Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Edu Sufistik

Ketika Tuhan pun Berpuasa

Agama | 2025-03-06 23:22:05

Catatan Ramadhan # 06

Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

(Founder Edu Sufistik)

Ketika Tuhan pun “berpuasa”. Kata berpuasa diberikan tanda petik karena akan dimaknai secara khusus. Untuk memahaminya, kita hubungkan dengan nama-nama Allah yang terangkai dalam Asmaul Husna. Nama Allah, dalam Asmaul Husna, yang ke-99 adalah Ash-Shabuur.

Menurut Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Ilahi, Ash-Shabuur bermakna kehendak menunda sanksi. Dia yang tidak didorong oleh ketergesaan, sehingga bergegas melakukan sesuatu sebelum waktunya.

Dari penjelasan Al-Ghazali kita memahami betapa Allah Maha Sabar. Dia menetapkan diri-Nya untuk tidak langsung menghukum atas setiap pelanggaran dan kedurhakaan hamba-Nya. Dia selalu memberikan waktu bagi manusia untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, bahkan sampai sebelum ajal tiba.

Bayangkan jika Allah langsung menghukum atas setiap pelanggaran dan kedurhakaan kita. Bisa jadi kita akan binasa semua karena demikian banyak dan sering pelanggaran dan kedurhakaan yang kita lakukan dan katakan. Allah yang “menahan” diri-Nya untuk tidak lekas menghukum hamba-Nya, inilah yang dalam Bahasa Emha Ainun Najib, Allah pun “berpuasa”. Karena, esensi dari berpuasa adalah kemampuan menahan dan mengendalikan diri.

Pelajarannya adalah jika Allah yang tidak membutuhkan kepada apa dan siapapun, yang jika semua manusia dan jin durhaka tidak mengurangi sedikitpun kebesaran dan keagungan-Nya, yang jika semua manusia dan jin taat beribadah, tidak menambah sedikitpun kebesaran dan keagungan-Nya, menetapkan diri-Nya untuk “bersabar” agar manusia memiliki kesempatan memperbaiki kesalahan dan kekhilafannya. Tentu saja manusia yang eksistensinya membutuhkan kepada sesama dan alam semesta, harusnya menampilkan sikap sabar dan menahan diri agar perkataan dan perbuatannya tidak berakibat kerugian bagi oranglain dan kerusakan bagi alam.

Bukankah kekacauan, kejahatan, kerusakan terjadi akibat sebagian manusia gagal menahan dan mengendalikan hawa nasfsunya? (QS. 30: 41). Mereka memperturutkan ambisi dan keserakahan hawa nafsunya. Mereka tidak peduli ambisi dan keserakahannya bisa berakibat kerugian, kekacauan, dan kerusakan. Mereka tidak sadar bahwa pada hakikatnya semua perbuatannya akan kembali kepada dirinya sendiri (QS. 17: 7). Kalaupun di dunia mereka luput, maka di akhirat pasti kalang kabut.

Oleh karena itu, meneladani nama Allah Ash-Shabuur adalah kita melatih diri untuk bersikap sabar dalam menjalani dan merespon dinamika kehidupan. Tahukah kita ternyata balasan bagi orang yang sabar adalah pahala tanpa batas (QS. 53: 10). Puasa sejatinya melatih jiwa kita bertransformasi menjadi orang-orang yang sabar. Orang-orang yang memiliki pengendalian dan kontrol diri yang baik.

Wallaahu a’lam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image