Dinamika Pelayanan Rumah Sakit dari Tenaga Kesehatan hingga Fasilitas
Edukasi | 2025-11-26 22:43:47
Memasuki area rumah sakit, saya langsung melihat beragam ekspresi dari para pengunjung maupun pasien, ada yang tampak sedih, khawatir, ada pula yang terlihat tenang, dan beberapa tampak panik. Di tengah perbedaan suasana tersebut, aktivitas tenaga kesehatan terus berlangsung tanpa henti. Dari pengamatan ini, saya mulai memahami dinamika salah satu rumah sakit di Surabaya yang selalu bergerak cepat dalam menangani berbagai kondisi pasien. Selama di sana, saya dapat mengamati berbagai aktivitas tenaga kesehatan dan proses pelayanan yang berlangsung di IGD. Pengalaman ini memberikan saya sudut pandang baru tentang bagaimana teori yang kami pelajari di kampus diterapkan secara nyata.
Saat berada di IGD, saya melihat tenaga kesehatan yang tengah menangani pasien dengan tingkat kegawatdaruratan yang berbeda. Cara beliau melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga memberikan penjelasan kepada pasien terlihat sangat terstruktur. Setiap tindakan dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti prosedur yang sesuai. Meskipun kondisi IGD cukup ramai dengan pasien yang berdatangan secara bergantian, para tenaga kesehatan tetap mampu menjaga ketenangan. Penjelasannya kepada pasien pun tetap jelas dan mudah dipahami. Hal ini membuat saya menyadari bahwa seorang tenaga kesehatan tidak hanya dituntut untuk memahami aspek medis, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik dalam situasi yang cepat dan penuh tekanan.
Selama observasi, terlihat bagaimana perawat memiliki peran penting dalam menunjang kinerja dokter dan menjaga keselamatan pasien. Perawat bekerja secara cepat dan terorganisir mulai dari menyiapkan alat, memasang infus, hingga memantau kondisi pasien secara berkala. Salah satu hal yang menjadi perhatian saya adalah ketika terdapat seorang pasien terbaring di salah satu brankar IGD. Perawat yang bertugas tidak semerta-merta meninggalkan pasien tersebut, melainkan terus mendampingi, mengecek tanda vital, dan memastikan bahwa infus serta alat yang digunakan berfungsi dengan baik. Kehadiran perawat yang selalu dekat dengan pasien membuat saya melihat secara langsung betapa besar peran mereka dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.
Fasilitas IGD di rumah sakit tersebut juga cukup lengkap. Terdapat monitor pasien, defibrillator, alat resusitasi, serta perlengkapan lain yang digunakan untuk penanganan gawat darurat. Semua peralatan terlihat tertata dan siap digunakan kapan pun dibutuhkan. Selain itu, terdapat ruang isolasi yang diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit menular. Ruang ini dirancang untuk mencegah penyebaran infeksi ke pasien lain maupun tenaga medis. Dengan adanya ruang isolasi yang khusus dan terpisah, proses penanganan pasien infeksius dapat dilakukan lebih aman dan terkontrol.
Di lantai IGD juga terdapat garis-garis berwarna yang menjadi penanda jalur triase. Setiap warna menggambarkan tingkat kegawatdaruratan pasien. Menurut Rahmadani (2020), sistem triase dibagi menjadi 4 warna, yakni warna merah sebagai prioritas utama, diperuntukkan bagi pasien yang membutuhkan pertolongan segera, bila tidak segera ditangani akan mengancam jiwa pasien; warna kuning menjadi prioritas kedua dimana pasien yang masuk dalam kategori ini berada dalam kondisi yang tidak kritis, namun membutuhkan pertolongan segera; warna hijau sebagai prioritas ketiga melabelkan pasien dengan kondisi yang tidak serius, memiliki cedera ringan, dan masih mampu berjalan atau mencari pertolongan sendiri; serta warna terakhir yakni warna hitam, hanya diperuntukkan bagi pasien yang sudah tidak memungkinkan untuk ditolong atau sudah meninggal. Dengan adanya warna-warna triase, tenaga medis dapat mengarahkan pasien ke ruang yang sesuai dengan lebih cepat dan tepat. Sistem ini membantu memperlancar alur pelayanan, terutama ketika banyak pasien datang dalam waktu bersamaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
