Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rayya Amelia

Menjadi Tenaga Ahli K3, Kerjanya Seperti Apa?

Eduaksi | 2025-11-25 12:17:13

Saat ini, bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 menjadi pekerjaan yang semakin banyak diminati. Minat ini meningkat karena lapangan kerjanya tersedia di berbagai sektor, seperti rumah sakit, industri, manufaktur, serta perusahaan minyak dan gas. Peluang untuk memulai karier di bidang ini juga cukup fleksibel. Siapa saja yang ingin menekuni profesi ini dapat mengikuti pelatihan ahli K3 tanpa memandang latar belakang pendidikan terakhir.

Dilansir dari laman Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia, K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Aturan tersebut menjadi dasar penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) di perusahaan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2012, setiap perusahaan dengan lebih dari 100 pekerja wajib menerapkan SMK3. Ketentuan terbaru tahun 2025 menambahkan bahwa perusahaan dengan lebih dari 50 pekerja harus memiliki minimal satu petugas K3 bersertifikat. Ketentuan ini menunjukkan bahwa K3 menjadi bagian penting dalam berbagai sektor pekerjaan.

Bentuk Pekerjaan Tenaga K3

Tugas utama tenaga K3 adalah melindungi pekerja melalui pengawasan dan pengelolaan lingkungan kerja dengan memastikan kondisi alat, prosedur kerja, hingga tata letak area kerja berfungsi dengan baik.

Beberapa tanggung jawab tenaga K3 meliputi:

 

  1. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat untuk pekerja
  2. Mencegah kecelakaan kerja
  3. Mengurangi risiko kecelakaan kerja dan penyakit pascakerja
  4. Memastikan alat dan mesin dalam kondisi layak
  5. Memantau potensi kebocoran atau kerusakan instalasi
  6. Mengatur jam kerja di area dengan tingkat kebisingan tinggi
  7. Memastikan bahan kimia diberi label dan disimpan sesuai ketentuan

Seorang tenaga K3 juga harus mampu mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat muncul dalam lingkungan kerja. Pengendalian potensi bahaya yang ditemukan dilakukan melalui beberapa pendekatan:

 

  1. Eliminasi, menghapus sumber bahaya dari proses.
  2. Substitusi, mengganti sumber bahaya dengan bahan atau metode lain yang punya risiko lebih kecil.
  3. Rekayasa teknik, menyesuaikan atau memodifikasi alat, bangunan, atau lingkungan kerja untuk mengurangi potensi bahaya.
  4. Pengendalian administratif, prosedur kerja, aturan kerja, dan prosedur keselamatan.

Pentingnya Peran K3

Berbagai kecelakaan besar maupun kecil menunjukkan perlunya pengawasan keselamatan. Seorang tenaga K3 tidak hanya berfokus pada pekerja saja, melainkan juga lingkungan tempat operasi kerja berlangsung.

Seperti pada kasus kebocoran gas di India tahun 1984 yang mengalami kebocoran pipa pada sebuah pabrik dan menyebabkan 30-40 ton gas beracun menyebar dan menimbulkan banyak korban. Kecelakaan ini diduga terjadi karena kurangnya pemeriksaan alat dalam pabrik yang seharusnya diutamakan dan dilakukan oleh petugas terkait, seperti tenaga K3.

Selain kecelakaan pada lapangan, banyak risiko yang muncul pascakerja. Paparan bahan kimia, debu, dan kebisingan dapat menyebabkan gangguan kesehatan jangka panjang. Pekerja yang sering melakukan gerakan berulang juga rentan mengalami gangguan muskuloskeletal seperti nyeri pinggang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa prosedur dan manajemen jam kerja penting untuk dipertimbangkan lewat tenaga K3.

Potensi Risiko di Tempat Kerja

Tempat kerja memiliki berbagai potensi kecelakaan. Kecelakaan fisik seperti terpeleset atau terjatuh dapat terjadi bila area kerja tidak terkelola dengan baik. Kebakaran dapat terjadi akibat alat rusak atau aktivitas yang memicu percikan api. Konsleting listrik dapat terjadi ketika kabel atau mesin tidak dirawat.

Risiko lain termasuk gangguan pendengaran pada lingkungan bising dan paparan bahan kimia yang dapat menimbulkan iritasi atau gangguan pernapasan. Masing-masing risiko memerlukan langkah pencegahan yang sesuai.

Beberapa upaya pencegahan antara lain:

 

  1. Memastikan area kerja tertata dan aman.
  2. Melakukan pengecekan rutin alat dan mesin.
  3. Menyiapkan alat pemadam kebakaran dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api.
  4. Menata sistem kelistrikan dengan benar.
  5. Menggunakan alat pelindung diri di lingkungan bising.
  6. Memberi label dan menyimpan bahan kimia sesuai aturan

Peran K3 di Perusahaan

Perusahaan bergantung pada pekerja dalam menjalankan seluruh kegiatan operasional. Sehingga kondisi fisik dan keselamatan para pekerja berpengaruh langsung terhadap produktivitas. Mulai dari lingkungan, alat, hingga waktu kerja perlu dikelola agar tidak menimbulkan risiko yang dapat mengganggu proses kerja.

Tenaga K3 membantu perusahaan memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman dengan melakukan pengawasan, pengecekan, dan penanganan risiko. Ketika kecelakaan terjadi, tenaga K3 menjadi pihak yang memberi arahan dan memastikan langkah penanganan sesuai prosedur.

Pengawasan yang dilakukan oleh tenaga K3 memberikan dampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan pekerja, serta pada produktivitas perusahaan. Dengan adanya tenaga K3, sistem akan dikelola dengan baik sehingga risiko dapat ditekan dan pekerjaan dapat berlangsung lebih aman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image