Fomo yang Bikin Dompet dan Mental Kering
Trend | 2026-05-07 22:34:15
Pernah nggak sih, lagi asyik rebahan sambil scrolling TikTok dan lihat postingan temen satu tongkrongan lagi pamer di kafe baru yang estetik, atau lihat sepupu lagi unboxing gadget terbaru yang harganya selangit. Detik itu juga, muncul perasaan gelisah, cemas, dan ada suara di kepala yang bilang: “Duh, kok gue di sini aja ya? Gue ketinggalan zaman banget!”. Kalau kamu pernah ngerasain itu, tenang, kamu nggak sendirian. Fenomena ini namanya FoMO (Fear of Missing Out), alias rasa takut ketinggalan momen atau tren yang lagi hits. Di zaman yang serba digital ini, FoMO bukan cuma sekadar perasaan iri biasa, tapi sudah jadi "penyakit" sosial yang bikin mental capek dan dompet cepat kering. Mari kita bedah fenomena ini pakai kacamata sosiologi yang sering kita bahas di kelas, tapi dengan bahasa yang lebih santai.
Kalau kita bicara soal kenapa kita hobi banget ikut-ikutan, kita harus kenal sama tokoh sosiologi bernama Pierre Bourdieu. Beliau punya konsep keren namanya "Habitus". Gampangnya, habitus itu adalah kebiasaan atau pola pikir yang terbentuk karena lingkungan tempat kita tinggal. Dulu, orang mungkin merasa "ketinggalan" kalau nggak tahu berita di koran. Tapi sekarang, lingkungan kita pindah ke media sosial. Karena tiap hari yang kita konsumsi adalah konten orang pamer kebahagiaan, liburan, dan barang mewah, otak kita secara otomatis menganggap kalau itulah "standar hidup yang normal". Akhirnya, ikut tren viral jadi habitus atau insting baru. Kita merasa kalau nggak beli kopi yang lagi viral atau nggak tahu istilah gaul terbaru, kita bakal "didepak" dari pergaulan. Kita takut kehilangan "modal sosial" yang sebenarnya cuma semu.
Pernah kepikiran nggak, kenapa orang bela-belain antre berjam-jam demi satu foto di tempat yang lagi viral? Sosiolog Erving Goffman punya penjelasan yang masuk akal soal ini lewat teorinya tentang "Dramaturgi". Goffman bilang hidup manusia itu kayak pementasan drama di atas panggung. Media sosial adalah "Panggung Depan" (Front Stage) kita. Di sana, kita bakal dandan habis-habisan, pakai filter paling kece, dan pasang tampang paling bahagia supaya orang lain terkesan. FoMO muncul karena kita terlalu fokus menjaga penampilan di panggung depan ini. Kita takut kalau nggak posting sesuatu yang lagi tren, orang bakal mikir "panggung" kita ngebosenin. Padahal, kita lupa kalau setiap orang juga punya "Panggung Belakang" (Back Stage) yang mungkin aja penuh masalah, cucian menumpuk, atau dompet yang lagi kembang kempis. Nggak adil rasanya kalau kita membandingkan "panggung belakang" kita yang berantakan dengan "panggung depan" orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa.
Selain itu, ada tokoh bernama Anthony Giddens yang bicara soal Strukturasi. Intinya, teknologi yang kita pakai (struktur) dan cara kita bertindak (agen) itu saling memengaruhi. Algoritma media sosial itu dirancang buat bikin kita terus-terusan melihat apa yang lagi ramai. Struktur digital ini secara nggak langsung "memaksa" kita buat terus terhubung. Nah, dampaknya kerasa banget ke kehidupan kita sehari-hari. Kalau saya baca riset di jurnal IICET (2021), peningkatan FoMO ini bikin remaja Indonesia sering melakukan phubbing itu lho, kondisi di mana kita lebih asyik main HP dan cuek sama orang yang lagi ngobrol di depan kita. Kita jadi abai sama lingkungan cuma karena jempol nggak bisa berhenti scrolling.
Masalahnya, perilaku phubbing ini bukan cuma soal nggak sopan, tapi sudah merusak esensi komunikasi manusia. Bayangkan kita lagi nongkrong di daerah Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) Malang, tapi bukannya ngobrol seru, kita malah sibuk mengecek update terbaru di Instagram. Kita ada secara fisik, tapi pikiran kita melayang ke "dunia sana". Kecemasan sosial ini muncul karena kita punya keyakinan bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang sedang kita jalani saat ini. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini.
