Mahalnya Harga PJJ

Image
Upik Kamalia
Lomba | Saturday, 26 Feb 2022, 22:54 WIB

Covid 19 ternyata belum mau pergi, setelah beberapa waktu sempat memberi harapan akan pergi selamanya. Harapan untuk hidup normal seperti sebelum pandemi melandapun sirna. kita kembali dihantui oleh wabah ini setiap kali hendak beraktifitas. Padahal kita sempat menikmati dan menghirup kembali udara dipegunungan, dipantai, sempat pula saling berkunjung, beribadah tanpa pembatasan. Anak-anak dengan semangat kembali ke sekolah dan bertemu serta bertatap langsung dengan guru-guru mereka. Akankah semua itu kembali dibatasi lagi?Haruskah belajar kembali dari rumah?

Terus terang, terlalu banyak hal yang harus dikorbankan jika kita kembali melaksanakan Pembelajaran jarak Jauh (PJJ). Cukup hampir 2 tahun belajar dari rumah yang dilaksanakan anak-anak kita menjadi pelajaran betapa rumitnya dan betapa sangat tidak memadainya hasil yang dicapai. Kesenjangan pendidikan semakin terasa karena PJJ. Anak-anak yang biasa tinggal di kota besar yang telah terbiasa dengan teknologi barangkali mampu melaksanakan PJJ dengan maksimal. Namun bagaimana dengan anak-anak yang baru kemarin mengenal handphone, mengenal laptop dan menikmati jaringan internet?Bagaimana pula dengan mereka yang jaringan internet tidak sampai ke tepat tinggal mereka?Dan bagaimana pula dengan anak-anak yang kemampuan orangtunya terbatas untuk melaksanakan PJJ?

Bukan lagi sekedar learning loss yang menjadi kekuatiran kita semua, lebih dari itu kita akan kehilangan generasi yang melek, yang kuat secara fisik, yang berwawasan dan yang peduli kepada lingkungan dan sesamanya. Selama PJJ mereka tidak lagi berolahraga, tidak lagi berorganisasi, dan tidak lagi berkegiatan secara langsung. Anak-anak kita sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan HP nya dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Angka putus sekolah meningkat, Angka pernikahan dini juga meningkat. Lantas bagaimana?

Pembelajran tatap muka tetap menjadi pilihan terbaik ditengah ancaman covid 19. Kita harus memaksakan diri untuk tetap belajar tatap muka, walau resiko anak-anak terpapar sangat terbuka. Kita tidak punya pilihan lain. Untuk itu prokes yang ketat menjadi pilihan yang harus diambil. Anak-anak harus dibiasakan untuk hidup bersih sesuai protokol kesehatan. Kegiatan luar harusnya kembali dilaksanakan karena resiko tertular sesungguhnya lebih banyak di dalam ruangan. Kalau demikian mengapa kegiatan olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler harus dibatasi? Hidup dan belajar harus dipaksakan normal kembali agar covid 19 tidak senantiasa menjadi sumber ketakutan yang melemahkan imun.

Disisi lain pemerintah semestinya memperhatikan pasokan makanan untuk rakyatnya. Anak-anak disekolah harus diberi asupan makanan bergizi agar penyakit menjauh dari mereka. Apakah sulit untuk pemerintah memberi bantuan makanan pada anak-anak yang sedang belajar disekolah?Langkah ini barangkali jauh lebih murah dari harga yang harus dikeluarkan untuk PJJ. Terlalu mahal harga PJJ. Tidak saja kita rasakan saat ini , tapi 10 atau 20 tahun mendatang masih akan kita bayar untuk PJJ ini. Jadi pilihan terbaik harus diambil agar generasi muda terselamatkan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Guru SMAS M.Natsir Alahan Panjang

Lulus Sebagai Guru Penggerak

Lulus Guru Penggerak

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Program pembuatan ruang literasi sebagai bentuk peningkatan minat baca SDN 13 Tambun Sukkean kecamat

Image

Peringatan HUT RI ke 77, Rutan Purworejo Tampilkan Beragam Baju Daerah Ala Model Profesional

Image

HUT RI Ke-77, 22 WBP Lapas Terbuka Nusakambangan Mendapat Remisi, 5 diantaranya Langsung Bebas

Image

Makna Hijrah dan Momentum Peringatan Kemerdekaan

Image

Terus Belajar, Menginspirasi, Memberi Manfaat, HUT RI ke-77 SIT Tunas Bangsa

Image

Upacara Kolaboratif HUT RI ke-77 ala SMP Mugadeta

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image