
Sekeping Rindu di Tokyo
Sastra | 2025-04-02 23:45:36
Mentari pagi di Tokyo menyingsing, sinarnya yang lembut menembus celah-celah apartemen sempitku. Suara takbir sayup-sayup terdengar dari masjid "Al Mushtafa", bercampur dengan hiruk pikuk kereta yang mulai beroperasi. Lebaran di kota ini, jauh dari kampung halaman, terasa begitu asing dan mengundang rindu.
Aku, Nafil, seorang mahasiswa rantau, menatap nanar ketupat instan yang tergeletak di meja. Aroma rendang kalengan tak mampu mengusir rindu yang membuncah.
Di Indonesia, hari ini pasti ramai dengan suara takbir, aroma opor ayam, dan senyum hangat keluarga. Di sini, aku hanya sendiri, ditemani kesibukan kota yang tak pernah tidur.
Setelah salat "Id di masjid yang dipenuhi wajah-wajah asing. Sebagian besar kawan kawanku shalat di kedutaan atau di Islamic center, ada 5000 diaspora Indonesia di sini.
Aku berjalan menyusuri jalanan Tokyo. Kuamati orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa peduli pada hari istimewa ini.
Di taman, beberapa keluarga menggelar tikar, menikmati bekal sederhana. Mungkin mereka juga merasakan kerinduan yang sama.
Aku duduk di bangku taman, memandangi bunga sakura yang mulai bermekaran. Indah, tapi tak seindah senyum ibu saat menyambutku di pintu rumah. Kuambil ponsel, menelepon keluarga di kampung. Suara ibu di seberang sana terdengar bergetar, menahan rindu.
"Nafil, kapan pulang, Nak?" tanya ibu.
"Insya Allah, Bu, kalau ada rezeki," jawabku, berusaha terdengar tegar.
Setelah telepon ditutup, air mata tak bisa lagi kutahan. Aku merindukan semuanya: rumah, keluarga, teman-teman, bahkan suara petasan yang dulu sering membuatku kesal. Lebaran di Tokyo mengajarkanku arti kerinduan yang sesungguhnya.
Sore harinya, aku mengunjungi beberapa teman Indonesia yang juga merayakan Lebaran. Kami berkumpul di sebuah apartemen kecil, membawa makanan khas Lebaran yang kami masak sendiri. Ada opor ayam, rendang, dan tentu saja, ketupat instan. Suasana hangat dan akrab tercipta, seolah kami sedang merayakan Lebaran di kampung halaman.
Kami bercerita tentang keluarga, tentang kampung halaman, tentang mimpi-mimpi yang ingin kami raih. Kami tertawa, menangis, dan saling menguatkan.
Lebaran di negeri orang memang berbeda, tapi kami belajar untuk menciptakan kebahagiaan sendiri, di tengah kerinduan yang tak terelakkan.
Malam harinya, aku kembali ke apartemenku di kawasan Ginza, Tokyo kembali sunyi. Hanya suara kereta yang terdengar sayup-sayup. Aku menatap langit malam, bintang-bintang berkelip indah.
Aku tahu, di balik kerinduan ini, ada kekuatan yang tumbuh dalam diriku. Lebaran di Tokyo mengajarkanku tentang arti kemandirian, ketabahan, dan pentingnya menghargai setiap momen bersama orang-orang terkasih.
Aku berjanji pada diriku sendiri, suatu hari nanti, aku akan kembali ke kampung halaman, merayakan Lebaran bersama keluarga, dan menebus semua kerinduan ini...Aamiin...
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook