
Cinta dalam Diam
Sastra | 2025-02-21 07:19:48
Bertambahnya usia, membuat ibu bertanya-tanya urusan jodoh. Simple saja, Wulan tidak masalah jika usianya bertambah yang saat ini telah berkepala tiga. Mau empat puluh juga tidak apa-apa. Namun, hal paling tidak nyaman adalah pertanyaan-pertanyaan paling ia benci, paling ia hindari, karena hidup ini tidak bisa dikatan enteng saja dengan omong manusia, apalagi jika ibu yang mengatakan.
"Kapan nikahlah, kapan dapat jododhlah, emang aku hidup tidak bertuhan. Semua ini kan takdir. Pusing aku." Ucapnya dalam hati.
Suatu hari, saat siang pukul dua, dari arah dapur ibu memanggil. Agak lain memang raut wajahnya. Wulan merasa biasa aja. Ia yang baru saja mengambil air wudhu, akhirnya mengurungkan diri masuk ke kamar untuk shalat. Ia menduhulukan ibunya agar mendengar apa yang dikatakan.
"Apa buk." Wulan bertanya dengan wajah datar.
"Ada yang suka sama kamu."
Wulan mengerutkan dahinya. Wajah bingung dan penasaran.
"Hah siapa Bu?"
"Kata abangmu, dia bekerja satu kantor dengannya."
"Siapa Bu?"
Tiba-tiba suara keponakan Wulan terdengar dari kamar, karena ibunya sedang shalat, Wulan berlari menuju kamar. Lalu, ibu datang menghampiri.
"Tapi dia sudah menikah, dan berpisah dengan istrinya. Anaknya dua."
"Iya Bu, tapi siapa. Maksud Wulan itu, apakah saya kenal."
"Engga tahu, abangmu enggak bilang secara detail. Katanya cuma itu."
Wulanpun izin shalat dan meminta ibu menjaga Sofyan. Dalam doanya, ia berharap yang terbaik. Tidak ingin bersama hal-hal yang membuatnya sakit hati. Dulu, Wulan memiliki pacar berprofesi dokter. Cukup lama mereka menjalin hubungan, karena soal pekerjaan, lelaki itu harus bekerja jauh di luar kota. Sayang, kesetiaan mengujinya. Perawat cantik telah memikat hatinya, sehingga pacar Wulan berselingkuh saat mereka masih terikat. Lima tahun berpacaran adalah hubungan lumayan lama, Wulan menjaga diri dari berbagai godaan. Tetapi, pacarnya malah main dua. Wulan tidak mau kembali. Namun, maaf telah ia beri dengan lapang dada.
Tidak lama kemudian, sebuah chat masuk ke handphonenya.
"Assalamualaikum Wulan." Sapa seseorang lewat aplikasi WhatsApp. Di foto profilnya sosok lelaki yang pernah ia temui untuk mengantar berkas abangnya yang tertinggal di rumah lima bulan lalu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook