Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Prisca Jameila Bilbinna

Triase: Kode Warna yang Digunakan Dokter untuk Menangani Pasien

Hospitality | 2025-11-21 14:24:33

Setiap hari, Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menerima puluhan hingga ratusan pasien dengan beragam keluhan, kondisi medis, dan tingkat kegawatan. Meskipun RSUA memiliki jumlah tenaga kesehatan yang memadai, menangani lonjakan pasien yang dapat terjadi dalam waktu bersamaan tetap memerlukan sistem yang terorganisasi dengan baik. Karena itu, RSUA merancang alur pelayanan serta menyediakan fasilitas yang mendukung pelaksanaan triase secara optimal.

Triase merupakan metode penilaian dan pengelompokan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan medis, dan menjadi prosedur standar di IGD rumah sakit mana pun. Dalam sistem triase, pasien dikelompokkan ke dalam empat kategori menggunakan kode warna: hijau untuk kondisi tidak gawat dan tidak darurat (misalnya luka ringan, demam, batuk-pilek); kuning untuk pasien gawat tetapi tidak darurat (seperti fraktur, luka sedang, atau dehidrasi sedang); merah untuk kondisi gawat dan darurat (misalnya perdarahan hebat, cedera kepala berat, atau sesak napas berat); serta hitam untuk pasien yang tidak dapat ditolong atau telah meninggal. Pelaksanaan triase ini sangat penting untuk menentukan prioritas penanganan pasien.

RSUA telah menata fasilitas triase dengan baik, yang dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, lokasi IGD berada tepat di depan pintu masuk rumah sakit dengan akses kendaraan yang memungkinkan pasien diturunkan langsung di depan pintu IGD. Pintu masuk yang lebar memudahkan proses keluar-masuk. Tepat di area depan terdapat meja registrasi dengan petugas kesehatan yang siaga, sehingga pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan cepat. Setelah itu, terdapat lorong dengan penanda warna sesuai kategori triase yang mengarahkan pasien menuju ruang perawatan masing-masing. Bagian kanan lorong adalah area untuk triase hijau, sedangkan sisi kiri digunakan untuk triase kuning.

Masih di sisi kanan lorong terdapat ruang resusitasi yang dilengkapi peralatan untuk menangani gangguan pernapasan dan sirkulasi, seperti EKG, defibrilator, mesin suction, OPA, tabung oksigen, serta peralatan lain pendukung resusitasi. Ruangan dengan kapasitas tiga pasien ini difungsikan untuk menangani kondisi kritis seperti henti napas atau henti jantung melalui tindakan resusitasi jantung paru otak.

Di ujung lorong, terdapat ruang besar khusus pasien triase merah. Di dalamnya tersedia area penanganan utama serta beberapa bilik kaca dengan fungsi berbeda. Salah satunya adalah bilik Infectious Disease, yang digunakan untuk pasien dengan potensi penyakit menular, seperti korban kecelakaan dengan riwayat TB. Bilik ini didesain tertutup untuk mencegah penularan, dan akan disterilkan kembali setelah digunakan. Terdapat pula bilik konseling psikologi bagi pasien yang memerlukan dukungan psikis. Selain itu, dekat dengan ruang triase merah tersedia ruang persalinan darurat yang dilengkapi bed partus, inkubator bayi, ventilator, dan fasilitas bersalin lainnya. Ruangan ini digunakan untuk menangani proses persalinan yang memerlukan tindakan segera sebelum ibu dan bayi dirujuk ke ruang perawatan pascanatal di lantai lima.

Dengan pembagian ruangan yang jelas, tenaga medis dapat mengatur prioritas dan memberikan penanganan secepat mungkin sesuai kondisi pasien. Namun dalam situasi tertentu, seperti saat IGD penuh atau sangat sepi, beberapa ruang dapat dialihfungsikan menyesuaikan kebutuhan. Seluruh fasilitas dan alur pelayanan dirancang untuk menjaga agar proses penanganan tetap efisien sehingga pasien mendapatkan perawatan yang tepat dan terhindar dari risiko kecacatan atau kematian.

Triase juga dapat menimbulkan dilema etika bagi dokter. Dalam situasi darurat massal, dokter penanggung jawab IGD harus mempertimbangkan banyak hal: siapa yang harus didahulukan, siapa yang menunggu, dan bagaimana tetap memegang teguh prinsip bioetika seperti autonomy, beneficence, non-maleficence, dan justice. Karena itu, pelatihan mengenai sistem triase menjadi sangat diperlukan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image