteksi kanker payudara pada tahap dini, bahkan sebelum gejala klinis muncul. Peran radiografer dalam menghasilkan citra mamografi yang akurat juga memberikan kontribusi penting dalam upaya menjaga kesehatan perempuan.
Mengapa Mammografi Penting bagi Perempuan?
Kanker payudara adalah salah satu penyakit yang paling banyak dialami perempuan di seluruh dunia. Kabarnya bagus, peluang penyembuhan meningkat tajam jika kanker ditemukan pada tahap awal. Mammografi mampu mendeteksi perubahan kecil pada jaringan payudara jauh sebelum bisa dirasakan secara fisik.
Dengan kata lain, mammografi bekerja seperti “alarm dini” yang memberi kesempatan lebih besar bagi perempuan untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
Radiologi bukan sekadar sekumpulan mesin modern. Di belakangnya terdapat radiografer yang bekerja dengan ketelitian dan empati, memastikan setiap gambar dapat membantu dokter mengambil keputusan yang tepat. Keahlian keterampilan radiografer sangat dibutuhkan, tidak hanya secara teknis tetapi juga dalam memberikan penjelasan dan ketenangan kepada pasien. Mammografi adalah contoh bagaimana teknologi dan keahlian manusia saling melengkapi demi satu tujuan: menjaga kesehatan perempuan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, mammografi bukan lagi pemeriksaan yang menakutkan, tetapi langkah bijak untuk merawat diri dan masa depan.
Refrensi
Abu-Helalah, A., Smith, J., Kumar, V., & Lee, S. (2025). Nilai skrining mamografi untuk kanker payudara: Tinjauan 28 sistematisasi dengan pemetaan bukti. Jurnal Penelitian Kanker dan Onkologi Klinis, 151(4), 1123–1138. https://link.springer.com/article/10.1007/s00432-025-06122-z
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
