Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zahlya Safa

Musik dan Otak Bertumbuh Bersama Dalam Proses Belajar Memahami Diri

Gaya Hidup | 2025-10-20 09:26:45

Semakin banyak ilmu pengetauhan yang akan kita dapat guna masa depan. Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan‐perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, dan sikap (Winkel, 1996). Dan membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia.

Secara umum, otak (cerebrum) terdiri dari dua belahan yaitu: hemisfer kanan dan hemisfer kiri yang dihubungkan dengan corpus callosum (Wade & Tavris, 2007; Pinel, 2009; Kalat, 2010). Menurut Sperry (dalam Wade & Tavris, 2007) hemisfer kanan memiliki kemampuan lebih dalam memecahkan persoalan‐ persoalan yang menuntut kemampuan visual‐spasial, kemampuan menggunakan peta, atau meniru pola berpakaian, menge‐ nali wajah, dan membaca ekspresi wajah. Sedangkan, Otak yang merespon musik lebih baik ialah hemisfer kiri. Tetapi, hemisfer kanan yang berguna dalam memahami tentang intonasi, melodi, warna dan harmoni suara yang dimunculkan.

Pengertian musik itu sendiri adalah : ”Music is one of the release and expression of feelings, moods and emotions” (Claudia Eliason dan Loa Jenkins, 2008: 353) Menurut (Salinda, Mursalim, 2021). Musik atau yang kita kenal sebagai “lagu” ini memiliki makna lirik lirik indah didalamnya. lirik merupakan refleksi pemikiran dan emosi penulis berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Musik menjadi sarana ekspresi yang efektif untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran seseorang, sekaligus dapat menerapkan nilai dan norma budaya yang terjadi dalam masyarakat. Manfaat musik tak hanya dirasakan oleh pelajar sebagai pembakar semangatnya dalam belajar, tetapi terapi bagi orang dewasa dalam menghadapi masa masa berat hidupnya. Juga bahkan, manfaat musik ini dapat dirasakan oleh bayi. Hal imi dapat terjadi karena adanya reseptor (sinyal penerima) didalam otak manusia sehingga mampu mengenali musik.

orang tua yang sedang memperkenalkan & memainkan musik kepada balitanya. (sumber; pexels-helenalopes)

Diumurnya yang kecil, otak bayi sudah dapat menerima musik. Meski dengan kemampuan terbatas. Tetapi dengan hadirnya musik, membantu pertumbuhan otak bayi yang belum sempurna. Musik dapat menjadi stimulasi untuk mempercepat dan mempersubur perkembangan otak bayi. Dalam Sousa (2012: 260) secara neurologis musik yang didengar akan masuk kedalam koklea sel-sel yang berbeda-beda sehingga respon yang diberikan berbeda-beda pula. Bila anak terbiasa mendengar musik yang indah, maka akan banyak manfaat yang dapat teroleh oleh anak. Musik tidak hanya meningkatkan kognisi anak secara optimal, juga membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Hal ini dijelaskan juga

seorang pelajar yang mendengarkan musik ditengah waktu belajarnya (sumber; pexels-karolina)

Sedangkan bagi remaja yang memiliki peran sebagai pelajar, penggiat akademik nan peraih cita cita. Musik cukup memberi pengaruh yang signifikan. Musik sebagai sumber ketenangan dan kebahagiaan bagi pelajar ditengah letihnya fokus menjaga prestasi akademik yang stabil tuk perencanaanya dalam meraih cita – cita dimasa depan. Musik sendiri dapat memberi kebahagian tersendiri bagi pelajar dengan alunan irama, melodi dan liriknya yang dinyanyikan dengan penuh semangat & maknanya yang menginspirasi. Hal ini didukung oleh, penelitian yang menunjukkan bahwa belajar lebih mudah dan cepat jika pelajar dalam kondisi santai dan reseptif.

Detak jantung orang dalam keadaan ini adalah 60 sampai 80 kali per menit. Kebanyakan musik barok sesuai dengan kondisi detak jantung manusia yang santai dalam kondisi belajar optimal (Schuster & Gritton, dalam De Porter et al., 2001). Dalam keadaan ini otak memasuki gelombang alfa (8‐ 12 Hz). Gelombang alfa merupakan ʺkewaspadaan yang rileksʺ (relaxed alertness) atau kadang juga disebut ʺkesadaran yang rileksʺ (relaxed awareness) (Dryden & Vos, 2000). Otak pada ritme alfa ini, merupakan kondisi otak yang rileks namun waspada, sehingga bagian dari otak, yaitu hippocampus dan somatosensory, dapat be‐ kerja dengan optimal (Ostrander, Ostrander, Schoeder, 2000).

seorang pria yang sedang mendalami perasaanya ketika sedang membuat lirik lagunya sendiri. (sumber; pexels-tima)

Disisi lain yakni orang dewasa, musik sebagai ruang aman tuk menyuarakan perasaannya lewat lirik lagu yang ditulis. Ataupun bahkan bagi beberapa orang yang hanya cukup mendengar karya lagu seseorang saja, hal itu sudah dapat membuatnya merasa lebih baik dengan sadar “Makna”. Akan kehadirannya saat inilah yang jauh penting, diri yang masih berjuang ditengah realita kehidupan yang tidak selalu indah dan sesuai rencana ini. Musik dapat begitu bermakna dan berdampak bagi orang yang mendengarnya. Barete et al. (2024) menyatakan bahwa lirik lagu populer dapat mempresentasikan proses penyembuhan dan perjuangan di dalam diri seseorang, memberi pendengar kesempatan untuk membentuk makna atas pengalaman emosional mereka sendiri. Konsep ini sejalan dengan gagasan ini. Orang dapat belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan mengendalikan perasaan mereka melalui lirik musik. Selain itu, Yuniswara dan Hartini (2022) menekankan bahwa pemrosesan kognitif terhadap lirik lagu memiliki fungsi psikologis penting yang dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi melalui refleksi diri dan pemahaman isi lirik, terutama emosi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan emosi pribadi.

