Menjadi Penulis Tanpa Gelar
Sastra | 2025-07-12 14:34:10Penulis: Radika Fauzia
“Karena yang paling berharga bukan gelar yang dimiliki, tapi manfaat yang dibagikan.”
Tidak sedikit orang yang merasa tidak percaya diri saat ingin mulai menulis karena merasa tidak cukup "Berpendidikan tinggi" ataupun belum memiliki gelar seorang “Ahli Penulis.” Merasa kalah langkah dibanding mereka yang punya gelar sarjana sastra, komunikasi, atau lulusan luar negeri. Bahkan sebelum menulis satu paragraf, keraguan sudah datang lebih dulu: “Siapa yang mau membaca tulisanku?”
Padahal, dunia menulis tak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Menulis bukan tentang seberapa tinggi gelar yang dimiliki, tapi tentang seberapa dalam pengalaman yang bisa dibagikan dan seberapa tulus niat yang menyertainya. Banyak penulis hebat yang justru lahir bukan karena titel dibelakang namanya, tapi karena mereka punya cerita dan niat baik untuk berbagi. Mereka menulis bukan karena diperintah, tapi karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Kadang, tulisan sederhana justru lebih menyentuh karena datang dari hati yang tulus.
Mereka yang pernah merasa tidak cukup layak, nyatanya bisa jadi yang paling mengerti rasa. Karena justru dari hati yang pernah merasa tidak dilihat, lahirlah tulisan yang mampu melihat orang lain lebih dalam.
Seperti kata Maya Angelou:
> "There is no greater agony than bearing an untold story inside you."
(Tak ada penderitaan yang lebih besar dari memendam kisah yang tak pernah diceritakan.)
Dalam Islam pun, ukuran kebermanfaatan seseorang tidak bergantung pada gelar atau status sosial. Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (H.R. Ahmad).
Menulis bisa menjadi salah satu jalan memberi manfaat. Bukan hanya untuk orang lain, tapi juga sebagai cara untuk menyembuhkan diri sendiri. Bahkan tulisan yang sederhana, jika ditulis dengan jujur dan niat yang baik, bisa menjadi cahaya bagi orang lain yang sedang gelap. Kamu tak perlu menunggu jadi "Ahli" dulu untuk menulis. Mulailah dari pengalamanmu sendiri, dari hal-hal kecil yang kamu rasakan, lihat, atau pelajari. Banyak tulisan yang awalnya hanya unggahan di media sosial, ternyata bisa jadi kekuatan untuk orang lain.
Allah juga berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadila: 11).
Jadi, untuk siapa pun yang pernah merasa bukan siapa-siapa jangan berhenti menulis. Tak perlu menunggu gelar, validasi, atau panggilan resmi “Penulis” untuk bisa berkarya. Karena dunia tidak selalu mencari siapa yang paling pintar. Dunia mencari siapa yang paling tulus menyuarakan harapan. Teruslah menulis. Karena tulisanmu bisa jadi cahaya, meski kamu tak tahu siapa yang sedang hidup dalam gelap. ***
# Love YourSelf # Save You # Believe In YourSelf
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
