Saat Cinta Kehilangan Allah, Generasi Pun Kehilangan Arah
Agama | 2025-08-15 05:59:36
By: Sarie Rahman
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) resmi diluncurkan Kementerian Agama sebagai angin segar bagi pendidikan keagamaan di Indonesia. KBC bukan sekadar sarana transfer ilmu, melainkan media pembentukan karakter penuh kasih yang menanamkan nilai cinta, semangat kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkunganseja, sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, kurikulum ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap krisis kemanusiaan yang terus berulang tanpa solusi yang menyentuh akar. Ia menekankan, pendidikan seharusnya menyatukan manusia lewat titik temu, bukan memperuncing perbedaan. “Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi justru menyulut kebencian,” ujarnya tegas. (Kemenag.co.id, 24/07/25)
Sebagai format baru pendidikan Islam yang digadang lebih menyentuh sisi kemanusiaan, merangkul keberagaman dan menumbuhkan spiritualitas, Kementerian Agama (Kemenag) resmi memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Menteri Agama Nasaruddin Umar, menyebut KBC sebagai langkah transformasi besar dalam sistem pendidikan nasional. Kurikulum ini dirancang sebagai respon atas berbagai persoalan serius yang menghantam negeri, mulai dari meningkatnya sikap intoleran, krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda, hingga kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Namun di balik narasi cinta yang ditawarkan, publik patut jeli membaca arah kurikulum ini, apakah sungguh membawa solusi substantif atau justru menyembunyikan agenda lain di balik selimut humanisme semu.
Ketika Cinta Kehilangan Kompas, Tersesat di Lorong Toleransi Buta
Nama Kurikulum Cinta memang terdengar memikat, seolah menawarkan solusi lembut dan penuh kasih dalam dunia pendidikan. Namun jika dikupas lebih dalam, ternyata tersembunyi ancaman serius bagi jati diri generasi muslim. Di balik narasi cinta, terselip agenda deradikalisasi sejak usia dini yang justru menyasar ajaran Islam kaffah. Anak-anak muslim diajarkan untuk bersikap lunak terhadap nonmuslim bahkan ikut merayakan hari besar mereka, sementara mereka yang konsisten ingin menerapkan syariat Islam secara menyeluruh malah dicap radikal, dimusuhi, dikriminalisasi, hingga dibubarkan pengajiannya. Kurikulum ini secara halus menanamkan standar ganda yaitu hormat dan lembut pada yang berbeda akidah, namun curiga dan keras pada saudara seiman. Ironisnya, atas nama cinta dan toleransi, umat justru dijauhkan dari agamanya sendiri. Apakah ini benar-benar cinta, atau strategi lunak untuk mematikan ruh Islam dari dalam?
Kurikulum Manis Mengikis Iman
Pendidikan adalah bidang strategis yang akan mencetak generasi masa depan yang cemerlang, maka bila kurikulumnya tidak berpijak pada akidah yang benar, arah dan tujuan bangsa pun akan menyimpang. Kurikulum Berbasis Cinta sejatinya berlandaskan sekularisme, meski dibungkus dengan narasi indah dan humanis. Ia menggeser arah pendidikan jauh dari tuntunan syariat, mengangkat akal manusia sebagai hakim tertinggi dalam menentukan benar dan salah.
Sekularisme adalah ide yang sesat dan batil karena memisahkan agama dari kehidupan, padahal Islam diturunkan sebagai aturan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari hubungan manusia itu dengan Tuhannya, hubungan manusia itu dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia itu dengan manusia lainnya, yang meliputi tentang muamalah, politik bernegara, termasuk didalamnya pendidikan. Menerapkan kurikulum sekuler atas nama cinta justru menyesatkan umat, karena cinta sejati adalah taat kepada Allah dan menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman utama dalam mendidik generasi.
Islam menetapkan bahwa kurikulum pendidikan harus berbasis akidah Islam, bukan ideologi lain. Sebab akidah merupakan asas kehidupan setiap muslim, sekaligus fondasi utama bagi tegaknya negara Islam. Negara tidak cukup hanya menjaga fisik dan materi rakyatnya, tetapi juga wajib memelihara akidah mereka agar tetap lurus dan kokoh. Salah satu bentuk nyata pemeliharaan ini adalah dengan memastikan sistem pendidikan dibangun di atas dasar akidah Islam.
Iman Mengakar, Hidup pun Berpendar
Jika akidah tertanam kuat dalam sanubari umat Islam, maka ketaatan kepada syariat Allah bukan lagi sesuatu yang dipaksakan melainkan mengalir utuh, menyeluruh, dan menjadi napas dalam setiap aspek kehidupan. Mereka tidak akan setengah hati dalam menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya, karena akidah yang kuat melahirkan keyakinan bahwa aturan Allah adalah satu-satunya petunjuk hidup yang benar. Dari sini, umat akan memiliki landasan berpikir dan bertindak yang jelas dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Dengan menjadikan syariat sebagai solusi utama, umat akan mampu menyelesaikan masalah kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan moral, dan bahkan krisis global, karena mereka berpegang pada aturan yang bersumber dari Zat Yang Maha Mengetahui. Inilah sumber kekuatan sejati umat yaitu akidah yang teguh, yang menuntun pada ketaatan tanpa syarat dan melahirkan kehidupan yang mulia, bermartabat, dan penuh keberkahan.
Allah berfirman dalam Surat Al A'raf ayat 96 :
> وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf: 96)
Oleh karena itu, umat butuh institusi negara yang mamiliki kekuasaan kuat untuk dapat menerapkan syariat Islam kaffah. Karena syariat Islam, baru dapat dijalankan sempurna jika ada institusi besar yang memiliki kekuatan untuk menerapkannya, yaitu Khilafah. Khilafah akan menjamin syariat Islam dapat diterapkan secara kaffah dalam semua lini kehidupan negara, tak ada kompromi dengan aturan buatan manusia, karena hanya Allah yang berhak menentukan hukum di muka bumi ini dan hanya hukum Allah yang layak ditaati. Maka, seluruh persoalan kemiskinan, kebodohan, kerusakan moral akan terselesaikan dengan tuntas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
