Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Halwa Safwa kaila

Hadist Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Agama | 2026-05-07 22:37:59

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Analisis Hadis Tentang Keutamaan Amal dan Berbakti kepada Orang tua

Halwa Safwa Kaila (1251330120) & Muhammad Firdaus, B.A., MA,Ph.DProgram Studi Pengembangan Masyarakat Islam-Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Email Penulis Korenspondensi : shfwakylaa@gmail.com

Abstrak

Hadis tentang amal paling utama merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang menjelaskan urutan prioritas dalam beribadah dan beramal. Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad menyebutkan bahwa amal paling utama adalah shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadis tersebut dari segi sanad dan matan serta memahami maknanya melalui pendekatan syarah hadis.Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan merujuk pada kitab hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis ini memiliki kualitas sahih dengan sanad yang bersambung dan perawi yang terpercaya. Dari segi matan, hadis ini mengandung ajaran tentang prioritas amal dalam Islam, yaitu mendahulukan kewajiban kepada Allah, kemudian berbakti kepada orang tua, serta pengorbanan di jalan Allah.

PENDAHULUAN :

Hadis tentang amal paling utama merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang menjelaskan urutan prioritas dalam beribadah dan beramal. Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad menyebutkan bahwa amal paling utama adalah shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadis tersebut dari segi sanad dan matan serta memahami maknanya melalui pendekatan syarah hadis.

Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan merujuk pada kitab hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis ini memiliki kualitas sahih dengan sanad yang bersambung dan perawi yang terpercaya. Dari segi matan, hadis ini mengandung ajaran tentang prioritas amal dalam Islam, yaitu mendahulukan kewajiban kepada Allah, kemudian berbakti kepada orang tua, serta pengorbanan di jalan Allah.

METODE PENULISAN :

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat kepustakaan. Sumber data utama yang digunakan adalah kitab Al-Kautsar Al-Jari yang merupakan penjelasan dari sahih bukhari, khususnya yang berkaitan dengan hadist tentang nafkah. Selain iti, artikel ini didukung oleh literatur tambahan berupa buku, artikel ilmiah, dan jurnal terkait konsep nafkah dalam islam serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga.

Analisis yang digunakan adalah analisis tematik dan deskriptif-analitis, dimana data di analisis mulai dari identifikasi sanad dan periwayatan hadist, pemahaman mata, hingga penerapannya dalam konteks sosial dan ekonomi umat islam.

LATAR BELAKANG

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu ajaran utama dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat tinggi setelah kewajiban beribadah kepada Allah SWT. Ajaran ini tidak hanya tercantum dalam Al-Qur’an, tetapi juga banyak dijelaskan dalam hadis-hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Dalam berbagai riwayat, beliau menegaskan pentingnya menghormati, menyayangi, dan menaati orang tua sebagai bentuk pengamalan akhlak mulia.Pada masa sebelum Islam, sebagian masyarakat Arab belum sepenuhnya menjunjung tinggi nilai penghormatan terhadap orang tua, terutama ketika mereka telah lanjut usia. Kehadiran Islam membawa perubahan besar dengan menempatkan orang tua pada posisi yang sangat mulia dan harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, hadis-hadis tentang berbakti kepada kedua orang tua hadir sebagai pedoman untuk membentuk karakter individu dan memperbaiki tatanan sosial dalam keluarga.

Di era modern saat ini, nilai berbakti kepada orang tua sering kali mengalami penurunan akibat pengaruh gaya hidup, kesibukan, serta perkembangan teknologi yang membuat hubungan antaranggota keluarga menjadi kurang harmonis. Banyak anak yang kurang menyadari pentingnya peran dan pengorbanan orang tua dalam kehidupan mereka. Hal ini menjadikan pembahasan mengenai hadis berbakti kepada kedua orang tua semakin relevan untuk dikaji dan dipahami secara mendalam.Berdasarkan hal tersebut, artikel ini disusun untuk mengkaji dan memahami makna serta kandungan hadis tentang berbakti kepada kedua orang tua, sehingga dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghormati dan menyayangi orang tua.

RUMUSAN MASALAH

1.Bagaimana kualitas hadis tentang amal paling utama yang diriwayatkan dari NabiMuhammad melalui Abdullah bin Mas’ud?2.Bagaimana analisis sanad dan matan dalam hadis tersebut?3.Apa makna dan kandungan hadis tentang keutamaan shalat, berbakti kepada orang tua, dan jihad?

PEMBAHASAN :

1.TeksHadistdanTerjemahan

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه سألتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليهوسلم قلتُ يَا رسولَ الله أَيُّ العملِ أفضَلُ قال الصلاةُ على مِيْقاتِها قُلْتُ ثُمَّأَيٌّ قال ثُمَّ بِرُّ الوالِدَيْنِ قلتُ ثُمَّ أَيٌّ قال الجِهادُ في سبيلِ اللهِ

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanyakepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanyalagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

2.Kajian UlumulHadist

Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad, dan tercantum dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

a.KualitasHadis

Hadis ini termasuk hadis sahih dan tergolong muttafaq‘alaih, yaitu hadis yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim. Oleh karena itu, hadis ini memilikikedudukan yang sangat kuat dan dapat dijadikan hujjah.

b. Analisis Sanad

• Sanad hadis ini bersambung (ittishal al-sanad) hinggakepada Nabi

• Para perawi dikenal adil dan dhabith (terpercaya dan kuat hafalan)

• Tidak terdapat cacat (‘illah) maupun kejanggalan(syadz)

Dengan demikian, dari sisi sanad, hadis ini memenuhisyarat sebagai hadis sahih.

c. Kedudukan Hadis

Hadis ini termasuk hadis yang menjelaskan urutankeutamaan amal dalam Islam, sehingga sering dijadikandasar dalam pembahasan akhlak dan ibadah.

