Berburu Sunyi di Kota Riuh: Dunia Thrift Jakarta
Gaya Hidup | 2025-11-23 23:02:39
Jakarta selalu punya cara membuat hal sederhana terasa menarik dengan menyimpan cerita dalam hal-hal kecil, dan thrifting adalah salah satunya. Di tengah laju kota yang serba cepat, aktivitas berburu pakaian bekas memberi ruang jeda, seolah memberi ruang untuk menemukan barang yang tidak pasaran. Banyak anak muda akhirnya memilih thrifting bukan semata karena murah, tetapi karena menawarkan karakter yang berbeda sekaligus pilihan yang lebih ramah lingkungan.
Blok M Square dan Pasar Senen menjadi dua lokasi yang paling dikenal dalam dunia thrift Jakarta. Disana, lorong-lorong dipenuhi jaket vintage, kaus band lawas, hingga pernak pernik unik yang sulit ditemukan di toko ritel. Kedua tempat ini memiliki nuansa berbeda, tetapi keduanya menawarkan pengalaman khas: proses memilih yang membutuhkan kejelian, kesabaran, dan pemahaman kualitas. Di luar dua pusat ini, titik-titik thrift lainnya juga bermunculan di berbagai kawasan Jakarta, sering kali dipopulerkan lewat konten kreator di media sosial.
Perkembangan terbesar justru muncul ketika thrifting beralih ke ranah digital. Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia kini dipenuhi toko thrift dengan katalog teratur, foto detail, serta deskripsi ukuran yang jelas. Selain itu, ulasan pembeli menjadi faktor penting dalam keputusan belanja karena komentar, rating, dan foto penerimaan barang sering kali lebih meyakinkan dibandingkan promosi. Media sosial seperti TikTok dan Instagram juga berperan besar yang mana satu rekomendasi singkat dapat membuat sebuah toko tiba-tiba populer dalam waktu singkat.
Meski daya tariknya kuat, thrifting tetap memiliki tantangan. Kekhawatiran soal higienitas, risiko barang palsu, hingga ketidakpastian belanja online masih menjadi pertimbangan. Di sisi lain, peraturan mengenai impor pakaian bekas juga membuat praktik ini sering berada di area abu-abu. Namun begitu, banyak orang tetap melihat thrifting sebagai alternatif konsumsi yang lebih terjangkau dan lebih ramah lingkungan.
Pada akhirnya, thrifting di Jakarta berkembang menjadi budaya yang menggambarkan cara generasi muda memilih belanja: bukan sekadar soal harga, tetapi juga keunikan, kualitas, dan nilai keberlanjutan. Dari pasar fisik seperti Blok M dan Senen hingga toko-toko daring di marketplace, tren ini membuktikan bahwa barang lama tetap bisa menghadirkan pengalaman baru di tengah ritme kota yang serba cepat. Dan jika pakaian bekas saja bisa menemukan hidup kedua, lalu pengalaman apa lagi yang sebenarnya bisa kita temukan ulang dalam keseharian Jakarta?
Oleh : Izza Kurnia Syofiani Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Airlangga
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
