Musabaqah Qiraatil Kutub: Antara Prestise dan Tekanan
Kabar Pesantren | 2025-11-21 14:44:07Musabaqah Qiraatil Kutub: Antara Gengsi Kompetisi dan Beban Psikologis
Musabaqah Qiraatul Kutub atau biasa disebut MQK adalah sebuah ajang kompetisi membaca, memahami, dan menelaah kitab-kitab klasik berbahasa Arab (kitab kuning) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI. Acara ini memperlombakan kemampuan santri dalam membaca, menerjemahkan, dan mengartikulasikan teks-teks dari kitab kuning, yang merupakan substansi pengajaran di pondok pesantren. Cabang lomba Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) meliputi tiga kategori utama: Qira'atil Mutun (membaca dan memahami kitab kuning), Hifzhil Mutun (menghafal teks kitab), dan Debat (baik bahasa Arab maupun Inggris), serta beberapa cabang khusus yang baru diperkenalkan seperti Bahtsul Kutub, Debat Qanun, Tarkib Digital, dan Risalah Ilmiyah. Pada bidang keilmuan tertentu seperti Tarikh, Hadits, Bahkan Ushul Fiqh menjadi tantangan tersendiri bagi peserta dalam mendalami isi dan gramatikalnya.
Pada Tahun 2023, di tengah kesibukan kelas 3 Aliyah yang penuh dengan persiapan ujian akhir madrasah, saya justru mengambil tantangan besar: mengikuti cabang lomba Debat Bahasa Arab dalam ajang MQK Nasional. Bersama tim, kami menyusun argumen, memperkuat dalil dari kitab kuning, dan melatih kemampuan berbicara dalam Bahasa Arab yang fasih dan logis. Latihan demi latihan kami lalui, meski waktu belajar untuk ujian akhir harus kami bagi dengan persiapan lomba. Di balik semangat itu, ada rasa khawatir: mampukah kami bersaing di tingkat nasional dengan persiapan yang terbatas?
Saat perlombaan dimulai, suasana berubah drastis. Kami berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dari berbagai pesantren, namun yang paling mengesankan adalah tim dari Pondok Pesantren Al Amien Prenduan, Madura. Mereka tampil dengan gaya debat yang kuat, struktur argumen yang rapi, dan penguasaan Bahasa Arab yang luar biasa. Kami sempat terdiam, mencoba mencari celah untuk membalas argumen mereka. Di tengah ketegangan itu, kami tercengang saat mengetahui bahwa salah satu juri adalah Ust. Syirozi Dimyati—dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah, fakultas impian saya saat itu. Rasanya seperti diuji langsung oleh seseorang yang saya kagumi.
Tekanan semakin terasa. Kami tidak hanya berusaha tampil maksimal di hadapan juri yang berwibawa, tetapi juga berjuang melawan rasa gugup dan beban ekspektasi dari pesantren. Ada momen ketika argumen kami dimentahkan dengan tajam, dan kami harus cepat bangkit untuk membalas. Ada pula saat ketika hasil tidak sesuai harapan, meski kami merasa telah memberikan yang terbaik hingga mendapatkan Juara 1 Cabang Lomba Debat Bahasa Arab Putri. Di titik-titik itulah saya merasakan betapa peliknya MQK: bukan hanya soal ilmu, tapi juga soal mental, kerja sama, dan ketahanan diri menghadapi tekanan.
Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa MQK Nasional bukan sekadar ajang bergengsi yang membanggakan pesantren. Ia adalah medan ujian yang kompleks, di mana prestise dan tekanan berjalan beriringan. Di sanalah peserta diuji bukan hanya dalam hal keilmuan, tapi juga dalam karakter dan keteguhan hati. Peliknya MQK justru menjadi ruang pembelajaran yang paling berharga—dan bagi saya, menjadi titik balik untuk lebih serius menapaki jalan keilmuan yang saya cita-citakan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
