Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

H Hijab and Jilbab, Ekspresi Spiritual Penjaga Kemuliaan

Agama | 2025-10-12 07:06:01

Oleh: Muliadi Saleh

Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan

"Hijab bukan sekadar kain, tapi bahasa cinta yang sunyi. Ia bukan tentang siapa yang terlihat lebih saleh, tapi tentang siapa yang belajar menundukkan diri di hadapan Sang Maha Indah. Mari kita berhenti mengukur kesalehan dari panjang kain, dan mulai menimbang makna di balik kesadaran."

Hijab dan jilbab — dua kata yang sering bersanding dalam percakapan, namun sesungguhnya memantulkan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lembar kain yang menutup kepala atau tubuh.

Keduanya adalah bahasa cinta antara hamba dan Tuhannya. Bahasa kesadaran yang lembut, tapi kuat.

Hijab, dalam akar katanya, berarti “penghalang” atau “pelindung.” Namun hijab bukan tembok pemisah. Ia taman perlindungan bagi harga diri. Saat seorang perempuan menutup kepalanya, sesungguhnya ia sedang menundukkan hatinya di hadapan Allah. Ia sedang berkata, “Aku memilih dilihat oleh-Nya, bukan oleh dunia.”

Rumi pernah menulis,

“Keindahan sejati bukan pada wajah, tetapi pada cahaya di dalam hati.”

Dan hijab adalah cermin dari cahaya itu. Ia mengajarkan bahwa keindahan sejati tidak butuh sorotan, cukup niat yang tulus dan langkah yang jujur.

Namun hijab hanyalah pintu. Di baliknya ada jilbab — pakaian panjang dan longgar yang menutupi tubuh kecuali wajah dan tangan, sebagaimana perintah Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 59:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.”

Ayat ini bukan pembatas, tapi perlindungan. Allah tidak ingin membatasi perempuan, tetapi ingin menjaga martabatnya agar tetap bercahaya.

Namun, di tengah arus dunia modern, makna itu sering bergeser. Hijab kadang hanya menjadi tren, jilbab dijadikan mode. Padahal hakikatnya bukan soal bentuk, tapi kesadaran. Bukan soal kain, tapi keyakinan.

Al-Hallaj pernah berkata,

“Ketundukan adalah hijab yang melindungi cinta dari kesombongan.”

Maka perempuan yang berhijab karena Allah, sejatinya sedang menempuh jalan cinta itu — cinta yang menundukkan ego, menenangkan jiwa, dan memuliakan makna.

Berhijab bukan berarti menolak dunia, tapi menata cara dunia memandang. Ia bukan sekadar identitas, tapi pernyataan lembut: bahwa kebebasan sejati adalah mampu memilih untuk menjaga.

Di tengah gemerlap budaya visual, hijab dan jilbab adalah perlawanan yang paling indah — tanpa teriakan, tanpa amarah. Ia lembut tapi tegas, sederhana tapi bermakna.

Hijab dan jilbab tidak membuat perempuan kehilangan jati diri. Justru di sanalah ia menemukan dirinya — sebagai hamba, sebagai cahaya, sebagai sosok yang tahu bahwa kecantikan sejati tidak perlu dipamerkan untuk diakui.

Selama masih ada perempuan yang menutup diri karena cinta, bukan karena takut, selama itu pula cahaya Islam akan tetap hidup — lembut, hangat, dan tak pernah padam.

Hijab bukan hanya pakaian. Ia adalah perjalanan.

Dan perjalanan itu, seperti cinta, tidak selalu mudah — tapi selalu bermakna.

Berhijab bukan karena tren, tapi karena Allah SWT.

Bukan karena budaya, tapi karena cinta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image