Analis Kesehatan: Garda Terdepan dalam Penanganan Kasus TBC
Pendidikan dan Literasi | 2025-11-27 00:22:10
Jika membicarakan TBC, tidak akan ada habisnya. Penyakit tersebut selalu menjadi momok bagi masyarakat. Menurut Global TB Report 2023 yang dirilis World Health Organization (WHO), penyakit TBC menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian pada tahun 2022. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah kasus TBC dunia meningkat dari 10 juta pada 2020 menjadi 10,3 juta pada 2021 dan kembali naik menjadi 10,6 juta pada 2022. TBC merupakan masalah kesehatan yang mengancam semua negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) dalam Global TB Report 2024, kasus TBC di Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak setelah India. Diproyeksikan lebih dari 1 juta kasus dan 125 ribu kematian terjadi setiap tahun, artinya terdapat sekitar 14 kematian setiap jamnya. Penyakit ini sangat berbahaya karena telah memakan banyak jiwa.
TBC (tuberkulosis) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru, tetapi pada tingkat yang lebih parah dapat menyerang tulang belakang, otak, ginjal, dan bagian tubuh yang lain. Gejala TBC meliputi batuk terus-menerus lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, lemah, letih, lesu, demam hilang timbul, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas fisik, batuk darah, dan sesak napas.
TBC ditularkan melalui droplet penderita saat batuk, bersin, atau meludah. Droplet yang mengandung bakteri tersebut menyebar melalui udara, lalu terhirup oleh orang yang kondisi imunnya sedang lemah. Individu dengan kondisi imun lemah lebih rentan tertular, seperti penderita HIV atau penyakit imunokompromais lain. Namun, penyakit TBC tidak mudah menular begitu saja; seseorang harus berinteraksi dalam waktu yang lama dengan penderita. Oleh karena itu, diperlukan deteksi dini agar pasien cepat diobati sehingga penyebaran infeksi dapat dikurangi.
Terdapat beberapa jenis tes untuk mendiagnosis TBC. Pertama, tes kulit tuberkulin Mantoux, yaitu tes yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan yang mengandung protein TBC ke kulit lengan bawah pasien. Kedua, tes cepat molekular TBC (TCM TBC), yakni tes yang dilakukan dengan mengambil sampel dahak (sputum); apabila sampel dahak sulit diperoleh, dapat menggunakan bilasan lambung atau feses. Ketiga, pemeriksaan analisis dahak, yang menggunakan sampel dahak atau sekret paru. Pada pemeriksaan ini, pasien diminta batuk dan mengeluarkan dahaknya ke dalam pot sampel untuk dianalisis guna mendeteksi kuman TBC. Keempat, tes interferon gamma release assay (IGRA), yaitu tes TBC yang dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien. Terakhir, rontgen dada; ketika seseorang terinfeksi TBC, jaringan paru-paru dapat mengalami kerusakan yang pada foto rontgen terlihat sebagai bintik atau bercak berwarna putih.
Para tenaga kesehatan berjuang dalam memerangi TBC. Dokter dan perawat sibuk mencegah dan mengobati pasien untuk menekan jumlah kasus tersebut. Selain dokter dan perawat, ada juga analis kesehatan yang perannya tidak kalah penting. Analis kesehatan dapat disebut sebagai sosok di balik layar dalam mendiagnosis penyakit. Analis kesehatan, atau disebut juga ahli teknologi laboratorium medik (ATLM), adalah profesi di bidang kesehatan yang memiliki keahlian dalam melakukan analisis spesimen di laboratorium.
Mereka melakukan analisis sampel, seperti urin, dahak, darah, dan jaringan tubuh manusia untuk menghasilkan informasi diagnostik yang tepat. Walaupun analis kesehatan memiliki prospek kerja yang baik, masih banyak orang yang tidak mengetahui profesi tersebut. Analis kesehatan tidak sepopuler dokter, perawat, ataupun bidan karena mereka bekerja di laboratorium dan jarang bertemu langsung dengan pasien. Maka dari itu, peran analis kesehatan masih kurang dihargai dan sering dianggap kurang penting. Padahal, diagnosis dokter sangat bergantung pada hasil analisis laboratorium. Dokter berkolaborasi dengan analis kesehatan untuk menghasilkan diagnosis yang tepat.
Lalu, dalam penanganan kasus TBC, apa peran seorang analis kesehatan? Analis kesehatan memegang peran yang sangat penting. Salah satu tugas utama mereka adalah melakukan pengambilan dan pemeriksaan spesimen dahak (sputum) karena melalui sampel ini keberadaan bakteri penyebab TBC dapat diketahui. Pemeriksaan dahak membutuhkan ketelitian tinggi agar hasilnya akurat. Selain itu, analis kesehatan juga bertanggung jawab mengambil sampel darah pasien. Pemeriksaan darah ini diperlukan untuk melihat respons sistem imun tubuh terhadap infeksi TBC serta membantu dokter menentukan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dengan demikian, analis kesehatan berperan sebagai pihak yang mengonfirmasi bahwa proses diagnosis berjalan dengan benar sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
Menjadi seorang analis kesehatan tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus mereka hadapi setiap hari. Salah satunya adalah tingginya risiko terpapar berbagai penyakit menular karena mereka berhadapan langsung dengan sampel dari pasien, seperti darah, dahak, urin, feses dan cairan tubuh lainnya. Selain itu, analis kesehatan dituntut untuk terus mengikuti perkembangan teknologi, mulai dari alat laboratorium yang semakin canggih hingga metode pemeriksaan terbaru yang memerlukan keterampilan khusus. Mereka juga memegang tanggung jawab besar terhadap keakuratan hasil pemeriksaan karena sedikit saja kesalahan dapat memengaruhi diagnosis dan pengobatan pasien. Oleh sebab itu, hasil pemeriksaan yang valid sangat krusial untuk menjamin pasien mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan adanya analis kesehatan, deteksi dini penyakit dapat dilakukan dengan lebih mudah. Jika suatu penyakit berhasil dideteksi lebih awal, maka pengobatan dapat segera diberikan sehingga dapat menurunkan jumlah kasus. Dengan demikian, julukan “garda terdepan” layak disematkan kepada analis kesehatan. Selain itu, apresiasi yang sebesar-besarnya juga pantas mereka dapatkan. Tanpa mereka, dokter akan kesulitan menentukan diagnosis penyakit, sulit menemukan pengobatan yang sesuai, dan angka kasus penyakit akan sulit ditekan. Semoga dengan adanya artikel ini, masyarakat semakin mengenal dan menghargai keberadaan analis kesehatan.
Daftar Pustaka
Astuti, P. et al., 2021. Peningkatan Citra Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Melalui Webinar Profesi. Jurnal Inovasi & Terapan Pengabdian Masyarakat, 1(1), pp. 18-23. https://doi.org/10.35721/jitpemas.v1i1.13
Simamarta, S. O. et al., 2024. Laporan Hasil Studi Inventori Tuberkulosis Indonesia 2023-2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
