Self-Diagnosis sebagai Tantangan Literasi Kesehatan Mental
Gaya Hidup | 2025-11-23 23:17:36
“Banyak orang yang kayak oh kalau punya mental problem akhirnya bisa diundang ke acara-acara,” ucap Coach Rheo, seorang mind technologist, dalam podcast “Iso-late Show Season 6” bersama Grace Tahir. Ujaran tersebut mencerminkan kegelisahan terhadap karakter masyarakat zaman sekarang. Maraknya penggunaan teknologi justru menjadikan banyak orang tidak memahami kebenaran dalam kehidupannya. Hal ini juga berlaku di bidang kesehatan. Banyak masyarakat tidak mengerti tentang dirinya sendiri dan mencoba untuk memeriksa melalui internet. Parahnya, mereka seringkali menilai diri sendiri, baik kondisi fisik maupun mental, hanya dari apa yang mereka temukan di internet. Dalam dunia medis, fenomena ini disebut sebagai self-diagnosis. Dikutip dari laman biofarma.co.id, self-diagnosis adalah asumsi yang menyatakan bahwa seseorang terkena suatu penyakit berdasarkan pengetahuannya sendiri. Niat awalnya mungkin hanya ingin mengetahui arti gejala yang dialami tetapi lama kelaman hal ini malah dijadikan sebagai patokan. Inilah yang nantinya akan berdampak pada karakter seseorang terhadap dunia kesehatan.
Saat ini, anak muda sudah sangat akrab dengan penggunaan internet yang memudahkan mereka mengakses berbagai informasi. Banyaknya informasi tentang kesehatan mental yang beredar di internet membuat masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan mental. Menurut survei Michelle Faverio, dkk. (2023) kepada remaja AS berusia 13 hingga 17 tahun, sebesar 34% remaja mengaku setidaknya mendapatkan informasi tentang kesehatan mental melalui media sosial. Namun, hal ini juga memicu fenomena self-diagnosis. Dosen Fakultas Psikologi UIR, Nindy Amita, S.Psi.,M.Psi., Psikolog, dalam wawancara Tim Humas UIR menyatakan bahwa self-diagnosis pada kesehatan mental berawal dari mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh. Masyarakat tidak menyadari bahwa kebiasaan ini justru membahayakan mental mereka. Yang pada awalnya biasa saja, tetapi karena kebiasaan melakukan self-diagnosis, mereka malah menjadi semakin sensitif kepada diri sendiri. Hanya dengan mengandalkan informasi yang didapatkan di internet tanpa tahu keakuratannya, mereka langsung meyakini mengalami masalah kesehatan tersebut.
Perilaku inilah yang membawa perubahan pada karakter masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat mempercayai diagnosis tenaga profesional, kini hal tersebut mulai terkikis dan mengarah pada potensi untuk lebih mengandalkan diagnosis sendiri. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMS) tahun 2022 kepada remaja 10 hingga 17 tahun di Indonesia menunjukkan bahwa sebesar 43.8% remaja tidak mencari bantuan karena memilih untuk menangani sendiri masalah tersebut. Mereka lebih meyakini hasil diagnosis yang terdapat di internet.
Kondisi ini semakin diperburuk dengan banyaknya orang yang menormalisasi self-diagnosis. Media sosial sendiri memegang peranan besar dalam hal ini. Masyarakat sering membagikan cerita kehidupan mereka di media sosial, termasuk kesehatan mental. Lama kelamaan, semakin banyak masyarakat mengungkapkan masalah kesehatan mental mereka. Awalnya, hal ini dianggap sebagai edukasi. Tetapi seiring berjalannya waktu, muncul stigma baru. Terdapat kecenderungan masyarakat untuk mencari validasi secara instan melalui media sosial. Masalah mental dipandang sebagai ajang kompetisi. Pemenangnya adalah yang memiliki kisah paling menyedihkan. Karakter masyarakat seperti ini berdampak pada munculnya permasalahan di ranah kesehatan. Sekarang, banyak orang berbondong-bondong memamerkan bahwa dirinya memiliki masalah mental. Mereka malah cenderung tidak mau mengatasi kondisi tersebut secara profesional. Ucapan seperti “mood-ku cepat berubah, aku sepertinya bipolar deh” “Aduh aku lagi depresi jadi ga bisa kerjakan ini” dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Masalah mental dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Dengan akses teknologi, mereka menciptakan kisah hidup yang dibungkus secara emosional dan dibagikan ke media sosial. Hal ini dilakukan semata-mata demi meningkatkan popularitas. Yang menjadi kekhawatiran adalah informasi yang tidak akurat dapat menyebabkan miskonsepsi mengenai masalah kesehatan mental. Sekarang, penilaian individu terhadap informasi kesehatan online cenderung didasari oleh jumlah audiens yang terlibat (views, likes, dan comment). Semakin tinggi jumlahnya, semakin dianggap kredibel.
Oleh karena itu, di era digital, dibutuhkan langkah baru dalam pencarian informasi kesehatan, yaitu membangun karakter masyarakat yang mampu berpikir kritis dan bijak dalam menyaring informasi. Karakter ini harus dapat membedakan antara informasi yang valid dan yang hanya bersifat sensasional. Penelitian Annury, dkk. (2021) juga menemukan bahwa prevalensi self-diagnosis di kalangan mahasiswa mencapai 35%, dengan sebagian besar kasus disebabkan oleh akses informasi yang belum diverifikasi dari internet dan media sosial. Fakta ini menunjukkan bahwa penggunaan internet dalam pencarian informasi kesehatan belum diarahkan pada layanan resmi, sehingga penggunaan informasi tidak valid harus segera dihentikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain melalui edukasi literasi media resmi, kampanye digital berupa konten infografis atau video edukatif pendek di media sosial, serta kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan dan komunitas. Program semacam ini dapat diperluas hingga menjangkau masyarakat umum. Melalui edukasi yang berkelanjutan dan akses layanan kesehatan yang memadai, fenomena self-diagnosis dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kualitas literasi kesehatan masyarakat Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
