Generasi Z Candu Spotify: Sekadar Musik atau Pelarian Emosional?
Gaya Hidup | 2025-11-19 18:12:18
Pernah terpikir tidak? Banyak anak muda kini merasa ada yang kurang sebelum membuka Spotify, seakan hari baru benar-benar dimulai setelah satu lagu favorit diputar. Ada yang langsung panik ketika baterai earphone habis, ada pula yang mengaku tidak bisa fokus, tidur, dan berpikir jernih tanpa alunan musik dari aplikasi itu. Kebiasaan ini berkembang begitu cepat hingga Spotify terasa seperti kebutuhan dasar, bukan lagi hiburan biasa. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya membuat generasi ini begitu terpaut.
Algoritma Spotify menjadi salah satu penyebab utamanya. Rekomendasi lagu sering dianggap sangat sesuai, seolah aplikasi tersebut memahami suasana hati penggunanya. Playlist yang muncul terasa tepat pada berbagai situasi, baik ketika sedang sedih, membutuhkan fokus, maupun ingin memulai hari dengan suasana yang lebih positif. Kedekatan semacam ini membuat musik tidak hanya menjadi latar aktivitas, tetapi berubah menjadi teman emosional yang memberikan rasa nyaman.
Spotify juga berfungsi sebagai pelarian cepat dari tekanan harian. Tugas sekolah, tuntutan media sosial, kecemasan, dan ritme hidup yang serba cepat mendorong generasi Z mencari sesuatu yang sederhana tetapi menenangkan. Musik mampu memberikan ruang untuk bernapas tanpa perlu usaha besar. Cukup memasang earphone dan memutar playlist favorit, suasana hati terasa lebih ringan. Kebiasaan seperti ini perlahan membentuk ketergantungan yang tidak selalu disadari.
Kedudukan Spotify dalam budaya sosial generasi Z turut memperkuat keterikatan tersebut. Tren lagu dari TikTok, percakapan tentang artis yang sedang naik daun, hingga momen tahunan Spotify Wrapped menciptakan dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan musik terbaru. Banyak anak muda merasa perlu tetap terhubung dengan tren agar tidak tertinggal dalam obrolan dengan teman sebaya. Spotify akhirnya berperan sebagai sarana menjaga relevansi diri di tengah lingkungan sosial yang dinamis.
Jadi, salahkah generasi Z candu Spotify?
Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Musik memiliki kemampuan menenangkan yang dibutuhkan banyak orang, terutama ketika emosi sedang tidak stabil atau pikiran terasa penuh. Spotify hanya mempermudah akses terhadap kenyamanan itu melalui jutaan lagu dan rekomendasi yang dipersonalisasi. Aplikasi ini menawarkan ruang aman yang dapat dijangkau kapan saja tanpa banyak upaya.
Generasi Z perlu memahami batas antara musik yang membantu dan musik yang mulai mengendalikan emosi. Spotify tetap menjadi kebiasaan positif selama tidak menggantikan kemampuan untuk menenangkan diri tanpa bantuan tambahan. Kebiasaan ini ideal selama penggunanya tetap sadar dan mampu mengatur diri tanpa selalu bergantung pada playlist.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