Ketika seseorang mendengarkan lagu bersama-sama atau berbagi cerita tentang lagu yang mereka sukai, hal itu menciptakan hubungan yang lebih kuat antar pendengar, pembicaraan tentang pengalaman pribadi juga sering muncul (Dian et al., 2023). Saat mendengarkan musik, kita mudah hanyut dalam suasana dan bersimpati pada kenyataan yang kita hadapi. Terlebih lagi jika lirik lagu tersebut related dengan kehidupan pribadi. Makna lirik sering memerlukan interpretasi . Hal ini didukung oleh pendapat. Menurut (Hidayat, 2019) Makna dibahas dalam kehidupan sehari-hari, terutama makna eksistensial yang berkaitan dengan tujuan hidup manusia. (Nurhamidah & Pamungkas, 2024) menyatakan bahwa makna lirik lagu bersifat kontekstual dan dapat ambigu, yang memungkinkan pendengar untuk membuat interpretasi yang relevan dan pribadi. Dengan itu , kita dapat merasa nyaman , aman, tenang, merasa diterima seutuhnya karena ketika mendengar musik. Karena diri sekejab merasa seperti didengar dan dipahami seutuhnya.

Makna yang diperoleh dari lirik musik/lagu tersebut, terasa melekat karena adanya system kerja amigdala dan hipokampus yang bekerja sama secara optimal. Amigdala merupakan pusat emosi regulasi, yang memproses cara mengekspresikan emosi yang dirasakannya. Sedangkan, hipokampus merupakan ʺpintu gerbang menuju ingatanʺ. Hipokampus memungkinkan individu membentuk ingatan spasial. Penelitian menunjukkan bahwa komponen-komponen musik seperti tempo, melodi, dan harmoni secara kolektif memicu respons limbik yang lebih kuat. Hubungan era tantara amigdala dan hipokampus itu yang menyebabkan seseorang bisa sedih ataubahkan menangis secara tiba-tiba. Emosinya dimasalalu seketika hadir kembali (dejavu) saat mendengar lirik lagu yang related dengan kehidupannya saat ini.

Musik akan mengaktifkan amigdala dan hipokampus yang berperan dalam pengaturan emosi dan memori. Hipokampus, memiliki hubungan erat dengan ingatan emosional, memainkan peran penting dalam mengaktifkan ingatan positif yang berkaitan dengan musik yang disukai, yang pada akhirnya membantu mengurangi kecemasan dan memperkuat regulasi emosi (Hamiduzzaman, Xie, dan Mihelcic 2023). Musik yang disukai secara personal dapat merangsang pelepasan dopamin, menciptakan perasaan senang dan relaksasi yang bermanfaat dalam mengurangi stress. Oleh karena itu, mengapa pelajar dapat merasakan kesenangannya / kebahagiannya sendiri. Ketika mendengarkan musik dikala sedang mengerjakan tugas ataupun belajar.

Pada akhirnya, musik tidak hanya mengenal untuk satu jenis golangan usia seseorang saja. Dengan musik, tidak hanya sebagai tempat aman dimengerti & dipahami, wadah mengekspresikan diri, bahkan dikenal sebagai sebuah karya, tetapi juga pembakar semangat hidup seseorang dalam menghadapi kehidupannya. Ditengah masa – masa terpuruknya seseorang dalam menghadapi realita kehidupan. Musik hadir sebagai penenang dan penyemangat. Musik mampu membuat seseorang lebih Tangguh.

Daftar Pusaka

https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/viewFile/11538/8604

https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/123764209/UAS_Artikel_psikologi-libre.pdf?1752508421=&response-content-disposition=inline%3B+filename%3DSTUDI_PSIKOLOGI_PERKEMBANGAN_KOGNITIF_AN.pdf&Expires=1759672669&Signature=LjfHwqGaYaAW9dSM5CqNy9UfY0Hx3TKvYx2acvRN08cS6AQHzE588-3qiOJ~-rEsqF2z~iZS0xmgNzdOLtvMYMN52cK5CrOKUzF4XmBCGRQPHdX4~1HdhR~U72fQ~YCEL9~7vuE7dotPKnFzGHHVVAXxcMLKm-XV9R5sBJULdWZs9T~pegs4TekuqUXr~dTUz1ae3egNnRiF4iND3HceoNy9WhBRuRFdtSrCCMqy6sd-ozZIsaZVQcXtVFbW0PdebS-bEwdVHxad-IB8r8X8gm-KNDrTN5W8p2Lrvld2dCLKN~CEgTeu-Qo4w~Ko3CmYof1UNg-zQ2FoU23C0EOWaQ__&Key-Pair-Id=APKAJLOHF5GGSLRBV4ZA

http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id/index.php/raudhah/article/viewFile/60/39

Malikah, M. (2024). Dinamika Pengaruh Musik pada Kesejahteraan Psikologis Peserta Didik: Analisis Literatur tentang Respons Neurologis dan Emosional. Journal of Education Research, 5(4), 5109-5118.

Oktorra, E. J., Fitriyani, F., Puspita, R. S., Amanda, R. P., Nurcholisa, S., & Rahman, A. A. (2025). Eksplorasi Makna Hidup Dalam Lirik Lagu Bertaut oleh Nadin Amizah. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(3), 1527-1238.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image