Bahaya Terlena Bagi Survivor Cancer
Medika | 2025-11-22 21:05:21
Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan sel yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali di dalam tubuh. Pertumbuhan sel abnormal ini dapat merusak sel normal di sekitarnya dan di bagian tubuh yang lain. Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Kanker sering menyebabkan kematian karena penyakit ini umumnya tidak menimbulkan gejala pada stadium awal. Kanker baru terdeteksi dan ditangani setelah mencapai stadium lanjutan.
Data Global Cancer Observatory pada tahun 2022 menunjukkan Indonesia mengalami 408.661 kasus kanker baru dengan angka kematian sebesar 242.099 atau lebih dari 50 persen dari total kasus secara keseluruhan. Dari sejumlah kasus yang ada, lima jenis kanker yang paling banyak ditemui baik pada laki-laki maupun perempuan Indonesia adalah kanker payudara, paru, serviks, kolorektal atau usus besar dan rektum, serta hati. Tanpa adanya intervensi, jumlah tersebut diprediksi akan meningkat sebesar 63% antara tahun 2025 hingga 2040 yang tentunya akan membebani sistem kesehatan masyarakat dan komunitas.
Fenomena terlena pada survivor kanker menjadi salah satu penyebab angka kematian penderita kanker di Indonesia semakin meningkat. Banyak dari mereka yang menghentikan pola hidup sehat, mengabaikan pemeriksaan rutin, bahkan Kembali pada kebiasaan lama yang berisiko memicu kekambuhan. Padahal, kanker memiliki potensi untuk muncul Kembali atau berkembang menjadi lebih agresif jika tidak diantisipasi dengan pemantauan dan perawatan berkelanjutan. Selain itu, aspek psikologis seperti rasa percaya diri berlebihan, keengganan menghadapi trauma masa lalu, maupun kurangnya dukungan sosial juga dapat memperkuat sikap abai tersebut.
Penting untuk mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti pada tahap kesembuhan klinis. Survivorship adalah fase Panjang yang memerlukan disiplin, komitmen, serta kesadaran penuh untuk menjaga kualitas hidup. Dengan memahami factor risiko dan dampak dari sikap terlena, diharapkan para penyintas, keluarga, maupun Masyarakat dapat lebih waspada dan mendukung upaya pencegahan kekambuhan kanker secara komprehensif.
Kesembuhan kanker bukan berarti akhir dari perjuangan, melainkan awal dari upaya jangka Panjang untuk menjaga Kesehatan dan mencegah kekambuhan. Fenomena ini menjadi nyata dan penting untuk diamati karena masih banyak penyintas kanker yang mengalami hal serupa, Dimana rasa aman yang berlebihan justru membawa mereka kembali pada kondisi yang membahayakan jiwa.
1. Penurunan kepatuhan terhadap control medis
Setelah dinyatakan sembuh, beberapa survivor cenderung mengabaikan jadwal control berkala dengan alasan merasa sudah sehat. Padahal, pemeriksaan lanjutan berfungsi untuk memantau kondisi tubuh, mendeteksi kemungkinan kekambuhan, serta mengevaluasi efek samping pengobatan sebelumnya. Mengabaikan kontrol medis dapat menyebabkan keterlambatan dalam penangan jika terjadi perubahan kondisi.
2. Kembali pada pola hidup tidak sehat
Rasa bebas setelah melewati masa pengobatan sering kali membuat survivor Kembali pada kebiasaan lama seperti merokok, mengonsumsi makanan tinggi lemak, kurang tidur, atau jarang berolahraga. Padahal, gaya hidup sehat memiliki peran penting dalam mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup. Terlena dalam pola hidup lama dapat meningkatkan risiko munculnya sel kanker Kembali.
3. Mengabaikan Kesehatan mental
Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam proses pemulihan. Beberapa survivor mengalami stress, kecemasan, atau depresi akibat pengalaman traumatis selama pengobatan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, gangguan psikologis tersebut dapat memengaruhi system imun dan menurunkan semangat hidup. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan mental sangat diperlukan dalam menjaga kestabilan kondisi pasca-pengobatan.
4. Menurunnya keterlibatan sosial dan dukungan emosional
Rasa percaya diri yang meningkatkan setelah sembuh kadang membuat survivor merasa tidak lagi memerlukan dukungan sosial. Padahal, keberadaan keluarga, teman, dan komunitas memiliki peran besar dalam menjaga motivasi hidup dan kestabilan emosi. Isolasi sosial justru dapat menimbulkan rasa kesepian dan memperburuk kondisi psikologis.
5. Terhambatnya pertumbuhan dan pemaknaan diri
Fase pasca-pengobatan merupakan kesempatan bagi survivor untuk menemukan makna baru dalam hidup. Namun, jika terlena, proses refleksi dan pertumbuhan pribadi bisa terhambat. Padahal, banyak survivor yang menemukan kekuatan baru dengan berbagai pengalaman atau membantu pasien lain yang sedang berjuang melawan kanker.
Upaya Pencegahan
1. Menjaga jadwal kontrol medis secara rutin.
2. Menerapkan pola makan seimbang dan gaya hidup aktif
3. Mengikuti program konseling atau dukungan psikologis bila diperlukan
4. Terlibat dalam komunitas survivor atau kegiatan sosial
5. Menetapkan tujuan hidup baru yang positif dan bermakna
Rasa terlena merupakan tantangan yang sering tidak disadari oleh survivor kanker. Sikap tersebut dapat memicu berbagai dampak negative seperti penurunan kesehatan fisik, gangguan mental, hingga risiko kekambuhan, oleh karena itu, kesadaran dan kedisiplinan dalam menjaga pola hidup sehat, kontrol medis, serta dukungan sosial merupakan langkah penting dalam mempertahankan kualitas hidup dan mencegah kekambuhan kanker di masa mendatang. Menjadi survivor sejati bukan hanya tentang melewati penyakit, tetapi juga tentang menjaga diri agar tetap sehat dan berdaya sepanjang kehidupan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
