Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shinta Silvia

Menuju Paradigma dan Kebijakan Ekologi yang Resilien

Eduaksi | 2025-11-17 17:28:50

Ekologi lahir pada akhir abad ke-19 sebagai upaya memahami dunia hidup secara utuh, sebuah disiplin yang pada awalnya dibayangkan sebagai studi tentang superorganisme. Awalnya para ekolog memandang hutan, padang rumput, dan tumbuhan sebagai makhluk hidup raksasa yang tumbuh, berkembang, dan menua. Cara pandang ini bukan sekadar ilmiah, tetapi juga cerminan zaman ketika sosiologi pun memandang masyarakat sebagai organisme besar dengan fungsi-fungsi yang saling terhubung. Konsep superorganisme ini menandai awal perjalanan ekologi menuju ilmu yang lebih kritis dan empiris.

Saatnya membangun peradaban ekologi global yang resilien. Ilustrasi foto: www. pexels.com

Gagasan superorganisme yang dulu dianggap visioner kini tampak metafisik, tetapi akar biologisnya jelas. Pada masa itu, ekologi meniru taksonomi dan anatomi. Clements bahkan merancang taksonomi ekologi untuk mengklasifikasi tundra, stepa, hingga hutan tropis layaknya spesies dalam biologi. Cara pikir hierarkis ini merefleksikan obsesi manusia modern akan keteraturan. Suatu obsesi yang hingga kini terbawa dalam wacana pengelolaan lingkungan.

Namun ketika observasi lapangan semakin dalam, paradigma superorganisme runtuh. Komunitas tumbuhan tidak pernah tumbuh secara deterministik; perubahan vegetasi tidak bergerak lurus menuju klimaks yang stabil. Paleo-ekolog bahkan menemukan bahwa susunan komunitas masa lampau adalah hasil kebetulan ekologis, bukan hasil desain alam yang rapi. Penemuan ini sangat relevan dengan kondisi bumi saat ini. Ekosistem yang genting, dinamis, dan tak dapat diprediksi, terutama di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem (Bergandi, 2013).

Koreksi ilmiah datang dari Arthur Tansley yang memperkenalkan konsep ekosistem pada 1935. Ia memasukkan unsur abiotik, tanah, air, mineral, ke dalam jantung analisis ekologis. Sejak saat itu, fokus berpindah dari organisme raksasa imajiner menuju aliran energi dan siklus materi. Perubahan paradigma ini menjadi penting di abad ke-21 ketika karbon, fosfor, nitrogen, dan air menjadi indikator vitalitas planet yang kini mengalami overshoot ekologis. Dengan kata lain, ekologi modern tidak lagi memusatkan diri pada bentuk, tetapi pada proses.

Raymond Lindeman kemudian mengukur energi matahari yang masuk ke danau Minnesota dan pelan-pelan mengubah ekologi menjadi ilmu kuantitatif. Penelitian-penelitian semacam ini membuka pemahaman tentang batas energi, efisiensi ekologis, dan kehilangan energi dalam setiap tingkat trofik. Hari ini, logika energi Lindeman bergema dalam diskusi tentang transisi energi global, betapa rapuhnya sistem pangan dan energi modern yang sangat boros, tidak efisien, dan sangat bergantung pada fosil.

Meskipun ekosistem bukan superorganisme, beberapa ilmuwan tetap terjebak pada imajinasi keseimbangan. Eugene Odum, misalnya, mengembalikan ekologi ke arah pandangan organismik dan menyatakan bahwa ekosistem menuju kedewasaan dan akhirnya mencapai kestabilan. Namun riset terbaru justru menunjukkan sebaliknya, ekosistem mengalami fluktuasi liar, migrasi spesies meningkat, dan gangguan datang lebih cepat dari kemampuan adaptasi. Realitas ini sangat terasa di era Anthropocene, ketika kebakaran hutan, badai super, dan kepunahan spesies terjadi serentak.

Paradigma ekologi modern kini bergerak ke arah lain, bukan stabilitas, melainkan ketahanan (resilience). Dalam dunia yang memanas, konsep superorganisme tampak usang, namun gagasan baru muncul, organisme sebagai superekosistem. Manusia, misalnya, menyimpan ratusan triliun mikroba dalam tubuhnya lebih banyak daripada jumlah sel manusia itu sendiri. Manusia bukan individu tunggal, melainkan ekosistem berjalan, dan pemahaman ini membawa konsekuensi besar dalam kesehatan publik dan keberlanjutan lingkungan. Tubuh kita adalah miniatur planet, kompleks, saling bergantung, dan rentan.

Alhasil, evolusi gagasan dalam ekologi mengajarkan satu hal penting bagi dunia yang sedang berada di tepi krisis iklim, bumi bukan organisme besar yang akan menstabilkan dirinya, sebagaimana dulu diyakini. Bumi adalah jaringan proses yang terbuka, tak pasti, dan rentan terhadap gangguan. Kesadaran ini menuntut perubahan paradigma global dari kontrol menuju kehati-hatian, dari dominasi menuju koeksistensi, dari eksploitasi menuju regenerasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image