Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabila Azizia

Dokter Hewan Muda dan Realitas yang Sering Diabaikan

Pets and Garden | 2025-12-02 19:59:51
Sumber: Unsplash

Di tengah meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap hewan peliharaan, profesi dokter hewan seharusnya mendapat perhatian lebih. Namun, kenyataannya, sebagian besar pekerjaan dokter hewan, terutama dokter hewan muda masih sering dipandang sebelah mata. Masyarakat menikmati hasilnya, tetapi jarang memahami proses panjang yang harus dilalui di balik itu.

Sebagai mahasiswa kedokteran hewan, saya melihat dari dekat betapa beratnya perjalanan menuju gelar profesi ini. Kurikulum padat, praktikum intens, jam klinik panjang, dan tuntutan untuk memahami berbagai spesies hewan membuat proses pendidikan tidak bisa disamakan dengan program studi lain. Namun meski pendidikan berlangsung keras, ekspektasi publik terhadap profesi ini masih cenderung minimal: “yang penting hewannya sehat.”

Padahal kontribusi dokter hewan jauh melampaui klinik hewan. Dokter hewan muda bekerja di garis depan pengendalian zoonosis, penyakit dari hewan yang bisa menular ke manusia. Rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis bukan sekadar istilah dalam buku, tetapi ancaman nyata yang mereka hadapi setiap hari. Pelayanan ini seharusnya dianggap bagian dari sistem kesehatan nasional, bukan sekadar tambahan yang bisa diabaikan.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak dokter hewan muda bekerja dengan fasilitas terbatas, terutama yang bertugas di daerah. Mereka harus mengambil keputusan cepat dalam kondisi serba minim. Ketika hewan baru dibawa ke klinik dalam keadaan kritis, beban bukan hanya teknis, tetapi juga emosional. Di satu sisi mereka ingin menolong, di sisi lain mereka harus menghadapi tuntutan pemilik hewan yang sering datang terlambat.

Persoalan lain yang jarang dibicarakan adalah penghargaan terhadap profesi. Banyak orang menganggap dokter hewan berada jauh di bawah profesi medis lain, padahal mereka memegang peran strategis dalam keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Daging, susu, dan produk turunan yang kita konsumsi setiap hari tidak akan aman tanpa pengawasan dokter hewan. Ini fakta yang jarang disadari publik.

Dokter hewan muda juga menghadapi tekanan untuk terus mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Mereka dituntut memahami diagnosis modern, manajemen kasus, komunikasi dengan pemilik hewan, hingga penggunaan media digital. Beban keterampilan ini tidak kecil, tetapi justru jarang diperhitungkan dalam penilaian masyarakat terhadap profesi ini.

Meski begitu, generasi dokter hewan muda membawa harapan. Banyak dari mereka memilih jalur karier yang lebih luas: konservasi satwa, pengembangan nutrisi hewan, bioteknologi, industri pangan, hingga wirausaha. Semangat untuk memperbaiki kondisi kesehatan hewan di Indonesia sangat terasa. Namun, upaya ini akan lebih bermakna jika diikuti peningkatan pemahaman dan dukungan dari masyarakat.

Sudah saatnya profesi dokter hewan, terutama dokter hewan muda dipandang sebagai elemen penting dalam kesehatan nasional. Mereka tidak hanya merawat hewan peliharaan, tetapi menjaga jembatan kesehatan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Mengabaikan peran mereka berarti mengabaikan bagian penting dari kesehatan publik.

Dokter hewan muda mungkin masih berada di awal perjalanan, tetapi kerja mereka nyata. Mereka tidak hanya menyentuh kehidupan hewan, tetapi juga menjaga kehidupan manusia. Dan sudah waktunya masyarakat mengakui hal itu dengan lebih serius.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image