Post-Kebenaran: Dunia Tanpa Fakta, Hidup Tanpa Makna
Kolom | 2025-05-07 10:27:14Dulu, manusia mencari kebenaran. Kini, manusia menyusun kebenaran. Dunia tidak menanti fakta untuk berbicara. Fakta tenggelam dalam riuhnya opini yang saling bersahutan. Opini paling viral dan banyak penggemarnya yang menang. Di era post-kebenaran (post-truth) emosi lebih kuat daripada logika. Narasi lebih memikat daripada bukti. Kesaksian manusia dikalahkan oleh data dan algoritma yang disusun untuk menyesuaikan keinginan.
Kebenaran tidak lagi kokoh pada pondasi fakta. Namun mengambang di atas gelombang persepsi. Di media sosial, satu unggahan yang menggugah perasaan bisa mengalahkan laporan investigatif bertahun-tahun yang akurat. Kita hidup dalam dunia yang tidak menilai benar atau salah berdasarkan substansi. Tetapi berdasarkan seberapa banyak yang menyukai, membagikan dan mempercayainya.
Para pemikir seperti Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai zaman “liquid modernity” (2000). Semua hal menjadi cair, termasuk nilai dan kebenaran. Tidak ada lagi yang benar-benar tetap. Apa yang hari ini dianggap benar bisa dianggap sesat esok hari. Semua tergantung suasana kolektif dan aliran arus digital. Opini yang viral bisa menggantikan data. Realitas menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan dan dikomodifikasi.
George Orwell menulis novel Nineteen Eighty-Four (1949) membayangkan dunia distopia di mana bahasa dimanipulasi untuk mengontrol pikiran. Kini, kita tidak hanya memanipulasi bahasa, tapi juga memodifikasi realitas. Deepfake, berita buatan AI, judul-judul yang menipu agar diklik dan gelembung informasi pribadi membuat batas antara kenyataan dan kebohongan makin kabur. Kebenaran menjadi relatif, bahkan absurd. Kita tak tahu lagi apakah gambar yang kita lihat benar terjadi atau hanya hasil rekaan perangkat lunak.
Dalam ruang digital, setiap orang adalah produsen narasi. Demokratisasi informasi tak selalu membawa pencerahan. Justru kadang melahirkan banjir makna (meaning overflow) yang menenggelamkan makna itu sendiri.
Kita tahu banyak hal, tapi memahami sangat sedikit. Kita terhubung dengan segala hal, tapi tercerai dari kebenaran yang jernih. Kelelahan informasi menumbuhkan apatisme. Dalam kelelahan itulah, propaganda tumbuh subur. Kelelahan kognitif adalah ladang subur bagi manipulasi.
Yuval Noah Harari seorang sejarawan dan pemikir masa depan dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind (2011) mengatakan bahwa manusia tidak hidup dari fakta, tapi dari cerita. Dan ketika cerita itu dikendalikan oleh algoritma, maka arah kebenaran pun ditentukan oleh pasar. Apa yang layak dipercaya adalah yang layak dijual. Apa yang layak ditonton adalah yang layak diiklankan. Kebenaran bukan lagi diukur dari integritas, melainkan dari impresi. Yakni apa yang tampak benar, bukan apa yang sungguh benar.
Di tengah kaburnya batas antara kenyataan dan rekayasa, kita menghadapi krisis yang lebih dalam, yaitu krisis makna. Jika semuanya bisa dianggap benar, lalu apa artinya kebenaran? Jika semua suara dianggap sah, bagaimana kita membedakan kebijaksanaan dari kebisingan?
Post-kebenaran bukan hanya kondisi politik atau media, tapi juga gejala jiwa zaman. Ini menandakan manusia kehilangan kepercayaan pada pondasi yang dulu dianggap kokoh, yaitu ilmu pengetahuan, otoritas moral dan pengalaman historis. Di tengah kekacauan itu, mereka yang paling lantang bukan selalu yang paling benar. Kebenaran kini hanya menyisakan gelombang pendapat yang saling menabrak, tanpa arah dan kepastian.
Kini tugas kita bukan hanya mencari kebenaran, tapi menjaga agar kebenaran tetap mungkin untuk ditemukan. Itu hanya bisa terjadi jika kita berani menunda reaksi, menunda emosi dan bersabar dalam menyaringnya. Kita harus kembali pada disiplin berpikir, kerendahan hati untuk tidak langsung menyimpulkan dan keberanian untuk menerima bahwa yang kita yakini bisa saja keliru.
Jean Baudrillard, seorang filsuf post modern dalam bukunya “Simulacres et Simulation” (1981) pernah mengatakan bahwa di era simulasi, "realitas telah menghilang dan digantikan oleh hiper-realitas.” Sebuah dunia di mana tiruan lebih dipercaya daripada kenyataan. Krisis kebenaran pun bukan hanya tentang disinformasi, tapi tentang hilangnya orientasi eksistensial. Siapa kita, dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju.
Ironisnya, semakin canggih teknologi, semakin kabur batas antara ijazah asli dan palsu, antara reputasi dan pencitraan digital, antara prestasi nyata dan klaim digital. Verifikasi menjadi ilusi. Kecanggihan tidak menjamin kejujuran. Justru sering menjadi alat untuk menyembunyikan kepalsuan. Kebenaran menjadi urusan persepsi dan bukan lagi verifikasi.
Barangkali yang paling berbahaya dari semuanya itu adalah lupa akan batas antara benar dan salah, antara fakta dan fiksi, antara berita dan opini dan antara manusia dan mesin. Akar terdalam dari krisis adalah ketika lupa pada sumber kebenaran yang lebih tinggi. Kita pun kehilangan pijakan untuk memahami diri.
Dalam dunia yang penuh kurasi, penting sisakan ruang untuk kontemplasi. Al-Qur'an pun memperingatkan, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19). Pada akhirnya, kebenaran bukanlah sekadar data, narasi atau popularitas. Tetapi kesanggupan untuk jujur pada diri dan ingat pada sumber segala yang benar.
Pemerhati Sosial Digital dan Budaya Kontemporer
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