3.Kajian Syarah Hadis

Dalam perspektif Syarah Hadis, hadis ini menjelaskantentang tingkatan amal yang paling utama di sisi Allah.

a. Makna Hadis

• Shalat pada waktunya → menunjukkan pentingnyamenjaga kewajiban utama dalam Islam

• Berbakti kepada orang tua → menunjukkankedudukan tinggi birrul walidain setelah ibadah kepadaAllah

• Jihad di jalan Allah → sebagai bentuk pengorbanantertinggi dalam membela agama

b. Analisis Makna

Urutan dalam hadis ini menunjukkan prioritas amal, yaitu:

1.IbadahkepadaAllah (shalat)sebagaikewajibanutama2.Hubungansosialterdekat(orangtua)3.Pengorbananuntukagama (jihad)

Namun, para ulama menjelaskan bahwa urutan ini bisaberbeda tergantung kondisi seseorang, misalnya:

• Jika orang tua membutuhkan → berbakti bisa lebihdiutamakan

• Jika dalam keadaan darurat → jihad bisa menjadiprioritas

c. Hikmah Hadis

1. Mengajarkan skala prioritas dalam beramal

2. Menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tuaadalah amalan utama

3. Menyeimbangkan antara ibadah kepada Allah dan tanggung jawab sosial

4.AnalisisIsi KandunganHadist.

Hadis dari Abdullah bin Mas’ud, ia bertanya kepada Nabi Muhammad tentang amal yang paling utama, lalu Nabi menjawab: shalat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan jihad di jalan Allah (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

1.Analisis Sanad

Dari sisi sanad, hadis ini memiliki kualitas sangat kuat (sahih) karena:

•Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (muttafaq ‘alaih)•Sanadnya bersambung (ittishal al-sanad) dari sahabat hingga Nabi•Para perawi dalam sanad dikenal:•Adil (terpercaya dalam agama)•Dhabit (kuat hafalan dan ketelitian)

Selain itu, tidak ditemukan:

•Cacat tersembunyi (‘illah)•Kejanggalan (syadz)

Kesimpulan sanad: Hadis sahih dan dapat dijadikan hujjah

2.Analisis Matan

Dari sisi matan (isi), hadis ini mengandung beberapa makna penting:

a.Struktur Pertanyaan dan Jawaban

Bentuk dialog menunjukkan bahwa:

•Sahabat ingin mengetahui amal yang paling utama•Jawaban Nabi disusun bertahap (tadarruj) sesuai prioritas

KONSTEKTUALISASI HADIST

Hadis tentang “amal paling utama” yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad tidak hanya dipahami secara tekstual (urutan shalat → berbakti → jihad), tetapi juga harus dilihat sesuai kondisi dan kebutuhan zaman. Dalam konteks sekarang, maknanya bisa diterapkan sebagai berikut:

b.Shalat pada waktunya → tetap menjadi prioritas utama sebagai kewajiban dasar seorang Muslim, di tengah kesibukan sekolah, kerja, atau aktivitas lainnya.c.Berbakti kepada orang tua → diwujudkan dengan menghormati, membantu, menjaga komunikasi, dan merawat mereka, terutama di era modern ketika banyak anak sibuk dan jauh dari orang tua.d.Jihad di jalan Allah → tidak selalu berarti perang, tetapi bisa dimaknai sebagai usaha sungguh-sungguh dalam kebaikan, seperti belajar, bekerja dengan jujur, berdakwah, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

KESIMPULAN

Hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad tentang amal paling utama memiliki kualitas sahih karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan sanad yang bersambung serta perawi yang terpercaya. Dari segi matan, hadis ini menunjukkan bahwa dalam Islam terdapat urutan prioritas amal, yaitu shalat pada waktunya sebagai kewajiban utama, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, dan selanjutnya jihad di jalan Allah. Hal ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan tanggung jawab sosial, khususnya kepada orang tua.

Dengan demikian, hadis ini menekankan bahwa seorang Muslim harus mampu menempatkan amal sesuai prioritasnya serta memahami bahwa keutamaan suatu amal dapat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi.

Daftar Pustaka

1.Imam BukhariAl-Mundziri, Zakiyyuddin Abdul Azhim bin Abdul Qawiy. At-Targhib waat-Tarhib min al-Hadits asy-Syarif.Juz III. Beirut: Darul Fikr, 1998.2.Shahih al-Bukhari.3.Imam Muslim.Shahih Muslim.Al-Mundziri, Zakiyyuddin Abdul Azhim bin Abdul Qawiy. At-Targhib wa at-Tarhib min al-Hadits asy-Syarif. Juz III. Beirut: Darul Fikr, 1998.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image