Kenapa Kurikulum Selalu Berubah? Menelusuri Akar Masalah Pendidikan Nasional
Pendidikan dan Literasi | 2025-05-21 05:17:13
Di Indonesia, perubahan kurikulum bukanlah hal baru. Hampir setiap pergantian menteri pendidikan atau kebijakan nasional disertai dengan revisi kurikulum. Dari kurikulum 1947 hingga Merdeka Belajar, setiap perubahan membawa harapan baru, tetapi juga kebingungan baru.
Pertanyaan mengapa kurikulum selalu berubah? Dan apakah perubahan ini benar-benar menjawab akar masalah pendidikan nasional?
Sikul yang Terulang
Sejak Indonesia merdeka, setidaknya sudah lebih dari delapan kali kurikulum berubah secara signifikan. Alasannya adalah penyesuaian terhadap dinamika zaman, mulai dari perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, hingga politik kebijakan. Namun, menurut para ahli pendidikan, perubahan ini seringkali lebih bersifat respon jangka pendek ketimbang solusi sistematik, Dr. Suyanto, mantan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, menyebutkan bahwa perubahan kurikulum di Indonesia cenderung reaktif dan kurang diikuti dengan pelatihan dan evaluasi yang mendalam (Suyanto, 2006).
Akar Masalah: Bukan di Kurikulum Saja
Banyak yang mengira perubahan kurikulum akan otomatis memperbaiki mutu pendidikan. Faktanya, kurikulum hanyalah satu komponen dari sistem pendidikan. Masalah utamanya sering kali terletak di implementasi, pelatihan guru, kesenjangan fasilitas antarwilayah, dan beban administratif yang tinggi.
Dalam studi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Kemendikbud (2020), ditemukan bahwa ketimpangan kualitas guru dan akses teknologi menjadi penghambat utama keberhasilan kurikulum, bahkan pada Kurikulum 2013 dan Merdeka Belajar.
Ketika Guru Tidak Siap Kurikulum Jadi Beban
Perubahan kurikulum yang ideal mestinya diikuti dengan pendampingan dan pelatihan intensif bagi guru. Tanpa itu, guru hanya akan mengalami kebingungan, atau malah kembali pada cara-cara lama yang sudah tidak relevan. Bahkan, dalam laporan World Bank (2020), disebutkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menerapkan pembelajaran berbasis kompetensi karena rendahnya literasi pedagogi dan teknologi di banyak daerah.
Apakah Harus Berubah Terus?
Perubahan memang penting, tetapi tidak harus selalu mengganti kurikulum. Yang lebih dibutuhkan adalah konsistensi implementasi, monitoring yang berkelanjutan, dan penguatan SDM pendidikan. Mungkin bukan kurikulumnya yang perlu berubah terus-menerus, tapi sistem yang menopangnya yang harus dibenahi secara menyeluruh.
Penutup
Kurikulum akan terus berkembang, dan itu wajar. Tapi perubahan tidak boleh hanya jadi formalitas atau pencitraan. Ia harus menyentuh akar — bukan hanya mengganti isi buku teks, tetapi juga memperkuat guru, infrastruktur, dan semangat belajar murid di seluruh Indonesia.
Daftar Pustaka
Suyanto. (2006). Problematika Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: UNY Press.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Kajian Pelaksanaan Kurikulum 2013 dan Tantangan Kurikulum Merdeka. Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbud.
World Bank. (2020). Indonesia Education Sector Assessment: Learning for All. Washington D.C.: The World Bank.
Mardapi, D. (2017). “Evaluasi Kurikulum: Teori dan Praktik.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 22(2), 123-134.
Kemendikbudristek. (2021). Panduan Impl
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
