Dinamika Diplomasi Iklim di COP30: Antara Harapan dan Realitas
Info Terkini | 2025-11-26 14:41:31COP30 di Belém: Tantangan Perubahan Iklim dan Jalan ke Depan
Pada 10–21 November 2025 dunia berkumpul di Belém, Brasil, untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB yang ke-30 (COP30). Lokasi di tepi Amazon bukan kebetulan: tuan rumah ingin menegaskan bahwa nasib hutan tropis, emisi global, dan kesejahteraan manusia saling terkait erat. Namun hasil pertemuan ini menunjukkan betapa rapuhnya konsensus global ketika kepentingan geopolitik, ekonomi, dan tekanan domestik bertabrakan.
Apa yang terjadi di Belém
COP30 menutup sesi dengan sejumlah keputusan dan inisiatif, tetapi juga meninggalkan kekecewaan bagi banyak pihak. Negosiasi formal gagal mengunci komitmen mengikat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil atau menghentikan deforestasi dalam bentuk yang diinginkan oleh kelompok negara paling ambisius. Sebagai gantinya, muncul serangkaian inisiatif dan “roadmap” yang bersifat sukarela—beberapa dipromosikan oleh Presidensi Brasil di luar teks keputusan resmi PBB, dan beberapa dikembangkan oleh “coalition of the willing” negara-negara yang siap bergerak lebih cepat. (Reuters)
Titik-titik kritis hasil COP30
- Tidak ada kesepakatan mengikat soal fase-out bahan bakar fosil. Banyak negara mendesak agar pernyataan resmi menyebutkan langkah transisi dari minyak, gas, dan batu bara; tetapi oposisi dari beberapa negara penghasil energi membuat bahasa itu dihapus atau dilemahkan dalam teks akhir. Presidensi Brasil berjanji untuk mendorong roadmaps transisi di luar mekanisme formal COP, namun sifatnya tetap sukarela.
- Penekanan pada alam dan hutan—tapi tanpa kata-kata yang mengikat. Isu perlindungan hutan dan restorasi lanskap mendapat perhatian besar, dan ada paket pendanaan serta inisiatif terkait pelestarian dan restorasi. Meski begitu, langkah konkret untuk menghentikan deforestasi global dalam cara yang mengikat tidak tercapai; solusi yang dihasilkan lebih banyak berupa program pendanaan, kerja sama teknis, dan inisiatif sukarela.
- Kenaikan pembiayaan tetapi belum cukup. COP30 memunculkan agenda aksi (Action Agenda) yang menarik janji investasi besar-besaran di sektor hijau: kombinasi investasi publik dan swasta yang mencapai ratusan miliar dolar dalam berbagai instrumen. Namun para ilmuwan dan pemimpin negara berkembang menegaskan bahwa angka ini masih jauh dari target yang diperlukan untuk adaptasi dan mitigasi, terutama untuk negara-negara yang paling rentan.
- Geopolitik dan lobby kuat memengaruhi hasil. Pertemuan menunjukkan polarisasi global—sejumlah negara pun bersikap menahan diri atau aktif menghalangi bahasa yang menargetkan industri fosil. Di sisi lain, kelompok negara, kota, perusahaan, dan investor mulai membangun jalur kerja alternatif yang lebih cepat daripada diplomasi multilateral formal. Ini memperlihatkan perubahan strategi: ketika proses resmi mandek, aksi di luar forum PBB jadi tumpuan.
Mengapa hasil COP30 terasa “tidak cukup” menurut ilmuwan dan aktivis
Dari perspektif ilmiah, dunia sedang menghadapi ambang bahaya iklim: penambahan emisi dalam dekade mendatang menentukan apakah kita bisa menahan pemanasan di bawah batas-batas yang relatif aman. Karena itu banyak ilmuwan menilai bahwa jalan menuju dekarbonisasi harus lebih cepat dan terukur — bukan sekadar janji sukarela. COP30 memang mendorong beberapa inisiatif penting (mis. perlindungan hutan, peningkatan adaptasi), tetapi tanpa roadmap yang memaksa penurunan emisi bahan bakar fosil dalam skala global, peluang mencapai target iklim utama menjadi kecil.
Dampak praktis bagi negara berkembang (termasuk Indonesia)
- Pembiayaan adaptasi: janji-janji baru dapat membantu mengurangi kerentanan (mis. infrastruktur tahan iklim, sistem peringatan dini), tetapi mekanisme pencairan dana dan syaratnya harus jelas agar negara rentan benar-benar menerima manfaat.
- Teknologi dan transfer kapasitas: inisiatif pada teknologi bersih harus disertai kemampuan transfer teknologi dan pembangunan kapasitas lokal agar tidak terjadi ketergantungan.
- Perlindungan hutan dan hak masyarakat adat: fokus pada Amazon membuka dialog tentang peran komunitas lokal dan masyarakat adat—pelibatan mereka menjadi kunci pelaksanaan program di lapangan.
Positif yang layak dicatat
Walau formalitas diplomatik sering kali lambat, COP30 memacu beberapa hal berguna:
- Mengalirnya investasi swasta yang besar ke energi terbarukan dan proyek alam (restorasi, ekosistem).
- Munculnya “koalisi negara” yang lebih ambisius untuk isu-isu tertentu, menunjukkan bahwa proses multipihak dapat berjalan paralel dengan forum PBB.
Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
- Perkuat NDC (Nationally Determined Contributions). Negara-negara perlu segera memperbarui dan memperketat target IKN mereka dengan rencana terukur untuk 2030 dan 2050.
- Buat mekanisme pembiayaan yang cepat dan mudah diakses. Target tri-lipat pembiayaan adaptasi perlu disertai mekanisme yang menurunkan hambatan administratif bagi negara-negara kecil.
- Dorong aksi sub-nasional dan sektor swasta. Kota, provinsi, perusahaan besar, dan investor harus terus mempercepat transisi; ketika diplomasi global melambat, aksi non-negara dapat menutup celah.
- Jaga solidaritas internasional dan reformasi proses COP. Jika proses konsensus terus dipolitisasi sehingga menghambat tindakan, perlu ada pemikiran ulang tentang bagaimana diplomasi iklim bisa lebih efektif dan responsif.
Penutup — COP30 sebagai panggilan membangun, bukan akhir
COP30 memberi pelajaran penting: kita hidup dalam realitas politik dan ekonomi yang kompleks. Hasilnya campur aduk—ada kemajuan di beberapa bidang dan kegagalan di bidang lain. Yang jelas, krisis iklim tidak menunggu teks diplomatik sempurna. Jalan ke depan memerlukan kombinasi kebijakan publik yang jelas, pembiayaan yang nyata, inovasi teknologi, dan tekanan masyarakat sipil agar transisi yang adil dan cepat menjadi kenyataan. COP30 bukan lampu merah terakhir — tetapi alarm untuk mempercepat langkah dan memperluas cara kita bekerjasama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