Belum lagi masalah harga diri atau self-esteem. Riset dari Panggabean dan Brahmana (2021) menyebutkan kalau harga diri itu berbanding terbalik sama FoMO. Maksudnya, semakin kita nggak pede sama diri sendiri, biasanya rasa FoMO-nya malah makin parah karena kita haus validasi lewat likes atau komentar. Kalau ini dibiarin, kita bakal terjebak dalam lingkaran setan buka sosmed buat cari hiburan, eh malah stres lihat pencapaian orang lain, tapi nggak bisa berhenti karena takut ketinggalan berita. Bukannya bahagia, kita malah merasa kesepian dan kurang puas sama hidup sendiri. Kepuasan hidup yang rendah ini adalah ancaman serius bagi kesehatan psikologis kita sebagai remaja.
Coba kita perhatikan gaya hidup mahasiswa di kota besar. Sering kali kita memaksakan diri membeli sesuatu menggunakan sistem pembayaran non-tunai atau cashless hanya agar terlihat keren di depan kasir, padahal saldo di rekening sudah menjerit. Ini adalah bukti bahwa teknologi digital sudah menggeser cara kita menilai barang. Kita tidak lagi membeli barang karena fungsinya, tapi karena simbol yang dibawanya. Kalau semua teman di kelas pakai aplikasi pembayaran tertentu atau jajan di tempat tertentu, kita merasa "wajib" ikut supaya tidak dikucilkan. Rasa terkucilkan inilah yang menurut para ahli memicu kelelahan mental dan frustrasi.
Penelitian menunjukkan bahwa durasi ideal untuk aktivitas online itu sebenarnya cuma sekitar 4 jam 17 menit sehari. Lewat dari itu, gawai kita sudah dianggap bisa mengganggu kinerja otak dan kemampuan bersosialisasi secara nyata. Tapi jujur saja, siapa di antara kita yang cuma main HP empat jam sehari? Kebanyakan kita pasti jauh melampaui itu. Akibatnya, kita jadi lalai sama kewajiban utama sebagai mahasiswa dan malah asyik bermalas-malasan sambil merasa "ketinggalan".
Namun, di balik semua sisi negatif itu, FoMO sebenarnya punya sedikit sisi positif kalau kita bisa mengelolanya dengan benar. Fenomena ini bisa memaksa kita untuk mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman. Misalnya, karena FoMO, kita jadi termotivasi belajar skill baru yang lagi viral atau ikut organisasi yang kredibel. Tapi sayangnya, di dunia nyata, remaja Indonesia lebih sering terkena dampak negatifnya karena kurangnya regulasi diri dalam menggunakan teknologi.
Terus, gimana cara ngelawan FoMO yang udah mendarah daging ini? Jawabannya adalah dengan mulai belajar JOMO (Joy of Missing Out). Artinya, kita justru merasa bahagia kalau bisa melewatkan tren yang nggak penting. Kita harus mulai sadar kalau nggak semua hal harus kita tahu, nggak semua tempat harus kita datangi, dan nggak semua barang harus kita beli. Menjadi "kudet" sesekali itu nggak dosa, lho. Justru dengan begitu, kita punya lebih banyak waktu buat menikmati momen nyata di dunia nyata. Ngobrol sama orang tua tanpa pegang HP, atau sekadar menikmati udara sore tanpa perlu difoto buat di-post.
Sebagai penutup, kita harus ingat bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh berapa banyak likes yang masuk atau seberapa cepat kita mengikuti tren viral. Sesuai pemikiran Giddens, kita adalah agen yang punya kendali atas tindakan kita sendiri. Jangan mau disetir oleh algoritma yang cuma pengen kita terus-terusan menatap layar. Kebahagiaan sejati itu ada pada kepuasan batin dan koneksi nyata dengan orang-orang di sekitar kita, bukan pada validasi semu di dunia maya. Inget, hidup itu buat dijalani, bukan cuma buat dipamerin biar dapet jempol orang lain. Yuk, pelan-pelan lepasin beban FoMO itu, demi dompet yang lebih sehat dan mental yang lebih tenang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
