Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Aisyah Nafila Muna

Empati dan Komunikasi Efektif juga Penting dalam Dunia Kesehatan Hewan

Edukasi | 2025-11-23 10:28:23
Mahasiswa Teknologi Veteriner Universitas Airlangga berinteraksi dengan hewan ternak sebagai bentuk penerapan empati dan komunikasi efektif dalam dunia kesehatan hewan.

Pada pagi itu di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga terasa sunyi dan sepi karena kesibukan. Terdapat seekor anjing hitam putih berjalan perlahan dengan kaki pincang yang ditemani oleh pemiliknya. Luka bekas operasi di kaki kirinya masih terlihat jelas, sisa perjuangan melawan tumor yang baru saja diangkat.

Seorang dokter hewan muda berjongkok di hadapan pasien kecil itu. Dengan suara lembut ia berkata, “Dikit lagi sembuh, sabar ya sayang, kamu pasti bisa. Semangat, ya”. Lalu menatap pemiliknya dengan empati, “Sabar ya, Kak. Prosesnya memang butuh waktu, tapi hasilnya sudah bagus kok”.

Setelah berinteraksi dengan anjing dan pemiliknya, dokter itu tersenyum lalu menoleh kepada saya. Ia berkata pelan, “Anjing ini menjadi pasien saya sejak kecil. Dulu datang pertama kali untuk vaksin, sekarang sedang berjuang melawan tumor. Jadi, rasanya seperti melihat anak sendiri yang sedang belajar sembuh”.

Ucapannya sederhana, tetapi membuat hati terasa tenang. Saat itu saya menyadari bahwa hubungan antara dokter, hewan, dan pemilik tidak hanya bersifat profesional, melainkan juga emosional. Hal tersebut tersimpan pelajaran besar tentang empati dan komunikasi efektif dalam dunia kesehatan hewan yang tidak kalah penting dari keterampilan medis.

Sebagai mahasiswa Teknologi Veteriner, saya sering melihat bagaimana dokter hewan berinteraksi bukan hanya dengan hewan yang sakit, tetapi juga dengan pemiliknya yang cemas. Ketika dokter berbicara dengan nada lembut dan penuh ketulusan, hewan menjadi lebih tenang. Pemiliknya juga merasa dihargai dan dipahami. Di sinilah letak komunikasi efektif, yaitu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menumbuhkan rasa empati.

Dalam pelayanan kesehatan hewan, komunikasi bukan sekadar pelengkap, tetapi juga bagian dari terapi seperti, cara dokter menjelaskan kondisi pasien, menyampaikan kabar baik maupun buruk, hingga menunjukkan perhatian kecil, semuanya memengaruhi suasana hati pemilik dan proses pemulihan hewan.

Dari pengalaman di lapangan, saya belajar bahwa logika dan empati dua hal yang berhubungan. Logika membantu dokter menganalisis dan mengambil keputusan medis yang tepat, sementara empati menjaga kepercayaan serta membangun hubungan yang harmonis antara tenaga medis, hewan, dan pemiliknya.

Sebagai calon tenaga kesehatan hewan, saya belajar bahwa menjadi profesional tidak hanya soal kemampuan medis, tetapi juga cara berkomunikasi efektif dengan hewan dan pemiliknya, karena keberhasilan perawatan tidak hanya ditentukan oleh keahlian teknis, tetapi juga oleh kepercayaan, kepedulian, dan empati yang terjalin antara tenaga medis, hewan, dan pemiliknya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image