Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Edu Sufistik

Mudik ke Kampung Akhirat

Agama | 2026-03-18 14:20:06

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

(Penulis Buku Tasawuf Puasa)

Pada setiap penghujung Ramadhan sebagian saudara kita menjalani perjalanan mudik ke kampung halaman masing-masing. Semua perbekalan telah disiapkan agar perjalanan pulang kampung berjalan lancar dan selamat sampai tujuan.

Tidakkah kita menginsyafi demikianlah sejatinya perjalanan hidup kita di dunia. Kita semua sedang menempuh perjalanan (hidup) untuk kemudian pulang (mati) ke kampung akhirat. Jika untuk perjalanan pulang kampung saat mudik lebaran saja kita menyiapkan bekal dengan serius, seharusnya kita jauh lebih serius lagi mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan pulang ke kampung akhirat.

“Dunia itu ladang akhirat,” demikian Imam al-Ghazali menuliskan riwayat tersebut dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin. Meski para ulama hadis menilai riwayat tersebut bermasalah kesahihannya, namun kita bisa memetik pelajaran berharga.

Karena kehidupan dunia laksana tempat bercocok tanam bagi kehidupan akhirat, seharusnya kita memanfaatkannya secara optimal untuk menanam kebaikan sebanyak-banyak dan seluas-luasnya. Sebagai bekal yang akan kita panen nanti di kampung akhirat. Bukan malah sebaliknya, menanam keburukan dan kejahatan di dunia yang akan menjadi beban dan ancaman bagi kita di kampung akhirat.

Persoalannya, pesona kehidupan dunia memang memikat. Banyak manusia yang terpikat dan tertipu pesonanya. Mereka lupa pasti pulang (mati) ke kampung akhirat. Dan, baru tersadar ketika kematian sudah di depan mata. Tapi, sayangnya itu sudah tiada guna.

Secara fitrah kemanusiaan, kita memang memiliki kecenderungan tertarik dengan berbagai kenikmatan dunia. Bisa perempuan (lawan jenis), anak-anak, harta yang bertumpuk berupa emas dan perak (uang), kuda tunggangan pilihan (mobil), hewan ternak, dan sawah ladang (properti). (QS. 3: 14).

Walakin, kita mesti menyadari pada akhir ayat tersebut, Allah mengajak kita berpikir perbandingan. Apa-apa yang disebutkan di atas memang perhiasan dunia yang memikat, namun di sisi Allah ada tempat kembali yang baik (surga) dan keridhaan-Nya.

Pada surat Al-Ankabut ayat 64, Allah kembali mengajak kita berpikir perbandingan menggunakan akal yang jernih. Pada ayat ini Allah membuat perumpamaan kehidupan dunia seperti senda gurau dan permainan.

Sayyid Quthub, dalam kitab Tafsirnya fi Zhilal Al-Qur’an, menerangkan mengapa Allah membuat perumpamaan seperti itu? Manusia bisa menyaksikan secara kongkrit bagaimana anak-anak bersenda gurau dalam permainan. Tentu saja mengasyikan. Namun, itu hanya sementara. Permainan itu pasti berakhir dan anak-anak pulang ke rumah masing-masing.

Kemudian, pada lanjutan ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa negeri akhirat itu kehidupan yang sempurna (hayawân). Imam al-Qurthubi, dalam kitabnya Tafsir al-Qurthubi, menerangkan kata “hayawân”, dalam gramatika Bahasa Arab, mengikuti wazan (pola) “fa’lân” yang memiliki makna kesempurnaan.

Melalui ayat ini, kita diajak untuk membandingkan dua hal; yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dunia itu nisbi dan fatamorgana, sedangkan akhirat itu hakiki dan sebenarnya. Dunia itu permainan dan sementara, sedangkan akhirat itu sempurna dan selamanya.

Setiap orang yang berakal sehat, tentu bisa menilai perbandingan tersebut tidaklah sepadan. Nisbi berbanding hakiki dan sementara berbanding selamanya. Artinya, jika akal kita lurus dan berpikir jernih, maka kita menginsyafi akhiratlah prioritas dan tujuan kita. Itulah mengapa pada akhir ayat tersebut, disebutkan, “Sekiranya mereka mengetahui (memiliki ilmu pengetahuan).”

Oleh karena itu, agar tidak terlena oleh pesona kehidupan dunia, sikap terbaik menjalani kehidupan di dunia adalah laksana seorang pengembara. “Jadilah kalian hidup di dunia seperti orang asing atau pengembara,” demikian pesan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah ibnu Umar yang diriwayatkan Imam al-Bukhari.

Seorang pengembara menyadari meski sejauh apapun berkelana, pasti pada waktunya dia pulang. Karenanya, dalam pengembaraannya dia senantiasa menjaga dirinya agar tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari. Dia mawas diri agar tidak ada perkataan dan perbuatannya yang bisa menimbulkan gugatan dan menghambatnya saat pulang.

Demikianlah semestinya kesadaran diri kita dalam menjalani kehidupan di dunia. Kita berasal dari Allah dan pasti kembali kepada-Nya (QS. 2: 156). Sejauh apapun kita berjalan dan berkelana di dunia, pada waktunya kita pasti pulang ke kampung akhirat. Kampung tempat tinggal kita yang sejati dan abadi. Di situlah kita akan menuai semua yang kita tanam selama hidup di dunia. Tidak ada yang luput meski sekecil atom.

Semoga perjalanan kita mudik ke kampung halaman setiap kali lebaran menghadirkan keinsyafan untuk mempersiapkan bekal mudik pulang ke kampung akhirat. Menjadikan kita pribadi yang lebih baik setiap tahunnya. Menanam kebaikan setiap hari meski kecil dan sederhana.

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian,” demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi. Wallâhu a’lam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image